kendali – Komunitas Lingkungan Fakawele menggelar seminar dan lokakarya sebagai upaya mendorong perlindungan kawasan karst Sagea, khususnya Gua Boki Maruru, sekaligus pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemuda, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun kesepahaman dalam menjaga kawasan yang dinilai memiliki nilai ekologis dan sosial tinggi.
Ketua Perkumpulan Fakawele, Adlun Fiqri, dalam sambutannya menyebut forum ini sebagai langkah berani generasi muda Sagea dalam memperjuangkan masa depan wilayahnya. Ia menilai, inisiatif tersebut merupakan bentuk keterlibatan aktif pemuda dalam mendorong kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Ini adalah langkah awal membangun komitmen bersama untuk melindungi kawasan karst Sagea, khususnya Gua Boki Maruru, sebagai aset ekologis, geologis, dan sosial,” ujarnya, Kamis (30/4/2026)
Menurut Adlun, perlindungan kawasan tersebut tidak bisa hanya dibebankan pada masyarakat lokal, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan akademisi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga Sagea sebagai investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi DAS, Jamaludin, menjelaskan bahwa karakteristik wilayah Maluku Utara sebagai daerah kepulauan membuat sebagian besar DAS berukuran pendek, namun tetap memiliki fungsi vital sebagai sumber air, pengendali banjir, dan penyangga kehidupan masyarakat.
Ia menyebut beberapa DAS prioritas di Maluku Utara, seperti Ake Butu, Ake Daru, Ake Tiabo, Ake Kobe, dan Ake Sangaji.
“Adapun DAS Ake Sagea masuk dalam kategori yang harus dipertahankan karena perannya yang strategis terhadap keseimbangan lingkungan,”tuturnya.
Dari sektor pariwisata, perwakilan Dinas Pariwisata Halmahera Tengah, Riki Nusa, menilai Sagea memiliki potensi wisata berbasis konservasi yang besar. Gua Boki Maruru disebut sebagai salah satu daya tarik utama dengan nilai sejarah, ekologis, dan geologis yang tinggi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan wisata harus dilakukan secara hati-hati, mengingat kawasan tersebut beririsan dengan aktivitas industri. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen mendorong pengembangan wisata ekologis yang berkelanjutan dan terukur.
Selain itu, pemaparan ilmiah, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Cahyo Rahmadi, menjelaskan bahwa kawasan karst Sagea merupakan sistem geologi purba dengan karakter hidrologi unik dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Gua Boki Maruru yang memiliki panjang sekitar 7 kilometer, lanjutnya, menjadi habitat penting bagi berbagai organisme bawah tanah, seperti kelelawar, troglophile, dan troglobite.
“Perubahan kecil di satu bagian kawasan bisa berdampak besar pada keseluruhan sistem ekologinya,” jelasnya.
Ia mengusulkan tiga langkah strategis dalam perlindungan kawasan Sagea, yakni menjaga kawasan permukaan, menerapkan pariwisata berbasis zonasi, serta memperkuat edukasi publik dan identitas lokal.
Menurutnya, upaya perlindungan Gua Boki Maruru tidak hanya berkaitan dengan pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga menjaga sistem kehidupan secara menyeluruh.













