Saloi

Ekonomi Tangguh Perempuan Kawasi

13
×

Ekonomi Tangguh Perempuan Kawasi

Sebarkan artikel ini
Salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang dikembangkan Ibu-ibu di Desa kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Foto : Dokumentasi Harita

Kehadiran kawasan industri terpadu yang beroperasi di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara benar-benar ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk kesejahteraan kelompok perempuan. Aktivitas industri tersebut ikut menggerakkan perekonomian lokal dan menyerap lebih dari 23.000 tenaga kerja.

Kendali – Sinar matahari pagi terlihat belum terbit sempurna, udara bahkan masih terasa dingin, namun suasana di teras-teras rumah Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan sudah terlihat kesibukan. Di kejauhan, aktivitas kawasan industri nikel terus berdenyut—truk hilir mudik, mesin bekerja tanpa jeda. Namun sekelompok perempuan sudah sibuk menata tumpukan produk olahan tradisional.

Mereka bekerja dengan presisi yang mengagumkan. Sesekali mereka tidak menyurutkan tawa dan obrolan ringan, dan saling mengoreksi kerapian lipatan bungkusan. Ada yang bertugas memastikan label stiker bertuliskan “produk lokal kawasi” tertempel lurus pada wadah keripik pisang olahan, ada juga yang bertugas menata produk di tempat box untuk diangkut ke area kantin perusahaan.

“Pekerjaan ini sudah menjadi pekerjaan rutin kami setiap pagi. Semenjak ada perusahaan aktivitas kami menjadi sibuk,”kata Putri Haji Ibrahim, Perempuan Kawasi kepada kendali.id pada Selasa 21 April 2026.

Putri adalah perempuan desa Kawasi yang membentuk kelompok usaha kecil dengan menghimpun ibu-ibu tetangganya yang aktivitas sebelumnya hanya menghabiskan waktu menunggu perahu suami di dermaga. Ia mengajak sejumlah perempuan desa kawasi untuk membentuk kelompok usaha kecil agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga. Sebelumnya sumber pendapatan utama perempuan di Desa Kawasi sangat bergantung pada hasil laut atau kebun yang dikelola suami.

Namun semenjak masuknya investasi nikel di Pulau Obi melalui perusahaan seperti PT Trimegah Bangun Persada (Harita Nickel), ritme kehidupan perempuan di Desa Kawasi perlahan berubah. Banyak perempuan desa Kawasi yang semakin sibuk mengerjakan pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka mengerjakan berbagai jenis usaha kecil skala rumahan untuk memasok ribuan porsi makanan ringan bagi pekerja tambang.

Putri mengatakan sudah lebih dari tujuh tahun usaha kecil yang dikelolanya berjalan. Dirinya dan sejumlah perempuan di desa Kawasi menjalan kelompok usaha dalam memproduksi olahan skala rumahan dengan tingkat pendapatan mencapai 30-45 juta per bulan. Sudah banyak perempuan di Desa Kawasi yang mulai ikut membentuk kelompok dan mengolah komoditas lokal seperti pala hingga produk olahan siap jual. Hingga kini sudah ada sepuluh kelompok perempuan desa Kawasi yang membentuk usaha kecil untuk memasok makanan ke kontraktor perusahaan.

“Perubahan ini terjadi tujuh tahun terakhir. Kami yang dari awalnya hanya bisa bertani sekarang sudah bisa mengemas produk olahan dengan nilai jual,”ujar Putri.

Tina Nomor (33), salah satu perempuan Desa Kawasi yang juga ikut membentuk kelompok usaha. Ia salah satu warga desa yang mengajak kelompok perempuan muda kawasi untuk merintis usaha kecil yang bergerak di sektor ritel market. Ia dan kelompoknya mengembangkan usaha minimarket yang menjual kebutuhan harian pekerja tambang seperti barang kebutuhan pokok. Bersama beberapa perempuan lain di desanya, Tina mengelola minimarket yang diberi nama Hop Mart. Kini usahanya sudah memiliki omset lebih dari 900 juta pertahun atau 90 juta perbulan. “Sekarang usah ini sudah berjalan lebih dari lima tahun,”kata Tina.

Menurut Tina, sejak kehadiran industri tambang nikel di Obi ada banyak perempuan desa Kawasi yang mulai mendapatkan tambahan penghasilan untuk keluarganya dari kelompok usaha yang dirintisnya. Tak sedikit dari mereka bahkan sudah bekerja di perusahaan dan merintis sebagai mitra dalam  distribusi hasil makanan olahan. Penghasilannya cukup lumayan, rata-rata penghasilan tambahan perempuan di desa kawasi setiap bulan bisa mencapai 3-4 juta

“Dulu sebelum ada industri nikel, sebulan perempuan di desa kawasi paling tinggi hanya bisa mendapatkan penghasilan 1 juta per bulan. Itupun terkadang juga bergantung pada penghasilan suaminya bertani dan nelayan. Tapi sekarang, sudah banyak yang memiliki penghasilan tambahan,”ujar Tina.

Arifin Saroa Kepala Desa Kawasi mengakui, tingkat kesejahteraan kelompok perempuan di desa Kawasi terus mengalami peningkatan cukup signifikan. Banyak perempuan di Desa Kawasi yang telah memiliki penghasilan tambahan setiap bulannya semenjak investasi tambang masuk di Pulau Obi.

“Kalau sekarang kita sudah jarang melihat perempuan di desa kawasi hanya duduk di pinggir pantai sambil melihat suami pulang melaut. Mereka rata-rata sudah punya aktivitas sampingan,”ungkap Arifin.

Aktivitas Ekonomi di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Foto : Dokumentasi Harita

Berdasarkan pendataan yang dilakukan desa, sudah ada dua puluh usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) di Desa Kawasi yang dibentuk kelompok perempuan. Ada lebih 80 orang yang terlibat dalam pengembangan usaha tersebut. Jumlah itu belum termasuk UMKM hasil program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui Unit Kewirausahaan Masyarakat (UNIKK) yang dikembangkan Harita dengan anggota mencapai 42 orang.

Data 2024, jumlah unit usaha mikro di Pulau Obi menunjukan peningkatan hingga mencapai 15-20 persen per tahun sejak 2022. Saat ini diperkirakan ada 4 ribu-5 ribu unit UMKM yang tersebar di seluruh wilayah Pulau Obi pada akhir 2024 dengan nilai transaksi Rp 150 miliar per tahun.

Kehadiran kawasan industri terpadu yang beroperasi di Kawasi yang salah satunya yang dikelola oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) benar-benar ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aktivitas industri tersebut ikut menggerakkan perekonomian lokal dan menyerap lebih dari 23.000 tenaga kerja. “Bisa dibilang ekonomi masyarakat di Kawasi sampai saat ini sangat baik,”ujar Arifin.

Pemberdayaan Perempuan Komitmen Daerah

Bassam Kasuba, Bupati Halmahera Selatan, mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan pada dasarnya sangat mendukung upaya pemberdayaan ekonomi bagi kelompok perempuan di wilayah tambang di Pulau Obi. Hal itu karena pemberdayaan ekonomi untuk kelompok perempuan sama halnya mendukung upaya mewujudkan perempuan tangguh secara ekonomi di Halmahera Selatan.

Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan berfokus pada penguatan ekonomi masyarakat yang selaras dengan RPJMD 2021-2026 dan RKPD 2026. Program pemberdayaan perempuan di Pulau Obi menjadi salah satu prioritas lantaran diarahkan pada kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal, khususnya di sektor perikanan, ekonomi kreatif, dan UMKM.

Pemerintah bahkan telah  menginisiasi program pemberdayaan ekonomi yang dikhususkan untuk perempuan di Pulau Obi. Salah satunya adalah dukungan terhadap peningkatan kapasitas kelompok usaha perempuan dan ekonomi kreatif secara keseluruhan yang dikembangkan anak muda. Pihaknya juga bekerja sama dan berkolaborasi dengan perusahaan untuk mengadakan pelatihan keterampilan, serta ikut memfasilitasi akses bantuan modal bagi kelompok usaha perempuan agar mereka memiliki daya saing di tengah ekosistem industri.

“Semua itu sudah kami lakukan lima tahun terakhir. Dukungan kami sebenarnya tidak semata-mata untuk kelompok perempuan di Obi saja, tetapi juga menyasar sektor UMKM secara keseluruhan di Halmahera Selatan,”kata Bassam.

Bupati Halmahera Selatan saat menyapa warga Kawasi, Obi usai membuka acara SAPA Kawasi aksi ekonomi kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan industri . Foto : Dokumentasi Harita.

Dalam lima tahun terakhir, UMKM di Halmahera Selatan tercatat menjadi salah satu sektor yang mendorong tingkat pendapatan ekonomi warga. Pendapatan perkapita penduduk Halmahera Selatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah pengembangan kawasan industri nikel terintegrasi di Pulau Obi berjalan. Ekonomi warga tumbuh jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran Rp 83,7 juta per tahun pada 2025.

Badan Pusat Statistik bahkan mencatat, pertumbuhan ekonomi Halmahera Selatan pada 2024 mencapai 23,95 persen dan tertinggi di Maluku Utara. Secara nasional dampak hilirisasi juga membuat ekonomi Maluku Utara tumbuh 32,09 persen pada triwulan II 2025, melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 10,76 persen (year on year/yoy).

Chart : Fajar Saputra I Kendali.id . Source : BPS Halmahera Selatan & Maluku Utara . created with Datawrapper

Vicklan Lakoruhut dari Fakultas FISIP. Jurusan sosiologi. Universitas Pattimura dalam penelitiannya yang berjudul “Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Kawasi Akibat Pembangunan Industri Nikel Di Obi Halmahera Selatan” mengungkapkan kehadiran industri nikel di wilayah Desa Kawasi memiliki peran sangat besar terhadap peningkatan ekonomi masyarakat desa. Kualitas  hidup mereka menjadi lebih baik dan pekerjaan saat ini memberikan  peningkatan  pendapatan  yang  relatif  lebih  stabil dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

“Perubahan struktur pekerjaan saat ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam meningkatkan kondisi ekonomi dan status sosial mereka. Dengan  demikian,  industrialisasi  tidak  hanya membawa  perubahan  pada  aspek  ekonomi,  tetapi  juga  berkontribusi  terhadap  transformasi  status  sosial  masyarakat  DesaKawasi,”ujar Vicklan.

Suryo Aji, Community Development Superintendent Harita Nickel mengatakan, Harita Nickel sebagai salah satu perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Obi secara aktif sangat mendukung pemberdayaan perempuan desa di sekitar area operasional. Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), Harita Nickel terus menggerakkan perempuan desa yang mayoritas adalah ibu rumah tangga untuk aktif dalam kegiatan ekonomi.

Saat ini kelompok binaan Harita Nickel bergerak di tiga sektor yakni pengolahan pangan, pertanian, dan perikanan. Hingga kini, kelompok binaan itu telah memasok kebutuhan empat unit bisnis perusahaan, mulai dari kantin, kafe, hingga minimarket. Pemberdayaan UMKM tersebut telah menghasilkan omzet bulanan hingga mencapai sekitar Rp 14 miliar, melibatkan 26 kelompok usaha, serta 65 supplier lokal. Secara keseluruhan, program ini telah menciptakan 729 lapangan kerja. Kegiatan ekonomi yang dikembangkan bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga investasi jangka panjang bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin membuka jaringan, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kemampuan UMKM serta supplier lokal agar mampu memenuhi standar perusahaan,” ujar Suryo.

Salah satu UMKM yang dikembangkan ibu-ibu dan berkembang pesat adalah KSU Annisa Jaya, Mereka telah mendapatkan kepercayaan dari unit bisnis Harita Nickel, PT Trimegah Bangun Persada (TBP) dan Gane Permai Sentosa (GPS). Usaha kecil yang diinisiasi ibu-ibu majelis taklim ini dapat berkembang dan beroperasi sebagai badan usaha atas nama MAMS.

Usaha mereka menawarkan produk berupa makanan, namun juga berupa jasa housekeeping dan laundry untuk mess karyawan. Ada juga kelompok tani Akelamo Jaya yang merangkul perempuan Desa Kawasi untuk memaksimalkan potensi pertanian di sekitar tempat tinggal mereka. “Kami berharap model kolaborasi seperti ini dapat terus berkembang agar kesejahteraan masyarakat di sekitar lingkar tambang semakin merata dan berkelanjutan,”kata Suryo. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *