Kendali-Dunia sepak bola tengah menahan napas menyambut laga puncak yang telah lama dinanti. Spanyol dan Argentina bertemu di final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, pada Senin dini hari WIB, mempertemukan juara Euro dan juara Copa America untuk pertama kalinya sepanjang sejarah turnamen empat tahunan itu.
La Furia Roja datang dengan rekor nyaris sempurna setelah hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, sementara Albiceleste—sang juara bertahan—membawa modal mentalitas juara usai comeback dramatis atas Inggris di semifinal. Layar-layar televisi dan gawai di seluruh penjuru negeri, termasuk di pelosok Maluku Utara, akan menyala menyaksikan drama perebutan trofi paling bergengsi di jagat sepak bola ini.
Namun di tengah gegap gempita itu, ada duka yang sunyi menyelinap dari timur Indonesia. Belum genap sebulan berselang, publik sepak bola Maluku Utara menerima kabar pahit: Malut United, klub yang selama dua musim menjadi wajah dan kebanggaan daerah di kasta tertinggi Liga Indonesia, resmi mengajukan perubahan nama menjadi Jateng United sekaligus memindahkan home base dari Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, ke Stadion Jatidiri, Semarang.
Presiden klub berdalih kepindahan itu demi efisiensi dan kebugaran pemain, karena mayoritas tim Liga Super berpusat di Pulau Jawa sehingga perjalanan tandang dari wilayah timur menguras energi. Alasan logistik dan bisnis itu boleh jadi masuk akal di atas kertas, tetapi bagi masyarakat Maluku Utara, kepergian Malut United adalah kehilangan ruang identitas—satu-satunya panggung nasional yang selama ini menyuarakan nama daerah mereka kini raib begitu saja, persis ketika dunia sedang larut dalam euforia sepak bola akbar.
Ironi itu makin terasa jika ditelisik lebih jauh. Klub yang sempat finis di posisi ketiga pada musim debutnya itu justru pergi bukan karena tak dicintai, melainkan karena kalkulasi bisnis semata—tanpa pernah benar-benar melibatkan suara suporter dan masyarakat yang selama ini menjadikannya kebanggaan lokal. Saat jutaan pasang mata dunia tertuju pada Messi, Yamal, dan perebutan trofi dunia, publik Ternate dan sekitarnya justru harus menerima kenyataan bahwa mereka kehilangan wakil mereka sendiri di kompetisi nasional—euforia global yang datang bersamaan dengan kehilangan lokal.
Duka itu belum lagi lengkap tanpa menyinggung apa yang tengah terjadi di darat Halmahera. Jauh dari sorot lampu stadion, ekspansi industri nikel terus menggerus hutan dan sungai di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, hingga Halmahera Selatan. Sejumlah kajian mencatat deforestasi akibat pertambangan nikel di Halmahera Tengah telah mencapai puluhan ribu hektare, mencemari sumber air bersih, merusak ekosistem laut, dan mengancam kesehatan warga di sekitar kawasan tambang dan smelter.
Salah satu potret paling nyata datang dari Pulau Gebe, tempat delapan izin tambang menguasai separuh wilayah pulau kecil seluas 22 ribu hektare itu. Di antaranya adalah PT Mineral Trobos, yang mengantongi konsesi ratusan hektare di Tanjung Ueboelie sekaligus menguasai mayoritas saham pemenang lelang blok tambang baru di kawasan itu.
Warga dan sejumlah lembaga advokasi menuding perusahaan ini kerap menyerobot lahan dan kebun milik warga tanpa persetujuan pemilik, menambang di luar area izin dan masuk kawasan hutan, hingga beroperasi tanpa dokumen lingkungan yang seharusnya menjadi syarat wajib. Akibatnya, hutan gundul, sumber air bersih kian sekarat, dan warga kehilangan ruang hidup serta rumpun sagu yang selama ini menjadi cadangan pangan mereka—ironisnya, di pulau yang sama tempat warga juga kehilangan sorotan nasional lewat kepindahan klub kebanggaannya.
Secara keseluruhan, data yang dihimpun dari Kementerian ESDM mencatat setidaknya 121 izin usaha pertambangan tersebar di seluruh kabupaten/kota Maluku Utara dengan total konsesi lebih dari 651 ribu hektare—setara sepuluh kali luas wilayah Jakarta—sebagian besar demi memenuhi rantai pasok nikel untuk baterai kendaraan listrik dunia yang dibungkus jargon “transisi energi bersih”.
Maka ketika sorak-sorai kemenangan Spanyol atau Argentina nanti bergema di seluruh dunia, warga Maluku Utara punya alasan untuk menyaksikannya dengan perasaan yang lebih rumit.
Siapa pun yang mengangkat trofi Piala Dunia, hidup di Ternate dan Halmahera tidak akan otomatis membaik: klub kebanggaan sudah berpindah rumah ke Jawa, sementara tanah dan lautnya terus dikorbankan demi rantai pasok industri global.
Euforia sepak bola dunia boleh jadi hiburan sesaat, tetapi di baliknya, masyarakat Maluku Utara justru sedang kehilangan dua hal sekaligus—ruang kebanggaan di lapangan hijau dan ruang hidup di tanah kelahiran mereka sendiri.













