Opini

Mereka yang Malas Membaca Adalah Mereka yang Paling Rajin Berkomentar

19
×

Mereka yang Malas Membaca Adalah Mereka yang Paling Rajin Berkomentar

Sebarkan artikel ini
Teguh Barakati penulis Lepas

Teguh Barakati : Penulis Lepas

orang akan terus sibuk berkomentar dimana saja, kapan saja, terus tumbuh majemuk, tapi bisa jadi mereka tidak menemukan apa-apa selain kekosongan waktu, Martin Haider menyebutkan Rutinitas Banal – Rutinitas Tanpa makna

Pernahkah kita bertemu dengan orang yang paling menyebalkan yang kerjaannya hanya berkomentar, kalau ada sesuatu kejadian dia berkomentar, kalau ada kejadian itu dia berkomentar, pokoknya pekerjaannya komentar. Orang-orang seperti ini biasanya adalah mereka yang haus validasi, dan biasanya yang paling malas membaca, biasanya kita menemukan mereka paling banyak di Tiktok, Facebook, Instagram dan suatu tempat tongkrongan, gawatnya kita juga ikut menikmatinya.

Saya mencoba menghubungkan bagaimana budaya komentar itu menjadi tren grafik yang terus naik. Misalnya postingan Sosial Media Ibu Gubernur Maluku Utara, atau Gubernur Jawa Barat, dalam satu kali postingan ratusan komentar menghampiri begitulah cara algoritma mendesain otak kita.

Komentar itu beragam ada yang positif ada juga negatif, tidak masalah. Kalau hari ini budaya komentar itu menjamur semisal dalam kondisi saat ini Piala Dunia, ramai orang-orang berkomentar mereka beradu taktik, siapa tim mereka yang paling jago, paling bisa dipercaya, pada saat itu juga ribuan komentar berkeliaran di mana mana di Cafe, Facebook, tiktok, atau WA, bahkan lebih jauh di ruang ruang kerja, sepak bola piala dunia mendadak menjadi agama baru.

Tidak menjadi persoalan atas itu, karena kita memaknainya sebagai hiburan, sepak bola menjadi ruang dialog, ia merehatkan para pekerja, dan berbagi untuk para atlet, kita menjadikan itu sebagai budaya, hanya saja budaya itu tidak diajak sebagai ruang dialog, sebagai ruang mufakat kadang ia berakhir sebagai rameang yang menimbulkan gejala gesekan sosial, dan bagi saya semua itu dimulai dari komentar.

Di Maluku Utara Sepak Bola seperti agama baru, tapi ia tidak berlangsung lama ia datang dan pergi, seperti iman seseorang kadang naik kadang turun, dan itu kita tidak bisa menjelaskan atas relevansi dengan hari ini.

Di Ternate Piala Dunia Tahun ini 2026 Taman Film di Benteng Oranje menjadi kampung piala dunia, tempat nobar, ribuan orang berkerumun, para fans berdatangan menonton tim negara yang mereka sukai, bahkan sudah seperti negara bagian yang ikut meramaikan kemenangan negaranya.

Status sosial sepak bola ini adalah momentum yang bisa menjadi berharga bisa juga menjadi bahaya, para fans fanatik, Brazil dan Argentina misalnya di Ternate ketika dua negara ini bermain, kondisi sosial masyarakat seperti sibuk kesana kemari, para kendaraan memakai Jersey dua negara tersebut, ibu-ibu penuhi badan jalan, anak anak naik di pagar rumah, penjual es cilok di serbu pembeli, kita merasa dua negara ini kalau bermain suasana kota sedikit berubah dari biasanya.

Saya menikmatinya melihat kondisi itu, sebagai bagian dari hajatan namun pada saat yang sama ; harga bensin naik, harga tomat, rica, bawang, minyak kelapa, atau harga sembako pada naik, nilai kontras itu membuktikan bahwa Maluku Utara dijuluki sebagai masyarakat paling bahagia, apakah ada benarnya ? Entahlah.

Tapi kita sanggup berada di sana di dalam status sosial itu, kita tidak peduli dengan sumber-sumber utama primer dan sekunder, kita adalah masyarakat Lillahi Ta Ala, kita adalah masyarakat yang percaya besok pasti ada, entahlah ADA apa ?

Kita masyarakat yang spirituil ( sarkas ) kata Jason Ranti- senang memakai kopiah di khutbah Jumat tentang bagaimana mengedepankan amar ma’ruf Nahi Mungkar, tapi para kopiah-kopiah inilah yang paling banyak berhadapan dengan kasus hukum.

Identitas kultural seremonial inilah yang membekukan hegemoni di masyarakat, akhirnya masyarakat sibuk sekali menjadi ahli komentar sana-sini, menjadi Messi menjadi Ronaldo, pada saat yang sama mereka mengalami dekadensi moral, mengalami turbulensi spirituil.

Komentar panjang dari tulisan ini sebenarnya hanya ingin menghubungi ribuan komentar yang lain, kita sedang masuk era baru demografi yang kecenderungan masyarakat senang melipatkan budaya sosial menjadi sempit, orang akan terus sibuk berkomentar dimana saja, kapan saja, terus tumbuh majemuk, tapi bisa jadi mereka tidak menemukan apa-apa selain kekosongan waktu, Martin Heidegger menyebutkan Rutinitas Banal – Rutinitas Tanpa makna. Semoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *