Opini

Brazil vs Norwegia Ancelotti Jadi Pembeda

17
×

Brazil vs Norwegia Ancelotti Jadi Pembeda

Sebarkan artikel ini
Asghar Saleh - Penulis

Asghar Saleh – Penulis 

Ancelotti mengubah mentalitas 5 bintang Brazil menjadi tim pemula yang hanya akan dihargai kalo mereka mau berjuang untuk menang. Ia mengubah fantasy menjadi realitas. Menjadikan Samba sebagai tim idealis yang mau berperang untuk sebuah kehormatan.

Saya ditanya siapa pemain Brazil yang akan jadi “key player” dalam laga babak 16 Besar dini hari nanti antara Brazil vs Norwegia? Saya tidak menjawab langsung tapi memberi beberapa ulasan sebagai pengantar bigmatch yang akan berlangsung di New York New Jersey Stadium ini.

Brazil dan Norwegia sudah bermain di stadion termegah di Amerika ini. Brazil imbang dengan Maroko dan Norwegia menang atas Senegal. Artinya kedua tim “terbiasa” dan sejatinya laga ini jadi persiapan paling pantas untuk partai final di tempat yang sama 19 Juli nanti.

Brazil terutama Carlo Ancelotti cepat belajar dari situasi di laga pertama. Samba bermain tanpa arah. Penyebab utamanya adalah sosok Igor Thiago sebagai ujung tombak yang panen kritikan karena gagal bermain impresif. Cedera Raphinha juga membuat Brazil jadi pincang.

Tapi Brazil punya Don Carlo. Ini sosok paling penting dan berpengaruh di tim. Ia tak suka pamer, fokus menganalisa dan menyiapkan tim. Selalu respect pada lawan dan saat laga berjalan, kejeniusannya selalu mengubah taktikal untuk mendapatkan hasil akhir yang terbaik.

Carlo Ancelotti adalah pemegang 5 gelar juara Champions di level klub. Kiprahnya di kompetisi Eropa bersama Milan – sebagai pemain dan pelatih – dan terutama Real Madrid sangat sulit disamai oleh pelatih manapun. Ia sukses di kompetisi domestik. Juara di Italia bersama Milan, di Inggris bersama Chelsea, di Jerman bersama Bayern Muenchen, di Perancis bersama PSG dan bersama Madrid berjaya di Spanyol. Lima negara dengan kultur sepakbola berbeda dan level kelas atas ditaklukkan tanpa arogansi berlebihan.

Pengalamannya menangani tim dengan banyak pemain bintang membuat Ia jadi sosok yang sangat dihormati. Ruang ganti mutlak dikuasai. Dalam sebuah wawancara, Don Carlo mengakui jika sosok pelatih yang diakui sebagai “guru” baginya hanya Sir Alex Ferguson. Fergie telah menyiapkan tim untuk menghadapi lebih dari 2000 pertandingan.

Berapa banyak persiapan yang dilakukan Don Carlo saat melatih timnya menghadapi lawan-lawan dengan banyak latar kompetisi yang berbeda? 1400 laga kawan. Ini menjustifikasi posisi Ancelotti sebagai seorang master.

Dan Brazil beruntung memilih dia. Beruntung karena Ancelotti membawa “ketenangan” untuk karir profesionalnya yang pertama sebagai pelatih Timnas Nasional. Saya menyebut sosok ini sebagai “kunci sukses”.

Sejak juara di Korea Jepang 2002, sudah 5 Piala Dunia dilalui Brazil dengan buruk. 24 tahun tanpa gelar. Hanya di 2014 Samba sempat dijagokan sebelum dipermalukan Jerman dan berakhir di urutan 3.

Apa penyebab utama? Menurut saya Brazil terjebak pada nama besar dan simbol 5 bintang yang membuat ego jadi nomor satu. Merasa paling hebat.

Brazil dalam periode itu juga melahirkan banyak bintang besar, tapi menyatukan mereka seperti air dan minyak. Ruang ganti tak pernah nyaman. Belum lagi tekanan media. Dan karena sepanjang periode ini, pelatih Timnas selalu orang Brazil – mereka gagal keluar dari tekanan itu. Brazil masih mengandalkan “jogo bonito” yang menghipnotis dunia 4-5 dekade lalu saat sepakbola di belahan dunia yang lain masih dimainkan buruh dan pekerja serabutan.

Di era ketika sepakbola kian profesional dan semuanya berbasis “sport science” Brazil butuh sosok yang paham bahwa kemenangan harus dimulai dari ketenangan ruang ganti. Dari pendekatan profesional yang sama kepada semua pemain. Dari analisa data yang diubah jadi game plan. Saat Ancelotti datang, hasil ujicoba tak meyakinkan sampai ditahan Maroko – kritik datang dari berbagai arah. Namun Ia tetap tenang. Fokus pada game management sendiri. Ia punya keyakinan. Sesuatu yang diperoleh dari pengalaman panjang sebagai pelatih.

Kebijakan terhadap Neymar – bintang besar yang cedera jadi proyek pertama Don Carlo.

Neymar tetap dibawa tetapi lebih sebagai motivator yang dihormati. Ancelotti bicara padanya. Bicara pada semua pemain bahwa dirinya adalah satu-satunya kapten kapal yang bertanggung jawab. Ia tak mau berdebat dengan polemik media yang diburu algoritma. Ia menganggap Vini dkk sebagai anaknya yang harus dilindungi. Diarahkan untuk sebuah sukses.

Ancelotti mengubah mentalitas 5 bintang Brazil menjadi tim pemula yang hanya akan dihargai kalo mereka mau berjuang untuk menang. Ia mengubah fantasy menjadi realitas. Menjadikan Samba sebagai tim idealis yang mau berperang untuk sebuah kehormatan.

Setelah itu baru kita bicara sedikit tentang taktikal. Saya meyakini Brazil tidak akan mengubah banyak “starting eleven” dalam laga melawan Norwegia. Penjaga gawang masih tetap milik Allison Becker. Empat bek sejajar kembali ke mereka yang dipercaya melawan Jepang. Duet bek tengah jadi milik Marquinhos dan Gabriel diapit Danilo dan Douglas Santos.

Kehilangan Paqueta yang cedera diubah jadi berkah. Gabi Martinelli akan main sejak awal. Mengapa Gabi? Ia tipikal gelandang yang mau berlari dengan penguasaan bola. Bukan type yang memberi umpan dan pengendalian ruang. Lihat golnya saat lawan Jepang.

Kehadiran Gabi menurut saya memberi dua dampak langsung bagi game plan Brazil. Ia akan memberi banyak ruang bagi Vini untuk masuk ke dalam dan pertukaran posisinya yang cair dengan Matheus Cunha jelas membingungkan lini pertahanan Norwegia. Cunha bisa bebas bertukar posisi dengan Vini ataupun sedikit turun ke belakang untuk membuka “space” bagi Gabi.

Casemiro dengan banyak pengalaman bersama Bruno Guimaraes akan diminta sedikit menahan diri untuk menjaga kedalaman. Jika ada Paqueta, Bruno lah yang terbiasa ekspansif. Kali ini ruang itu akan jadi milik Gabi.

Don Carlo juga akan menggunakan skema 4-4-2 diamond. Vini dan Cunha diberi kebebasan bergerak. Ancelotti paham benar kelebihan Vini. Jika sebelumnya dalam skema 4-3-3, Vini bermain sebagai sayap kiri ortodoks dan hanya bertugas melewati bek sayap untuk melakukan crossing – Vini kini diminta masuk ke kotak penalti atau bergerak aktif di belakang bek lawan.

Di level Piala Dunia, semakin banyak pemain di kotak penalti lawan saat tim menyerang maka persentase gol akan meningkat. Di moment tertentu akan ada Vini, Cunha dan Gabi di depan gawang Norwegia. Tempat kosong di sisi kiri akan diisi oleh Santos yang bergerak naik. Skema 4-4-2 diamond ini hanya menyisakan Rayan di kanan yang bergerak statis. Anak muda 19 tahun ini makin matang secara emosi dan paham apa yang harus dilakukan untuk menghadapi low block Norwegia.

Dari materi pemain dan kedalaman skuad, Brazil Saya unggulkan untuk menang. Tapi sebagaimana selalu saya tuliskan – materi dan sejarah tidak membantu. Kemauan untuk menang dan bermain sebagai sebuah tim adalah “harga mati”.

Brazil punya beban sejarah yang tak kecil dihadapan Norwegia. 4 pertemuan keduanya berpihak pada “Vikings”. Dua kali mereka menang dan dua kali imbang. Kemenangan Norwegia paling sensasional terjadi di laga terakhir grup A Piala Dunia 1998. Bebeto dkk kalah 2-1. Kekalahan yang ditandai sebagai sikap keras kepala pelatih Tite saat itu yang ngotot bermain indah.

Di laga besok – ada sosok yang bermain untuk Norwegia saat mengalahkan Brazil 28 tahun lalu. Namanya Stale Solbakken. Ia pelatih Norwegia yang paham benar kekuatan dan kelemahan Brazil.

Solbakken tak punya pilihan lain kecuali memainkan skuad terbaik. Mereka telah memilih Brazil sebagai lawan sejak awal. Norwegia merasa lebih nyaman melawan tim Amerika Latin dan karena itu mereka memainkan pemain cadangan untuk kalah dari Prancis di laga akhir grup. Dengan posisi runner up grup, Vikings terhindar dari braket Eropa yang mengerikan karena ada Spanyol, Portugal dan Perancis.

Norwegia mengandalkan kolektivitas dengan struktur bermain low block. Cenderung menunggu untuk lakukan serangan balik cepat yang mematikan. Erling Haaland di lini serang Vikings adalah kualitas nomor satu. Postur tinggi besar dengan gerakan cepat, penguasaan bola nyaris sempurna dan finishing yang teruji di Liga Inggris membuat Brazil kudu waspada.

Duel satu lawan satu dengan Gabriel seperti saat City bentrok dengan Arsenal akan jadi menu utama. Haaland mengakui Gabriel adalah bek yang paling Ia benci. Punya kualitas, konsisten menjaga dan matanya tak pernah lepas dari lawan. Gabriel suka “berkelahi”. Tak ada kompromi.

Haaland mesti diisolasi. Koneksinya “Gooners” dengan kapten Martin Odeegard mesti diputus selama laga. Begitu pula dengan bola crossing dari dua sayap cepat Vikings – Alexsander Sorloth dan Antonio Nusa.

Dengan skema 4-3-3, Solbakken akan memainkan dua gelandang jangkar yang berbeda fungsi. Patrick Berg akan menjaga kedalaman dengan berdiri statis di depan lini pertahanan. Sementara Sander Berke akan jadi jembatan untuk menghubungkan lini per lini. Transisi lini tengah Norwegia terbilang cepat. Menjadi menarik perang di lini krusial ini antara Casemiro dkk melawan Odegaard dkk.

Di belakang, untuk melindungi kiper Sevilla – Nyland, empat bek sejajar yang selalu bermain dalam empat laga sebelumnya di Piala Dunia kali ini akan masuk sejak sepak mula. David Moller Wolfe di kiri dan Marcus Pedersen di kanan akan mengawal dua bek tengah Vikings – Torbjorn Heggem dan Kristoffer Ajer.

Norwegia harus benar-benar fokus. Sedikit kesalahan akan berdampak fatal karena Brazil punya banyak predator yang siap memangsa. Vini dan Gabi berpeluang menambah pundi gol mereka di laga ini. Jika laga berjalan terbuka – saya sekali lagi mengunggulkan Brazil untuk menang tanpa perpanjangan waktu.

Statistik tak berbohong. Dalam empat laga sebelumnya, Brazil menciptakan 9 gol dan hanya dua kemasukan. Klinis di depan dan kuat di belakang. Di kubu Norwegia, mereka sangat produktif membuat 8 gol dengan Haaland sebagai kontributor utama tapi mereka kebobolan 7 gol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *