Kendali-Sudah sejak 2009, Zein Panzer bergelut dalam skena hip-hop Indonesia. Ia membangun namanya besar dimulai dari dunia Underground, atau yang sering dikenal dengan dunia kekerasan jalanan; jauh dari arus industri utama. Zein berasal dari Dullah, Kepulauan Kei, Maluku. Ia dikenal sebagai Rapper dengan karakter vokal keras, lirik yang lugas, serta identitas musikal yang lekat dengan dialek Timur Indonesia.
Selama lebih dari satu dekade, beragam tema bercampur baur dalam karyanya. Prinsipnya tidak tetap; kadang Islam, kadang Liberal, kadang Sekuler, dan lain sebagainya. Sehingga tema dari karya-karyanya berganti-ganti; kadang Gangster, kadang Percintaan, kadang Kritik Sosial, kadang Komedi, dan lain sebagainya.
Namun, sejak 2019, cara pandangnya berubah. Zein mulai masuk ke dalam dunia Islam untuk mencari tahu kedudukan Rap dalam Islam. Meski belum begitu serius, pencarian itu pada akhirnya membawa Zein kepada pemahaman barunya, bahwa Rap tidak lain hanyalah alat untuk menegakkan Islam.
Di tengah euforia karya-karya terbaiknya seperti Arab Kei, Batu Api, Bakutumbu, dan lain sebagainya, Zein justru merilis keputusan yang mengejutkan pada akun Instagram miliknya @zeinpanzerbronx, 9 Juli lalu. Ia memutuskan bahwa dirinya tidak akan mau lagi menerima job panggungan-nyanyi dari siapa pun. Keputusan itu mengundang banyak pertanyaan dari para penggemarnya yang mengenalnya sebagai sosok yang jarang muncul di media, tapi berpengaruh kuat di lingkungan Hip-Hop Indonesia Timur. Kepada Kendali.Id, Zein akhirnya menjelaskan alasan di balik keputusannya tersebut, pun sekaligus menceritakan fase baru perjalanan hidup dan karyanya ke depan.
Kini, Zein lebih sering menghabiskan waktunya untuk menulis. Ia tengah menyiapkan buku terbarunya, yang kiranya akan menjadi karya tulis pertamanya. Menurutnya, Islam Dan Hip-Hop, buku sebelumnya yang diterbitkan, bukanlah karyanya, karena ditulis oleh orang lain. Sementara Brojirt I, buku pertamanya, ia hanya menganggapnya sebagai tulisan iseng, hanya main-main dan tidak serius. Zein, ketika ditanya mengenai topik buku terbarunya, hanya tersenyum lalu menjawab, “Itu masih rahasia.”
Meski begitu, bukan bukunya yang paling banyak dipertanyakan penggemarnya, melainkan keputusannya berhenti dari menerima job panggungan. Bagi Zein, keputusan itu lahir dari keyakinannya sendiri. “Tentu alasannya adalah Agama. Keputusan itu sudah pasti digauni oleh prinsip yang saya anut, yaitu Islam,” ujarnya. Ia mengaku bahwa keinginannya berhenti dari manggung sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, karena pendapatan utamanya saat itu didapat dari panggungan, jadi ia bertahan. “Saya sebenarnya tidak ingin berdiri bernyanyi di atas panggung, apalagi ditonton banyak orang. Saya Muslim; tidak pantas menjadi tontonan banyak orang sebagai Penyanyi Panggung. Adapun yang saya inginkan itu hanyalah membuat karya Rap digital saja, kemudian merilisnya begitu saja,” tuturnya.
Keputusan itu tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, Zein secara perlahan mempersempit ruang geraknya dalam dunia Hip-Hop dengan membuat sejumlah aturan bagi dirinya sendiri. Ia memulainya dengan aturan pertamanya, yakni menolak job panggungan yang disponsori oleh perusahaan Miras-Judi, kemudian ia tambah lagi dengan menolak job panggungan yang diselenggarakan di dalam Bar-Club Malam, kemudian ia tambah lagi dengan menolak job panggungan yang pemandu acaranya adalah seorang Waria, kemudian ia tambah lagi dengan menolak panggungan yang diselenggarakan di bulan-bulan Haram; hingga akhirnya ia pun berhenti total. “Kata teman saya yang sudah sukses; aturan manggung saya terlalu ketat, nantinya malah mempersedikit job panggungan saya. Mendengar itu saya kemudian siap untuk berhenti manggung. Setidaknya agar mereka tahu bahwa sebenarnya saya tidak tergila-gila dengan panggungan,” pungkasnya.
Tidak disangka bahwa panggungan di Kota Tual tahun 2025 lalu merupakan panggungan terakhirnya. Saat itu, ia mengaku sudah tidak ada lagi keinginan untuk manggung. “Setiap Muslim itu Mulia. Saya sudah tidak mau lagi mempermalukan identitas diri saya sebagai seorang Muslim. Saya berhenti,” katanya. Zein sangat menyadari bahwa pandangannya atas keputusan itu sudah pasti tidak disepakati semua orang. Namun, ia tetap berpegang teguh pada pandangannya sendiri. “Itu Pandangan saya. Sudah pasti tidak semua berpandangan sama. Di kalangan para Ulama saja sering terjadi perbedaan pendapat. Apalagi kita yang bukan Ulama,” Katanya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa manggung adalah hal yang paling ia sukai. Tapi harus ia tinggalkan demi Agama yang ia anut. “Aturan dalam Islam jelas dan terang. Bahkan lebih terang dari Matahari. Saya memang menyukai manggung. Tapi saya lebih menyukai Islam,” ujarnya.
Meski telah memutuskan berhenti sebagai Penyanyi Panggung, Zein memastikan dirinya akan tetap berkarya. “Sekalipun saya sudah tidak lagi menerima panggungan. Saya tetap akan berkarya. Insya Allah, saya akan tetap membuat karya-karya baru saya, Rap dan Buku saya,” ungkapnya. Bagi Zein, keputusannya meninggalkan panggung bukanlah sebuah akhir dari perjalanan karya-Rapnya, melainkan sebuah awal dari kehidupan barunya; mengangkat Rap kepada kedudukan yang sebenarnya.













