Opini

Menjemput Literasi di Tengah Riuhnya Notifikasi

13
×

Menjemput Literasi di Tengah Riuhnya Notifikasi

Sebarkan artikel ini
M. Ghazali Faraman (Mahasiswa Hukum Unkhair – Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi).

M. Ghazali Faraman (Mahasiswa Hukum Unkhair – Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi)

Membaca bukan sekadar mengolah kata, melainkan upaya menjaga nalar agar tetap merdeka di tengah gempuran arus informasi yang semakin dangkal.”

Pernahkah kita menghitung berapa jam sehari jari kita terjebak dalam scrolling media sosial? Rasanya, informasi dari berbagai notifikasi datang lebih cepat daripada kemampuan otak kita untuk mencernanya. Di tengah gempuran konten yang serba instan mulai dari video pendek yang hanya berdurasi detik hingga headline yang dirancang hanya untuk memancing emosi, membaca buku perlahan-lahan berubah menjadi “aktivitas langka” yang sering kalah oleh trending topic. Kita terjebak dalam arus yang membuat kita tahu banyak hal, namun tidak memahami apapun secara mendalam.

Kondisi ini terasa semakin nyata saat kita menengok ke pelosok-pelosok desa di Maluku Utara. Di tengah semangat anak muda yang membara, tantangan akses buku dan keterbatasan ruang literasi masih menjadi “tembok” yang cukup tinggi. Kami di tingkat desa sering kali harus berjuang ekstra mulai dari keterbatasan koleksi buku hingga menumbuhkan kembali minat baca yang mulai tergerus oleh kemudahan akses internet yang tidak dibarengi dengan literasi informasi.

Seringkali, kita lebih akrab dengan banjir narasi di dunia maya daripada narasi mendalam yang tersimpan di lembar-lembar buku. Membangun budaya baca di daerah kita bukan sekadar tentang menyediakan gedung perpustakaan, tapi tentang melawan arus kedangkalan informasi yang makin hari makin deras masuk hingga ke teras-teras rumah warga.

Dalam kegelisahan menjaga kewarasan berpikir di era banjir informasi ini, saya teringat penegasan Julfikar Hasan, Sekretaris Jenderal LMND, mengenai urgensi membangun kesadaran melalui literasi:

“Literasi adalah senjata paling tajam bagi kaum muda untuk membedah realitas, tanpa kemampuan membaca situasi dan teori, perjuangan kita hanyalah gerakan tanpa arah yang mudah dipatahkan.”

Pernyataan ini adalah tamparan sekaligus pengingat. Bahwa literasi bukan sekadar perkara mengeja huruf, melainkan kemampuan membedah relasi kuasa, hingga mengkritisi kebijakan pembangunan yang sering kali abai terhadap nasib orang kecil.

Jika kita berhenti membaca, kita berhenti berpikir. Jika kita berhenti berpikir, kita secara sukarela menyerahkan kendali masa depan kita kepada mereka yang lebih pandai mengolah kata-kata, bahkan jika itu adalah kebohongan.

Padahal, membaca bukan sekedar kewajiban akademis atau tumpukan buku tebal yang berdebu di rak yang tak tersentuh. Membaca adalah cara kita “melawan”. Saat kita terbiasa menelan informasi yang hanya berdurasi detik, kemampuan untuk berpikir kritis pun ikut tumpul. Membaca memberi ruang untuk merenung dan memproses realitas sosial seperti isu lingkungan atau dinamika pembangunan di desa dengan lebih utuh, jauh dari sekadar clickbait yang menghias beranda media sosial kita.

Kita tidak perlu menjadi kutu buku yang mengurung diri di perpustakaan berdebu untuk disebut literat. Cukup dengan kembali memberi ruang bagi teks-teks yang punya kedalaman di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Di era yang menuntut kita untuk selalu cepat, mungkin sudah saatnya kita berani untuk sedikit melambat: membuka buku, menyeduh kopi, dan membiarkan diri kita kembali belajar dari dunia yang jauh lebih luas dari sekadar layar ponsel.

Membaca adalah bentuk menjaga kewarasan. Membaca adalah cara kita merawat ingatan tentang siapa kita dan ke mana tanah ini hendak dibawa. Sebab, jika bukan kita yang memulainya dari lingkungan terdekat, jika bukan kita yang menghidupkan diskusi di warung kopi dengan argumen yang berdasar, siapa lagi yang akan menjaga nalar kritis seantero negeri ini dari kehampaan nalar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *