Kendali-Kepulauan Sula, Maluku Utara, kembali dihadapkan pada realitas yang terus berulang: konflik antara manusia dan buaya yang kian mengkhawatirkan. Dalam rentang waktu berbeda, tiga peristiwa tragis menunjukkan pola yang sama—ruang hidup manusia dan habitat buaya yang semakin bertabrakan.
Peristiwa terbaru terjadi pada 1 April 2026. Seorang warga Desa Karamat Titdoy, Kecamatan Mangoli Timur, Alwan Umasangaji (40), diterkam buaya saat sedang mandi di pantai sekitar pukul 09.00 WIT.
Serangan terjadi tiba-tiba. Korban yang sedang berenang disergap predator dari perairan. Teriakan minta tolong memancing warga datang menyelamatkan, sebelum akhirnya korban dievakuasi ke RSUD Sanana dengan luka serius, terutama di bagian mata kiri.
Warga setempat menyebut, kemunculan buaya di kawasan itu bukan hal baru. Bahkan, kejadian serupa disebut sudah pernah terjadi sebelumnya di lokasi yang sama.
Namun, tragedi di Sula tidak berhenti di pesisir.Pada Agustus 2025, seorang perempuan lanjut usia, Nurbati Panikfat (60), dilaporkan hilang setelah diduga diterkam buaya saat buang air di sekitar Telaga Kabau.
Pagi itu, sekitar pukul 06.10 WIT, korban keluar rumah menuju area telaga. Tak lama berselang, warga mendengar teriakan minta tolong. Saat didatangi, yang terlihat hanya seekor buaya yang kembali ke air—tanpa jejak korban.
Tim SAR bersama warga melakukan penyisiran menggunakan peralatan pencarian laut, namun korban tidak ditemukan. Peristiwa ini mempertegas bahwa telaga, yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas harian warga, kini berubah menjadi zona rawan.
Lebih jauh ke belakang, pada November 2024, seorang anggota TNI AD, Praka Fitrun Umafagur, juga menjadi korban serangan buaya di Pantai Wai Ipa, Kepulauan Sula.
Saat itu, korban sedang mencari ikan bersama rekan-rekannya pada malam hari. Tanpa diduga, buaya menyerang dan menyebabkan luka serius di bagian kepala dan tangan kanan. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Sanana untuk mendapatkan perawatan medis.
Ruang Hidup yang Beririsan
Tiga peristiwa ini menggambarkan satu benang merah:
pantai, telaga, dan laut—tiga ruang hidup masyarakat Sula—telah menjadi titik rawan konflik dengan buaya.
Aktivitas sederhana seperti mandi, buang air, hingga mencari ikan kini mengandung risiko tinggi. Tidak ada lagi batas yang jelas antara ruang manusia dan habitat satwa liar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik manusia dan buaya di Kepulauan Sula bukanlah kejadian insidental, melainkan pola yang terus berulang.
Ancaman Nyata, Solusi Mendesak
Meningkatnya interaksi berbahaya ini menuntut langkah serius:
- Pemetaan wilayah rawan buaya
- Edukasi masyarakat pesisir
- Sistem peringatan dini
- Intervensi pemerintah dan konservasi habitat
Tanpa langkah konkret, peristiwa serupa berpotensi terus terjadi—bahkan dengan korban yang lebih besar.Kepulauan Sula hari ini bukan hanya tentang keindahan laut dan pesisirnya, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar kembali hidup berdampingan dengan alam—yang kini mulai menunjukkan sisi liarnya.














