Olahraga

Drama Toxic, Pelatih Argentina Perlu Wajibkan Lima Buku ini untuk Tingkatkan Kecerdasan Emosional Para Pemain

89
×

Drama Toxic, Pelatih Argentina Perlu Wajibkan Lima Buku ini untuk Tingkatkan Kecerdasan Emosional Para Pemain

Sebarkan artikel ini
Pemain Argentina Leandro Paredes (kanan) membanting Gavi. (Dok. BR Football)

Kendali- Kalau selama ini tugas pelatih cuma mikirin formasi, rotasi pemain, dan strategi set piece, sepertinya sudah waktunya job description itu diperluas. Melihat rentetan drama pasca-final Argentina Vs Spanyol — mulai dari tekel liar sampai baku hantam di lorong pemain — rasanya pelatih juga perlu merangkap jadi semacam “wali kelas” yang wajib mewajibkan anak asuhnya membaca buku pengembangan diri sebelum diizinkan masuk lapangan lagi.

Maka, berikut daftar bacaan yang sebaiknya masuk dalam surat edaran resmi dari pelatih Argentina Lionel Scaloni ke seluruh skuad — lengkap dengan sesi diskusi kelompok kalau perlu:

1. Emotional Intelligence 2.0 — Travis Bradberry & Jean Greaves
Buku ini bisa jadi bacaan dasar sebelum sesi latihan dimulai. Setidaknya, pemain jadi lebih peka membedakan mana yang disebut determinasi, dan mana yang sebenarnya sudah masuk kategori niat mencederai lawan.

2. The Anger Trap — Les Carter
Cocok dibaca dalam perjalanan menuju stadion. Amarah yang biasanya baru meledak di depan kamera dunia, idealnya sudah selesai diproses jauh sebelum peluit kickoff dibunyikan.

3. Nonviolent Communication — Marshall B. Rosenberg
Bisa dijadikan modul latihan komunikasi dengan wasit. Protes tetap bisa disampaikan tanpa harus mengerahkan sepuluh pemain mengelilingi satu orang wasit layaknya aksi unjuk rasa.

4. How to Win Friends and Influence People — Dale Carnegie
Buku klasik ini relevan sebagai materi briefing sebelum laga, terutama bagian tentang cara berargumen tanpa berujung pada baku hantam.

5. The Gifts of Imperfection — Brené Brown

Bacaan ini justru penting untuk para pemain Argentina, sebagai pengingat bahwa kemenangan di lapangan tak perlu dibarengi kemenangan di ronde tinju tambahan setelah peluit panjang.

Bayangkan saja: sesi konferensi pers pelatih bukan lagi soal analisis taktik, tapi laporan progres bacaan pemain — “Messi sudah selesai bab 3, tinggal Otamendi dan Paredes yang masih di halaman pertama karena katanya ‘sibuk’.” Mungkin absurd, tapi kalau cara biasa sudah gagal mencegah drama pasca-final berulang, barangkali memang saatnya federasi menambahkan syarat lisensi kepelatihan: wajib punya sertifikat “Manajemen Emosi Tim.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *