Oleh : Asghar Saleh – Penulis
Apa yang paling diingat terkait pertemuan historis Inggris vs Argentina? Gol “tangan tuhan” Maradona disusul gol spektanya melewati 5 pemain Inggris di Meksiko 1986 atau kontroversi pengusiran David Beckham di Perancis 1998? Yang pasti ini bigmatch dua tim yang sudah “berdarah-darah” di fase knock out Piala Dunia kali ini.
Inggris jadi juara grup dengan dua kemenangan dan satu seri. Di babak gugur, mereka harus berjuang meredam perlawanan Kongo. Lalu bermain dengan 10 orang di babak kedua untuk menundukkan tuan rumah Meksiko. Terakhir, Harry Kane dkk menyingkirkan Norwegia setelah lebih dulu tertinggal di bawah tekanan suhu panas sepanjang laga.
Argentina juga nyaris sama. Meraih tiga kemenangan meyakinkan di fase grup, Lionel Messi dkk harus berjuang mengeluarkan semua kemampuan terbaik untuk mengalahkan Tanjung Verde di babak 32 Besar. Mesir sempat unggul 2-0 sebelum dikalahkan 3-2 dan terakhir mereka bermain dengan “kesulitan” yang hampir sama saat menyingkirkan Swiss.
Saya menonton semua pertandingan kedua tim dari fase grup. Dalam 6 laga itu, Inggris dan Argentina selalu bermain terbuka. Inggris mengandalkan skema 4-2-3-1 dan Argentina konsisten dengan 4-4-2 diamond. Inggris bikin 13 gol dan Argentina 17 gol. Keduanya sama-sama kebobolan 6 gol. Keduanya juga belum pernah melawan tim dari peringkat 10 FIFA.
Perbedaan dalam urusan gol adalah distribusi. Gol-gol Argentina tidak hanya tergantung pada satu pemain. Benar Messi bikin 8 gol tetapi 8 gol lainnya disumbang 7 pemain berbeda ditambah satu gol bunuh diri lawan. Ada Lautaro Martinez yang bikin 2 gol dan Julian Alvarez juga sudah membuka kran golnya.
The Three Lions sejauh ini sangat bergantung pada duet Harry Kane dan Jude Bellingham. Keduanya menyumbang masing-masing 6 gol sepanjang turnamen. Satu gol tambahan dibikin oleh Marcus Rashford. Apakah Inggris akan lebih mudah “dikunci” jika Kane dan Bellingham dimatikan? Belum tentu juga.
Satu hal penting dari aspek taktikal yang selalu dilakukan oleh Scaloni maupun Tuchel terutama di babak knock out adalah memanfaatkan pergantian pemain. Opsi ini jadi pilihan taktikal entah untuk menambah daya gedor tim atau memperkuat pertahanan. Statistik keduanya menunjukan trend yang sama terutama di babak kedua.
Inggris melakukan 4 pergantian saat mengalahkan Kongo. Jumlah pergantian yang sama dilakukan saat berjumpa Meksiko. Ketika mengalahkan Norwegia, Inggris memanfaatkan semua jatah pergantian 6 pemain. Tuchel selalu mengganti pemain sayap dengan pemain sayap untuk menambah intensitas serangan. Kemudian mengeluarkan penyerang dan menggantinya dengan bek saat memilih mengamankan keunggulan.
Bagaimana dengan Argentina? Hampir sama. Saat mengalahkan Tanjung Verde, Scaloni mengganti 5 pemain. Begitu juga saat melawan Mesir. Jumlah pergantian sama dengan 5 pemain baru. Di laga 8 besar, Scaloni mengganti 6 pemain memanfaatkan semua jatah. Sama dengan Inggris, pilihan pergantian pemain dilakukan untuk menambah serangan. Saat unggul, Scaloni berpikir realistis dengan memasukan bek untuk mengamankan laga.
Mengapa Isyu ini yang saya soroti? Opsi pergantian pemain yang begitu intens menunjukan beberapa fakta. Pertama : baik Inggris maupun Argentina punya kedalaman skuad yang merata kualitasnya. Belum ada pergantian pemain yang merusak ritme tim. Kedua : pergantian pemain adalah bagian dari strategi yang sudah dipersiapkan. Disimulasi lewat latihan. Ditetapkan sebagai bagian dari game plan. Ia diatur jauh sebelum laga berlangsung. Bukan opsi dadakan.
Scaloni dan Tuchel punya level kualitas yang sama dalam hal “reading the game”. Mereka konsisten dengan skema, game plan dan struktur bermain yang selama ini dilakukan. Lihat saja susunan pemain kedua tim dalam 6 laga – tak ada formasi coba-coba. Kecuali ada pemain cedera atau menjalani hukuman.
Di latihan terakhir sebelum laga ini, Scaloni sempat mencoba skema 3-5-2 dengan memainkan tiga bek tengah – Otamendi, Martinez dan Romero untuk mengamankan gawang Dibu. Dua bek sayap – Tagliafico dan Molina – bermain fleksibel di lini tengah bersama Paredes, Mac Allistar dan Enzo Fernandez. Messi dan Alvarez tetap di depan. Jika tetap dengan 4-4-2 diamond, Otamendi akan out, gelandang jadi empat orang dengan memainkan Rodrigo De Paul sejak sepak mula.
Di kubu Inggris, saya menduga Tuchel tak banyak melakukan rotasi sebelas pertama. Pickford akan dijaga O’Reilly, Guedi, Stones dan Konza. Rice dan Anderson seperti biasa jadi double pivot. Tiga penyerang di depan mereka akan jadi milik Gordon, Bellingham dan Saka yang saya perkirakan akan bermain lebih awal menggantikan Madueke yang tampil buruk saat melawan Norwegia. Kapten Kane tetap jadi target man utama.
Kedua pelatih dan semua pemain tentu sudah saling memahami. Mempelajari semua laga tim lawan. Mengatur strategi dan kontra strategi untuk memastikan laga berjalan sesuai keinginan. Head to head akan terjadi di semua lini. Sedikit keuntungan Argentina adalah fakta bahwa mayoritas dari tim mereka bermain di Liga Inggris. Artinya, pemain-pemain Argentina paham benar gaya dan potensi lawan karena setiap pekan mereka bertemu dalam pertandingan liga.
Jika keduanya saling mengunci dan laga berjalan imbang, opsi pergantian pemain sekali lagi akan jadi pembeda. Scaloni dan Tuchel sudah mengaplikasi kemampuan ini sebelumnya. Argentina punya amunisi serang pada Lautaro, Almada, Gonzales bahkan Nico Paz atau Simeone junior. Untuk bertahan, mereka selalu memainkan Otamendi dan Montiel. Hanya lini tengah yang jarang diganti.
Inggris juga sama. Rice dan Anderson jarang keluar kecuali Rise yang kadang tak bugar. Tuchel selalu mengganti sisi flank dengan memasukkan Rashford, Madueke dan Eze. Ia juga tak segan memainkan Burn, James dan Spence jika sudah unggul. Selain taktikal, kedua pelatih juga selalu mempertimbangkan kebugaran pemain untuk rotasi.
Masalahnya ada pada momentum. Kapan pergantian dilakukan. Saya memperkirakan opsi pergantian pemain akan jadi “critical poin” di laga ini. Pemenang bisa saja datang dari pemain yang baru masuk. Begitu juga mempertahankan kemenangan kadang ditentukan oleh pemain dari bangku cadangan.
Ini laga besar yang akan dinikmati semua penikmat sepakbola modern. Pertemuan Inggris vs Argentina kadang melampaui urusan sepakbola di lapangan hijau. Ada pertarungan harga diri, luka sejarah dan dendam sebuah bangsa. Karena itu saya berharap, wasit benar-benar bertugas dengan profesional. Tekanan telah dimulai sebelum laga dengan psywar hampir semua media besar Inggris. Perkaranya berawal dari keputusan FIFA menunjuk wasit Amerika Ismael Alfath sebagai pengadil. Ini wasit yang dituding pro Messi karena bertugas di Liga Amerika dan kerap “menguntungkan” Inter Miami.
Saya percaya Argentina tak mau jadi bagian dari pusaran kontroversi yang selalu terjadi. Saatnya membuktikan sepakbola adalah permainan kolektif yang dimainkan dengan kaki dan kepala tapi dijalankan oleh otak. Inggris juga tak perlu terjebak lebih awal pada giringan opini yang akan mengeliminasi kemerdekaan sepakbola.
Satu hal yang wajib diperhatikan adalah isyu “peak performance”. Ini laga ketujuh bagi kedua tim. Perjalanan mereka juga tak mudah untuk sampai ke semifinal. Dalam sebuah turnamen dengan banyak pertandingan, menjaga perfoma tim agar tetap di puncak bukan perkara gampang. Sebuah tim kadang tersingkir karena mereka telah melewati “peak performance” itu.
Karena itu, tak peduli tim tampil ngos-ngosan di laga-laga sebelumnya – nyaris kalah, hanya imbang lawan tim yang levelnya di bawah atau menderita kesulitan sebelum menang. Yang penting puncak penampilan tetap terjaga di semifinal atau nanti di partai puncak. Inggris atau Argentina? Menurut saya kemenangan akan ditentukan oleh konsistensi bermain dan detail-detail kecil sepanjang laga. Di titik ini, faktor keberuntungan selalu jadi penguasa yang menentukan hasil laga.**













