Opini

Melawan Sepakbola Rap Rap..

15
×

Melawan Sepakbola Rap Rap..

Sebarkan artikel ini
Para pemain tim nasional Prancis berfoto bersama dalam perjalanan menuju pertandingan Piala Dunia 2026. Hingga fase gugur, Les Bleus tampil meyakinkan dengan lini serang produktif dan organisasi permainan yang solid. Foto : (IG/ Équipe de France de Football).

Asghar Saleh (Penulis)

Kendali- Orang ramai menyebut banyak kejutan di Piala Dunia kali ini, terutama yang berhubungan dengan kekalahan beberapa tim yang diunggulkan karena sejarah. Mereka lupa kalo sepakbola sudah berkembang maju melintasi benua, masuk ke wilayah-wilayah yang dulu tak dikenal.

Menurut saya tak ada kejutan. Justru kekalahan Jerman misalnya sangat wajar mengingat banyaknya kontraversi mulai dari pemanggilan pemain, mentalitas, visi bermain, dan sikap keras Nagelsmann yang selalu merasa benar sendiri. Jerman saat ini dalam kekacauan karena Jonathan Tah justru dibully dengan serangan rasis sebagai pemain hitam dan muslim, padahal Tah berani mengambil pinalti saat Gorezkha yang diminta dua kali oleh kapten Kimmich menolak. Braun, Thiaw, dan Anton ragu-ragu.

Jerman runtuh karena arogansi sendiri. Saat pemain tersisa menolak melakukan tendangan pinalti setelah Neuer memaksa skor 3-3, yang terjadi bukan soal mentalitas semata. Tapi ada lubang besar tekhnis di situ. Tim tidak pernah latihan adu pinalti. Pemain tidak siap. Tak ada bayangan Paraguay akan melawan begitu hebat.

Sudah lama sepakbola Jerman berkiblat pada sejarah empat bintang tanpa memikirkan arah pembinaan pemain muda. Klub juga sama. Di klub paling hebat – Bayern Muenchen malah menghasilkan predator tangguh seperti Harry Kane, Michael Olise, dan Luiz Diaz. Tak ada pemain Jerman di sana. Kimmich yang terbiasa mengatur malah diparkir ke posisi full back kiri.

Belanda? Mencoret seorang Tijjani Reijnders hanya karena Ia sempat menyebut dulu terbesit keinganan memperkuat Indonesia sesuai garis keturunannya, lalu memainkan lima bek adalah penghianatan terhadap total football yang jadi identitas Oranje. Belanda yang indah tiba-tiba jadi kaku dan berorientasi adu pinalti.

Yang juga patut didiskusikan adalah format kompetisi yang memberi bonus 8 tim peringkat tiga terbaik – ini telah merusak level kompetisi. Beberapa pertandingan terkesan “diatur” agar aman. Tim yang lolos di babak knock out kemudian memainkan sepakbola Rap-Rap. Istilah ini populer jaman perserikatan dulu saat tim dari Sumatera Utara mengandalkan fisik dan “kekerasan” selama pertandingan. Lihat Uruguay saat lawan Spanyol.

Sepakbola Rap-Rap juga berorientasi pada adu tendangan pinalti. Apapun caranya dilakukan. Low block, menumpuk pemain bertahan, dan biar Tuhan yang menentukan siapa yang lolos saat adu pinalti. Inggris berpotensi menghadapi situasi ini. Argentina juga dalam ancaman yang sama. Di 16 Besar, Perancis jangan sampai terpeleset.

Sejauh ini, Perancis dan Brazil sudah menunjukan kelasnya sebagai kandidat serius untuk juara kali ini. Brazil melewati hadangan Jepang dengan sepakbola indah. Ancelotti adalah master. Diam dan bekerja tanpa berharap algoritma akan membuatnya populer.

Perancis? Saya pernah menulis jika tim ini punya lini serang paling mewah. Deschamps juga sangat jago lakukan pendekatan taktikal dan mengeksplor kemampuan pemain bintangnya. Siapa menduga Olise akan demikian dominan bermain di lini tengah dengan menyumbang 5 assist.

Dua tahun lalu, anak muda ini masih bermain untuk Crystal Palace di Inggris. Tak ada yang menyebut namanya. Yang saya ingat adalah gol spektanya lewat tendangan bebas ke gawang MU.

Pindah ke Munchen bikin Ia berkembang jadi sayap paling berbahaya dengan cutting inside yang berujung gol. Dan Deschamps menaruhnya di belakang Mbappe. Evaluasi dan solusi jenius karena di partai perdana Perancis, posisi ini ditempati Dembele dan jadi salah satu titik lemah.

Saat mengalahkan Swedia yang punya skuad dari berbagai liga top Eropa, Mbappe, Olise, Dembele, dan Barcola menari bebas. Rotasi mereka cair dan indah. Doue, Cherki, dan Mateta masuk tak mengubah yang indah itu. Tchouameni dan Rabbiot mengendalikan lini tengah, Saliba dan Upamecano jadi kastil Perancis yang sulit ditembus.

Brazil dan Perancis melawan sepakbola Rap-Rap dengan keindahan. Maroko mengikuti di belakangnya. Argentina dan Spanyol butuh lawan sepadan untuk membuktikan yang indah itu. Begitu juga dengan Portugal.

Jangan sampai keindahan sepakbola yang menghibur kalah sebelum waktunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *