kendali -Jalanan di tiga wilayah Maluku Utara — Ternate, Tidore, dan Jailolo — bakal ramai oleh gowesan sepeda Jumat besok (31/07/2026). Aksi bertajuk Critical Mass ini digadang-gadang bukan sekadar ajang gowes biasa, melainkan gerakan yang menuntut ruang jalan yang lebih adil bagi pesepeda.
Salah satu penggiat sepeda, Abdullah Sandy, menyampaikan gerakan ini lahir dari kegelisahan panjang para pesepeda yang selama ini merasa “dianaktirikan” di jalan raya.
“Critical Mass adalah gerakan yang mengajak kita melihat jalan sebagai ruang publik yang adil untuk semua, bukan hanya kendaraan bermotor,” tegas Abdullah saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, sepeda bukan cuma soal keringat dan olahraga. Bagi Abdullah dan kawan-kawan, sepeda adalah jawaban atas problem transportasi kota yang makin padat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sepeda bukan sekadar hobi atau olahraga, tetapi solusi transportasi yang sehat, ramah lingkungan, dan sangat relevan untuk Kota Ternate,” ujarnya.
Gerakan Kecil, Ambisi Besar
Menurut Sandy, semakin banyak warga yang berani memilih sepeda sebagai kendaraan harian menjadi sinyal positif. Ia optimis, tren ini bisa mendorong terciptanya jalan yang lebih aman dan kota yang lebih sehat.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan kayuhan sepeda adalah salah satunya,” katanya.
Ternate sendiri dinilai punya “modal” yang pas untuk gerakan ini — kota yang tidak terlalu luas membuat banyak aktivitas harian sebenarnya bisa ditempuh dengan sepeda. Selain menyehatkan, opsi ini juga diklaim mampu menekan kemacetan dan polusi.
Bukan Cuma Gowes, Tapi Soal Etika Jalan
Namun, Critical Mass rupanya punya visi lebih jauh dari sekadar konvoi sepeda bulanan. Sandy berharap gerakan ini bisa menumbuhkan budaya saling menghargai di jalan — dan itu berlaku dua arah.
Di satu sisi, pesepeda dituntut menjadi contoh: patuh aturan lalu lintas, pakai perlengkapan keselamatan, dan menjaga etika berkendara. Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat diharapkan mulai serius memikirkan infrastruktur yang ramah bagi pesepeda.
“Kalau semakin banyak orang memilih sepeda untuk beraktivitas, saya yakin Ternate bisa menjadi kota yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih manusiawi,” ujarnya optimis.
“Semoga Ternate Critical Mass menjadi langkah awal untuk mengubah cara pandang kita bahwa sepeda bukan hanya olahraga, tetapi juga bagian dari solusi transportasi masa depan di Kota Ternate,” pungkasnya.
Dari Protes Jalanan San Francisco ke Ternate
Menariknya, gerakan ini bukan barang baru. Critical Mass punya sejarah panjang yang bermula dari protes kecil di San Francisco pada 25 September 1992, saat itu dikenal dengan nama “Commute Clot”.
Gerakan yang digelar tiap Jumat terakhir setiap bulan ini awalnya adalah respons spontan para pesepeda yang lelah diabaikan di jalan. Sendirian, pesepeda memang rentan dan nyaris tak terlihat di antara deru kendaraan bermotor — tapi begitu mereka bergerak bersama dalam jumlah besar keberadaan mereka menjadi sulit untuk diabaikan. Di sinilah inti critical mass: menjadi terlihat.













