kendali – Empat seniman asal Maluku Utara, Ternate, bersama satu seniman residensi asal Jepang menghadirkan eksibisi pertunjukan bunyi, Ingatan, dan mitos, pada Selasa Malam di Pulo Tareba, kecataman Ternate Barat,(8/9/2026).
Residensi ini adalah sebuah proyek seni kolaboratif yang mengeksplorasi bunyi, ingatan, dan mitos dalam lanskap alam Maluku Utara.
Diselenggarakan oleh kolektif seni Inkubator Space, proyek kolaborasi antara seniman Indonesia (Ternate) dan Jepang yang berlangsung pada 1–8 September 2026.
Mereka melakukan riset observasi dan pengamatan selama 7 hari di Pulo Tareba dan danau Tolire yang kemudian hasilnya dipentaskan.
Pengkaryaan ini memberikan performa yang diluar ekspektasi para pengunjung, penonton diajak mengelilingi beberapa lokasi pada malam hari, bunyi gong terdengar mistik, suasana gelap tanpa cahaya, setelah berjalan mengikuti gong kita dipertemukan dengan kejutan karya para seniman, pencahayaan Lighting yang menarik gaya magis, membuat penonton rehat sejenak menikmati pertunjukan mereka.
“Kami menikmati pertunjukan malam ini dengan ekspektasi diluar dugaan, para penonton diajak berkeliling sekitar pelataran Pulo Tareba, dengan penampilan karya para seniman dengan konsep yang luar biasa,”tutur salah satu pengunjung.
Lima seniman yang menampilkan karya Mereka Yaitu, Musical instruments and focuces on the Sound Inself Masafumi Yamamoto, Win Ilyas Illustrator dan Komikus, Satu Garis Seniman Visual dan Illustrator, Ies Kalesang Koreografer dan Pelatih Tari, Jae Desainer Grafis dan Arsitek, dan Dias Ramadhansyah sebagai Kuratornya.
Kurator Dias Ramadhansyah menyampaikan Danau Tolire, Pulo Tareba, dan bentang alam Ternate memuat lapisan ingatan yang hidup di tengah masyarakat. Di lokasi riset, praktik Masafumi seorang seniman asal Jepang yang berbasis olah bunyi, bunyian objek, dan performans berhadapan langsung dengan karakter seniman lokal yang berakar pada drawing, seni lukis, serta aksi tubuh.
“Perbedaan latar medium ini mendorong kolaborasi lintas disiplin, tempat rekaman bunyi dan arsip lisan diterjemahkan kembali ke dalam olah suara, visual, dan aksi pertunjukan bersama”tutur Dias ketika wawancara.
Dias menambahkan Keterlibatan warga di lokasi membuktikan bahwa materi riset di Ternate tersimpan melimpah di akar rumput.
Hanya saja tantangan berikutnya bagi kawan-kawan seniman lokal adalah bagaimana mengolah kedekatan personal ini ke dalam karya-karya lanjutan dengan bentuk yang semakin matang.
“Harapannya, hasil residensi ini tidak lekas berhenti saat acara usai, tetapi terus memantik riset mandiri, memicu eksperimen artistik baru, dan merawat jejaring kerja ke luar Ternate,”tuturnya.
Sementara Founder Inkubatorspace Zandry Aldrin menyampaikan 4 orang seniman asal Ternate dan 1 dari Jepang merupakan pementasan ruang kolaborasi dengan menampilkan ruang Instalasi alam yang ada di pulau Tareba.
“Semua yang teman-teman nikmati malam ini adalah bagian dari pertunjukan seni yang sudah di riset selama 1 Minggu, mereka melakukan pengamatan di Pulo Tareba, dan menceritakan bagaimana hasil pengamatan mendalam untuk ditampilkan dalam bentuk pertunjukan malam ini, selamat menikmati”tuturnya Zandry.
Sebelumnya pada sore hari kegiatan ini juga dilakukan Workshop Tuala Lipa, Badaka Bafufu, dan Beda Bunyi edisi Beda Lirik.













