kendali – Nama Kikong (bukan nama asli) lebih dulu dikenal sebagai petarung yang menghabiskan waktunya di atas matras dan di dalam oktagon. Atlet MMA dan Muaythai yang pernah berlaga di ONE Championship itu tumbuh bersama dunia bela diri sejak usia dini. Ketertarikannya dimulai ketika masih duduk di bangku sekolah dasar melalui taekwondo, lalu berlanjut ke silat saat SMP.
Lingkungan sekolah yang keras membuat latihan fisik bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan. Memasuki SMA, ia tetap mempertahankan latihan taekwondo sebelum akhirnya menekuni Muaythai secara serius pada usia 22 tahun—titik awal perjalanan profesionalnya sebagai petarung.
Namun, bagi Kikong, keberanian tidak hanya diuji di dalam ring. Pada Juni 2026, putra asli Ternate ini membuka babak baru dengan merilis single debut bertajuk Rencana Gila.
Langkah ini menjadi pintu masuk menuju proyek mini album yang direncanakan meluncur pada akhir tahun. Musik menjadi medium baru untuk menyuarakan kegelisahan yang selama ini dipendam, bukan hanya kombinasi pukulan jab-stright -elbow, melainkan melalui lirik dan melodi.
Rencana Gila lahir dari pengamatannya terhadap kehidupan modern yang bergerak semakin cepat. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan zaman, ia melihat semakin banyak orang tergoda memilih jalan pintas demi mengejar ambisi.
Hasrat untuk mendapatkan segalanya secara instan membuat berbagai cara dihalalkan, bahkan ketika harus mengorbankan nilai dan prinsip.
“Menulis lagu dan bertarung mempunyai kesamaan, sama-sama butuh keberanian,” ujar Kikong.
Pesan itu menjadi benang merah dalam lagu tersebut. Keberanian, menurutnya, memang diperlukan untuk mewujudkan mimpi, tetapi harus tetap berada dalam batas yang benar.
Berani mengambil risiko bukan berarti menghalalkan segala cara. Sebab, keberanian yang dibangun di atas jalan yang keliru pada akhirnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.
Lewat Rencana Gila, Kikong memperlihatkan sisi lain dari seorang petarung. Jika selama ini ia menyampaikan perlawanan dengan kepalan tangan, kini ia memilih mikrofon sebagai senjata baru—mengubah keresahan menjadi musik yang lahir dari pengalaman hidup dan pertarungan melawan dirinya sendiri.**













