Saloi

Menabung Cerita Bersama Shindy Lestari dan Komunitas Tidore Dalam Lipatan Waktu

11
×

Menabung Cerita Bersama Shindy Lestari dan Komunitas Tidore Dalam Lipatan Waktu

Sebarkan artikel ini
Teguh Barakati

Oleh : Teguh Barakati – Penulis Lepas

Saya membaca tulisan singkat Shindy Lestari ketika ia melakukan Workshop bersama komunitas di Tidore. Ada empat lembar kertas HVS yang bercerita secara singkat tentang dirinya, kehidupan rumah tangga dan keluarga besarnya. Ketika kertas HVS itu mereka bagikan kepada kami.

Malamnya sebelum tidur saya membaca tulisan singkat itu yang diberi judul : 5 Months Before 2022-2025, An Ordinary Story From A Mother’s Diary : 2022 – 2025, Lan Of Longing Bali 2024, dan Mekar Seperti Bunga 2026.

Tulisan-tulisan sederhana itu, sebenarnya teknik storytelling yang ketika membacanya bisa mempengaruhi orang lain, saya tidak mau berasumsi lebih, tapi entah mengapa tulisan yang ditulis dengan jujur akan sampai pada pembacanya, sebenarnya bukan sekedar berbagi kisah, melainkan menghubungkan kesadaran kolektif, disana diantara paragraf, Shindy sedang memainkan irama dan bunyi dalam setiap kalimat. Kira-kira begitulah penggalan tulisannya yang saya rasakan ketika membacanya.

Saya baru mengenal mereka dalam pertemuan yang sangat singkat, ketika mereka datang ke Maluku Utara terkhusus di Kota Tidore Kepulauan, ketika ia dan satu temanya Gaby Manurung melakukan riset tentang Sagu Jaya.

Ternyata tidak sampai disana mereka juga bertutur dalam sebuah dokumentasi Visual Fotografi yang penuh makna, tentu saya bukan seorang Fotografi, tetapi gabungan intuisi ketika disalurkan bisa jadi, menjadi karya yang luar biasa. Itulah pesan yang saya dapatkan ketika Shindy meramu karyanya dalam sesi talk show bersama komunitas.

Sebagai keluarga yang lahir dari Tionghoa di Indonesia. Saya mengutip tulisannya ia bilang

“Sejak kecil, saya menyaksikan ibu saya mengurus seluruh rumah tangga, termasuk merawat kakek saya. Ketika saya kemudian menjadi seorang istri dan ibu, saya pun mengambil peran mengambil peran yang serupa. Pengalaman ini mendorong saya untuk merefleksikan bagaimana dalam budaya Tionghoa, perempuan kerap diharapkan menjadi pengurus rumah tangga. Para orang tua mengajari kami melalui perkenalan terhadap ritme, memasak, membersihkan dan merawat,”

Dari cerita diatas Shindy membagi keresahan cerita itu ke dalam sebuah medium Fotografi menggabungkan praktek foto dengan sentuhan limbah organik dari dapur dengan foto-foto rutinitas domestik. Tidak mudah untuk menyusun konsep itu, bagaimana kita mendokumentasikan sebuah karya menjadi nilai suatu peristiwa.

Pengalaman Shindy kalau di respon seperti apa yang disebut oleh Martin Heidegger sebagai kekosongan eksistensialisme tapi ia cepat mencari makna Dasein ( disana ) lalu merespon keluar dari citra identitas dan mengubah menjadi nilai eksistensi.

Melekat ketika story foto-foto yang dia bagikan dalam sesi Talk show sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fomo-nitas yang kita alami, kami di Tidore juga tidak jauh berbeda, punya kegelisahan yang sama, SDM juga banyak, bahkan semua skill kreatif kita miliki, namun pada kenyataan kita tidak pernah terhubung, kita tidak pernah bertemu, justru masih menyimpan rutinitas banal, rutinitas tanpa makna, menyukai hal-hal hanya untuk kesenangan pribadi, dan lingkungan komunitas yang masih belum menerima Critical thinking.

Jika algoritma itu terus dipertahankan maka citra yang sedang kita ramu justru hanya menyimpan energi sesaat, kehadiran Shindy Lestari, Dan Gaby bisa jadi hanya menjadi lumbung ruang kecil yang layu, hari ini menjadi energi, besok lusa, atau saban hari menjadi baterai yang sudah kehilangan watt ( redup). Karena kita sama, memiliki koneksi, pengalaman, kita merawat Ide namun kompleksitas sebuah mimpi kecil untuk membangun SDM Anak Muda Tidore ( lingkup komunitas ) hanya terjebak pada susunan batas kampung, yang suatu waktu bisa menjadi bom waktu.

Jadi untuk pelaku kreatif semestinya pertanyaannya itu dimulai dari diri sendiri. Bukan menunggu sesuatu yang datang lalu diajak berkompromi.

Bagaimana kolaborasi itu berjalan 

Kolaborasi itu semestinya sampai pada penyempurnaan gerakan, mereka tau apa yang sedang dikerjakan. Tidore dengan ruang yang kompleksitasnya, semestinya menjadi jantung ide dan narasi kolektif, anak muda harus di ajak bergerak, bukan hanya sekedar ruang tongkrongan.

Setiap batas kampung harus memulai sejarahnya sendiri, mereka merekam memulai dengan kalender event tahunan, dan kampung harus mampu menyusun masterplan pembangunan kampung.

Sehingga kesibukan itu memiliki nilai dan makna bukan justru sebaliknya kehilangan daya kreatif dan kolaborasi. Jika hal itu tidak dijaga dengan baik, maka sepertinya pulau yang kecil ini tidak memiliki kelengkapan jati diri, ia hanya menjadi memorial hampa dan cerita luhur tanpa menjaga keseimbangan jaman.

Tulisan di atas terkoneksi seperti yang ditulis Shindy Lestari bagaimana dia memotret Bali ketika Ibunya meninggal pada tahun 2012. Tanah Bali memanggil kembali pulang, sebuah refleksi Desa tempat ia tinggal yang bernama Payangan. Segala pertanyaan dan perenungannya ia salurkan dalam mimpi kecil yang ia rawat menjadi karya besar.

Ia mencoba berinteraksi di lingkungan tempat ia tinggal, berkunjung ke rumah orang, melambatkan langkah, berbaur dengan tetangga, lalu merekam semuanya.

Transisi ini yang perlu dipahami kita semua sebagai pelaku kreatif, mencatat, mendokumentasikan, merenungkan, lalu menjadikan karya-karya, sayangnya kesadaran ruang kita terkhusus anak muda Tidore masih terjebak pada Reinkarnasi, masih menganut pamalaisme, palunisasi, dan juga budaya komentar yang itu itu saja.

Apakah tulisan ini subjektivitas iya, karena berangkat dari pengalaman kolektif selama 7 tahun dalam berjejaring komunitas. Lumbung ekosistem hampa, menjadi paradox, arsip yang disimpan dalam museum tua. Ia tidak menjadi living mesum yang hidup untuk menumbuhkan spirit lintas jaman.

Lalu apa bisa dilakukan 

Pintu masuknya banyak seperti yang katakan Shindy Lestari, Jejaring dan konektivitas karena urusan komunitas tidak bisa sendiri-sendiri ia harus berkolaborasi. Kita memiliki itu, gudang kolaborasi, hanya saja pola dan tidak terpola yang tidak kita sadari.

Rumusnya banyak tapi terhenti pada kesadaran kolektif mana penting dan tidak penting untuk dicari solusinya, dan satu kecanduan yang selama ini kita pelihara yaitu Ego diri. Jadi selama ini problem berkomunitas bukan pada orang lain melainkan pada sub tema diri kita sendiri yang selama ini tidak kita pahami.

Pada akhirnya saya tau dari mana saya memulai dan dari mana saya berhenti. Setidaknya dalam pertemuan talkshow mengarsip kisah melalui eksplorasi praktik visual, merupakan catatan lipatan waktu yang selama ini kehilangan jaringan atas kreativitas di tanah kelahiran saya sendiri.

Dan semua itu dimulai dari Menabung Cerita. Mungkin bisa jadi kita membutuhkan Shindy-shindy yang lain agar tidak mengulang cerita dan pertanyaan yang itu-itu saja. Semoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *