Suatu hari nanti, mungkin lagu-lagu itu masih terdengar. Namun belum tentu semua orang mengetahui siapa yang menyanyikannya pertama kali.
Di tengah cepatnya perubahan zaman, banyak tokoh budaya yang perlahan menghilang dari ingatan publik. Nama mereka masih hidup dalam karya-karya yang ditinggalkan, tetapi kisah hidupnya nyaris tak terdokumentasikan. Hal itulah yang mendorong lahirnya film dokumenter Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan, sebuah film yang merekam perjalanan hidup penyanyi legendaris asal Kepulauan Sula, Loela Drakel.
Film yang kini memasuki tahap produksi tersebut dijadwalkan tayang pada Agustus 2026. Bagi tim pembuatnya, dokumenter ini bukan hanya tentang seorang penyanyi, melainkan tentang usaha menyelamatkan potongan sejarah kebudayaan Indonesia Timur yang selama ini nyaris luput dari arsip.
Ide film bermula ketika Moh. Idra Faudu melakukan riset dalam Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan. Saat menelusuri berbagai tokoh maestro budaya Indonesia, ia menemukan kenyataan bahwa nama besar Loela Drakel belum pernah diabadikan dalam sebuah film dokumenter.
Padahal, selama puluhan tahun, Loela menjadi salah satu suara penting yang mengiringi kehidupan masyarakat Maluku Utara dan Indonesia Timur.
“Dari hasil riset itu saya merasa ada sesuatu yang harus diselamatkan. Sosok sebesar Loela Drakel ternyata belum pernah memiliki dokumentasi film yang merekam perjalanan hidupnya secara utuh,” ujar Idra.
Bersama Uje, pegiat film dokumenter, mereka kemudian menyusun proposal dan mengajukannya ke Program Dana Indonesiana. Di antara ribuan proposal dari seluruh Indonesia, gagasan tersebut berhasil lolos dan memperoleh dukungan produksi.
Film ini akan membawa penonton menelusuri jejak panjang seorang anak kampung dari Sanana yang kemudian dikenal luas sebagai musisi lintas generasi. Namun yang dicari kamera bukan hanya cerita tentang popularitas.
Film ini berusaha menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seorang seniman menjaga identitas daerahnya melalui musik?
Melalui perjalanan ke Sanana, Ternate, hingga sejumlah kota yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Loela Drakel, tim produksi akan merekam kenangan, ruang hidup, dan orang-orang yang menjadi saksi perjalanan sang maestro.
Bagi sebagian masyarakat, Loela Drakel mungkin dikenal lewat lagu-lagu populer seperti Anggur Merah atau Kapan Kau Kembali. Namun sesungguhnya warisan terbesar yang ditinggalkannya berada jauh di luar panggung hiburan.
Selama bertahun-tahun, Loela menulis dan menyanyikan lagu-lagu yang memuat bahasa Sula, Ternate, Tidore, Halmahera, hingga berbagai bahasa daerah di Sulawesi Utara. Karya-karyanya menjadi ruang penyimpanan memori kolektif masyarakat sekaligus medium pelestarian bahasa daerah.
Di saat banyak bahasa lokal menghadapi ancaman kehilangan penutur, lagu-lagu Loela justru menjadi cara sederhana untuk menjaga agar bunyi dan identitas budaya tetap hidup.
Tak hanya itu, jauh sebelum promosi pariwisata menjadi tren, Loela telah memperkenalkan berbagai destinasi dan kekayaan budaya daerah melalui musiknya. Ia menjadikan lagu sebagai jembatan antara manusia, tempat, dan ingatan.
Karena itu, Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan tidak hanya berbicara tentang seorang penyanyi legendaris. Film ini merupakan upaya merawat memori sebuah daerah, merekam sejarah yang selama ini hidup dari mulut ke mulut, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat mengenali suara yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan budaya Indonesia Timur.
Sebab ketika seorang maestro pergi tanpa dokumentasi, yang hilang bukan hanya kisah hidupnya. Yang hilang adalah sebagian ingatan kita bersama.













