Kendali — Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak hanya menjadi momen penghormatan terakhir bagi sosok yang memimpin Republik Islam Iran selama puluhan tahun, tetapi juga menyita perhatian dunia karena simbol-simbol religius yang ditampilkan dalam acara tersebut.
Mengutip laporan Middle East Eye pada 5 Juli 2026, pemilihan ayat itu dinilai tidak dilakukan secara acak. Setiap ayat disebut mencerminkan hubungan politik maupun diplomatik Iran dengan delegasi yang hadir dalam prosesi pemakaman.
Salah satu momen yang paling banyak diperbincangkan adalah ketika delegasi Arab Saudi yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Walid Al-Khuraiji maju memberikan penghormatan terakhir di hadapan peti jenazah Khamenei. Pada saat itulah qari Iran melantunkan Surah Ali Imran ayat 13, sebuah ayat yang merujuk pada Perang Badar, kemenangan pertama kaum Muslim yang memperoleh pertolongan Allah meski berhadapan dengan pasukan yang jauh lebih besar.
Ayat tersebut berbunyi:
“Sungguh, telah ada tanda bagimu pada dua golongan yang bertemu dalam pertempuran. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir…. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. Ali Imran: 13)
Dalam Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, ayat ini merujuk pada Perang Badar pada tahun kedua Hijriah, ketika kaum Muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit memperoleh kemenangan atas pasukan Quraisy berkat pertolongan Allah.
Peristiwa tersebut segera menjadi sorotan karena Iran ternyata tidak membacakan ayat yang sama kepada seluruh tamu negara. Menurut laporan Middle East Eye yang dikutip detikHikmah, setiap delegasi asing disambut dengan ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda, yang dinilai mencerminkan hubungan politik maupun diplomatik Teheran dengan masing-masing negara atau kelompok.
Misalnya, delegasi Qatar dibacakan Surah Al-Fath ayat 2, yang dipahami sebagai bentuk apresiasi atas hubungan baik dan dukungan Doha kepada Iran. Delegasi Turki disambut dengan Surah An-Nisa ayat 95 yang berbicara tentang keutamaan berjihad dengan harta dan jiwa. Sementara Pakistan mendapat Surah Ali Imran ayat 200, Hamas dibacakan Surah Al-Ahzab ayat 23, Hizbullah memperoleh Surah Ali Imran ayat 139–140, sedangkan delegasi Houthi mendapat Surah Al-Fath ayat 29.
Khusus bagi delegasi Arab Saudi, pemilihan Surah Ali Imran ayat 13 memicu beragam tafsir. Sebagian pengamat menilai ayat tersebut bukan dipilih secara kebetulan, melainkan memiliki simbolisme yang kuat. Selain mengingatkan pada kemenangan awal umat Islam dalam Perang Badar, ayat itu dipandang dapat dimaknai sebagai pesan bahwa kemenangan berpihak kepada mereka yang bertahan dalam perjuangan meskipun berada dalam posisi yang lebih lemah.Bukan Kebetulan? Iran Pilihkan Ayat Badar untuk Delegasi Saudi di Pemakama
Dalam konteks geopolitik saat ini, sebagian analis melihat pesan itu berkaitan dengan upaya Iran menampilkan diri sebagai negara yang tetap mampu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel. Pada saat yang sama, Arab Saudi selama konflik terakhir dipandang tetap mempertahankan hubungan strategis dengan Amerika Serikat, meskipun sikap resminya disampaikan secara lebih hati-hati. Karena itu, pembacaan ayat tersebut dinilai memiliki makna yang berlapis: dapat dipahami sebagai penghormatan terhadap sejarah Islam, sekaligus—menurut sebagian pengamat—sebuah isyarat diplomatik yang halus. Namun, hingga kini tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang menyebut bahwa ayat tersebut dimaksudkan sebagai sindiran kepada Arab Saudi, sehingga berbagai penafsiran tersebut tetap berada pada ranah analisis.
Arab Saudi sendiri merupakan salah satu dari lebih dari 100 negara yang mengirimkan delegasi ke pemakaman Khamenei. Kehadiran Riyadh menarik perhatian karena hubungan kedua negara selama bertahun-tahun diwarnai rivalitas geopolitik, sebelum akhirnya kembali membuka hubungan diplomatik melalui kesepakatan normalisasi pada 2023. Di sisi lain, Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat tidak mengirimkan delegasi ke prosesi tersebut.
Dengan demikian, prosesi pemakaman Khamenei tidak hanya menjadi upacara kenegaraan dan keagamaan, tetapi juga panggung diplomasi simbolik. Pilihan ayat Al-Qur’an yang berbeda untuk setiap delegasi menunjukkan bagaimana simbol-simbol keagamaan digunakan dalam komunikasi politik Iran kepada para tamu asing. Apakah ayat yang dibacakan kepada delegasi Arab Saudi merupakan sekadar pengingat akan sejarah Islam atau mengandung pesan politik yang lebih dalam, hingga kini belum pernah dijelaskan secara resmi oleh Teheran.













