Opini

Anatomi Dalam Lirik Lagu Hikayat Moloku Kie Raha

13
×

Anatomi Dalam Lirik Lagu Hikayat Moloku Kie Raha

Sebarkan artikel ini
Teguh Barakati - Penulis

Teguh Barakati – Penulis

Lagu Presiden Tidore yang berjudul Hikayat Moloku Kie Raha menjadi ajakan sebuah simbol dari kombinasi visual seni yang kaya dengan pedagogi musikal. Presiden Tidore mencoba menarasikan ruang sejarah yang tebal dalam kebudayaan yang vulgar.

Penerjemahan itu menjadi lakon yang mendapatkan hormat pagi pendengar, musiknya kaya, balutan bunyi Fiol dengan instrumen modern mampu dikawinkan tidak ada turbulensi ia bisa dinikmati kapan saja.

Dalam liriknya Presiden Tidore membuka dengan lead sebutan nama Syekh Ja’far Sadik dan Boki Nursafa sebuah manuskrip sejarah Maluku Utara yang sudah melegenda, lirik-lirik itu menjadi pembuka alarm dari sebuah falsafah tua, tidak sampai sini, Presiden Tidore juga banyak menyebutkan dalam liriknya seperti Bendera Buldan, Borero, Salai Jin, dan pedang mata dua, pada tingkatan lebih jauh Presiden menyebutkan empat kerajaan yaitu ;

Tidore Kie ma Kolano

Jailolo Jiko ma Kolano

Bacan Dehe ma Kolano

Ternate Alam ma Kolano

Jailolo Syariat

Tidore Tarekat

Bacan Hakekat

Dan Ternate Makrifat

Turunan dari hikayat dalam lirik-lirik lagu ini menempatkan kisah ini dalam sebuah dimensi mistikal suatu mistisisme spiritualitas, dalam beberapa dokumentasi Presiden Tidore ia memang sering mengunjungi tempat-tempat keramat para leluhur di Maluku Utara, tetapi – ada tapinya, bukan ini lantas menjadi penjelasan bahwa ia bagian dari sebuah naskah lirik yang dipakai sebagai tindakan spiritualitas, bisa jadi ia hanya menjelaskan dalam pemaknaan kebudayaan bukan secara spiritualitas.

Pada seni yang ditulis oleh Fischer Dieskau ia bilang sebuah pemaknaan lagu harus dimulai dari jiwa, dari jiwalah baru ia bisa melengkapi lagu, bahasa tubuh, ekspresi, bahkan penghayatan, sisi lain visual hanyalah bumbu dalam lagu, mungkin dalam lirik lagu Presiden Tidore kita bisa menemukan penemuan lirik sejarah dan spiritualitas, tapi sekali lagi, bisa jadi ia hanya kata bagi pendengar, jika ia benar-benar mendalami, kemungkinan lagunya akan menjadi dimensi bunyi yang memiliki nyawa, mantra yang kuat.

Lirik, suara, dan visual mampu bersetubuh dengan baik, ia anak rahim yang sah secara kreativitas, ia mampu memunculkan sebuah genre Hip-Hop yang melokal dengan pendengar berskala global. Bukti ini dilihat dari logo kementerian Ekraf pada pembuka video klip lagu ini, cerminan itu, bukan sebuah alasan berkarya, Presiden Tidore benar-benar dipantau oleh para seniman yang fokus pada Etnomusikologi.

Lagu ini ditulis pada tahun 2023 yang termasuk dalam album keduanya, imajinasi yang tuliskan olehnya tergolong liar, apakah lirik berbasis riset atau memakai pola simbolik kejayaan Moloku Kie Raha, nostalgia religius itu tampak serius, tidak dibuat-dibuat, ia sering memakai diksi otentik dan meski pada beberapa teks terkesan imajiner, tidak berbentuk fakta.

Presiden selalu tampil berbeda dan unik, berbeda karakter dengan industri dunia Hip-Hop seperti Zein-Panzer, K3bi, Muria, atau lainya yang tergolong seangkatan Hip-Hop yang tidak jauh berbeda dalam perjalanan berkarya mereka.

Narasi dalam video klip Presiden Tidore memiliki sinematik dan komposisi warna yang mencerminkan identitas Maluku Utara, keindahan dalam video klip tersebut tercermin dengan rapi, video tersebut terlihat serius di kerjakan, mengambil syuting di empat kerajaan, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Mesti demikian, kita akan selalu bertanya keindahan itu sebagai ruang simbolik yang terbalik, bisa jadi semua sinematik narasi yang kuat itu adalah bagian dari otokritik imaji.

Tulisan ini sebenarnya hanya mengulas secara diksi, bagaimana lirik, musik, dan visual tidak berhenti sampai di pendengar, tapi kita perlu berlayar dari masa lalu, hari ini dan esok, Presiden Tidore sedang mengajak kita bernostalgia lewat kreativitas, dari lembaran sejarah yang tebal, dipersingkat melalui bunyi dan lirik, namun semua itu menjadi komposisi, bagaimana kita merapikan nostalgia masa lalu dengan kondisi keadaan hari ini?

Bisa di bilang, ia termasuk musisi yang serius berkarya, tidak terganggu dengan algoritma, hanya saja dalam sesi tertentu ia termasuk musisi hip-hop yang kelapa batu, susah di atur, ruang karyanya memiliki kepekaan mesti kadang-kadang mengalami distorsi, tapi ia melanjutkan dan sampai pada pendengarnya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *