Pop Culture

Dua Cyclist Ternate Siap “Naik Haji” ke Bentang Jawa 2026, Taklukkan 1.500 Kilometer Hingga Banyuwangi

15
×

Dua Cyclist Ternate Siap “Naik Haji” ke Bentang Jawa 2026, Taklukkan 1.500 Kilometer Hingga Banyuwangi

Sebarkan artikel ini
Ilham Tabalime dan Faiz Malagapi, dua cyclist asal Ternate, Maluku Utara, sesi latihan sebelum mengikuti Bentang Jawa 2026.

kendali – Bagi sebagian orang, bersepeda mungkin sekadar olahraga atau cara menikmati perjalanan. Namun bagi Ilham Tabalime dan Faiz Malagapi, dua cyclist asal Ternate, Maluku Utara, sepeda menjadi kendaraan untuk menantang batas fisik dan mental.

Keduanya bakal membawa nama Maluku Utara dalam Bentang Jawa 2026, ajang ultra-endurance cycling race yang akan membentang dari Pantai Carita, Banten, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

Bukan perjalanan santai. Mereka harus menaklukkan jarak sekitar 1.500 kilometer dengan total elevasi mencapai 17.000 meter. Peserta juga diberikan batas waktu atau cut off time selama 156 jam untuk mencapai garis finis.

Dalam komunitas ultra-cycling, Bentang Jawa bahkan punya julukan tersendiri.

“Kalau di dunia komunitas sepeda biasanya disebut naik hajinya para cyclist,” kata Ilham saat berbincang dengan Kendali.

Ilham dan Faiz akan turun di kategori Pair, yakni kategori yang diikuti dua pesepeda. Keduanya menjadi perwakilan dari Maluku Utara yang mengikuti ajang tersebut.

Bukan Sekadar Kuat Gowes

Bentang Jawa bukan lomba yang bisa ditaklukkan hanya dengan mengandalkan tenaga. Peserta dituntut memiliki pengalaman bersepeda jarak jauh dan mampu menghadapi perjalanan panjang secara mandiri.

Peserta harus berstatus WNI atau WNA dengan usia minimal 17 tahun, lolos proses seleksi panitia, memiliki pengalaman ultra-cycling, melampirkan riwayat latihan dari Strava, serta sanggup mengikuti konsep balapan mandiri tanpa dukungan atau unsupported.

Konsep tersebut membuat persiapan Ilham dan Faiz tidak berhenti pada latihan fisik.

“Persiapannya banyak, dari fisik, materi, waktu dan mental,” ujar Ilham.

Ilham Tabalime saat sesi latihan sebelum berangkat mengikuti Bentang Jawa 2026.

Menurutnya, kemampuan fisik menjadi modal utama. Mereka harus terbiasa menempuh jarak ratusan kilometer dalam satu hari.

Dalam persiapannya, Ilham menargetkan latihan bersepeda hingga 250–300 kilometer per hari. Sebab selama Bentang Jawa berlangsung, seorang cyclist bisa menghabiskan waktu sekitar empat hingga delapan jam di atas sadel setiap harinya.

Di sisi lain, aspek finansial juga harus diperhitungkan.

Karena konsep perlombaan bersifat unsupported, peserta harus mampu mengatur kebutuhan perjalanan sendiri. Mulai dari makanan, minuman, hingga berbagai kebutuhan selama perjalanan.

“Dari keuangan memang harus pintar management buat belanja keperluan bersepeda jarak jauh, karena ini event mandiri,” katanya.

Belum lagi persoalan membagi waktu antara latihan, pekerjaan, dan keluarga.

Ilham menyebut persiapan intensif dilakukan sekitar dua bulan sebelum hari perlombaan. Bagi mereka, tantangan terbesar bukan hanya seberapa kuat kaki mengayuh, tetapi juga bagaimana menjaga kepala tetap dingin ketika tubuh mulai kelelahan.

“Karena ini cukup ekstrem jaraknya, pikiran kita harus lebih wajar menyikapi hal-hal yang akan terjadi di luar pemikiran yang telah kita siapkan,” ujarnya.

Ternate Jadi “Gym” Sebelum Menyeberang Jawa

Persiapan menghadapi Bentang Jawa juga dilakukan dengan memanfaatkan medan di Ternate.

Ilham dan Faiz rutin berkeliling Kota Ternate untuk mencari rute dengan jarak sekitar 150 kilometer. Sesekali mereka juga membawa latihan ke kawasan dengan kontur yang lebih menantang.

Setidaknya sekali dalam seminggu, keduanya berlatih menuju dataran tinggi seperti Facei, Moya, hingga Foramadiahi.

Latihan tanjakan menjadi bagian penting. Sebab salah satu tantangan terbesar Bentang Jawa justru menunggu mereka di bagian akhir perjalanan.

Setelah menempuh sekitar 1.200 kilometer dan melewati Malang, rute akan mengarah menuju kawasan Bromo melalui Ranu Pane.

“Latihan bersepeda di tanjakan buat nanti, soalnya rute Bentang Jawa di kilometer 1.200 setelah melewati Malang kita ke arah puncak Bromo via Ranu Pane,” kata Ilham.

Jalur Selatan Jawa Jadi Tantangan

Dari seluruh rute yang akan dilewati, jalur selatan Pulau Jawa menjadi salah satu bagian yang paling membuat mereka penasaran.

Bukan hanya karena medan, tetapi juga karakter jalurnya yang berbeda dari rute Pantura yang lebih populer.

“Hal yang paling ekstrem kayaknya jalur selatan Jawa, dari sisi view yang orang jarang eksplor. Kebanyakan jalur utara atau Pantura Jawa,” ujarnya.

Meski tantangan sudah menunggu di depan mata, Ilham mengaku tidak ingin terlalu membebani pikirannya dengan berbagai kemungkinan.

Baginya, perjalanan 1.500 kilometer tersebut bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai di Banyuwangi.

Ada pengalaman, pemandangan, rasa lelah, dan tentu saja cerita yang akan dibawa pulang ke Ternate.

“Kebanyakan dibawa fun saja, biar nggak ada beban di jalan,” katanya.

Kini, dua cyclist asal Ternate itu tinggal menunggu waktu untuk membawa sepeda mereka meninggalkan Maluku Utara.

Dari Carita mereka akan memulai perjalanan panjang, melewati berbagai karakter medan Pulau Jawa, menghadapi tanjakan dan kelelahan, hingga akhirnya mengejar satu tujuan: Banyuwangi.

Sekitar 1.500 kilometer, elevasi 17.000 meter, dan waktu 156 jam akan menjadi ujian berikutnya bagi Ilham Tabalime dan Faiz Malagapi.

Bagi dua cyclist ini, Bentang Jawa bukan sekadar perlombaan.

Ini adalah perjalanan untuk melihat sejauh mana kaki, sepeda, dan mental mampu membawa mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *