Opini

Adakah bahasa “Indonesia Timur”?

50
×

Adakah bahasa “Indonesia Timur”?

Sebarkan artikel ini
Foto: Safar Nurhan. (Dok: istimewah).

Safar Nurhan (Penulis)

Pertanyaan tersebut muncul saat orang-orang di Jakarta terpapar dengan lagu-lagu yang mereka sebut “lagu Timur”. Dengan media sosial, khususnya TikTok, arus budaya seperti musik mudah tersebar ke seantero wilayah di Indonesia. Jika dulu musik (dari) Jakarta yang mengokupasi belantika musik Tanah Air, sekarang beda, siapa pun bisa—tergantung algoritma, dan algoritma beberapa kali berpihak kepada pemusik dari “Indonesia Timur”.

Saya terangkan dulu batasan “Indonesia Timur” dan “Indonesia Barat” agar jelas garis batasannya—karena ini masih menjadi perdebatan wilayah mana saja yang masuk “Indonesia Timur” dan bukan. Pembatas kedua wilayah ini saya mengacu pada Wallace Line atau Garis Wallace, bukan wilayah Negara Indonesia Timur (NIT). Wallace Line merupakan garis batas fauna yang digambar oleh Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dari Inggris pada 1859, kemudian diberi nama oleh ahli biologi Inggris Thomas Henry Huxley.

Di antara Kalimantan dan Sulawesi (atau Selat Makassar) dan antara Bali dan Lombok (atau Selat Lombok) ada garis maya sebagai pembatas yang membuat dua wilayah ini memiliki perbedaan flora dan fauna. Hewan-hewan di Sulawesi tidak sama dengan hewan Kalimantan, begitu sebaliknya. Wallace heran mengapa jenis burung di Sulawesi itu berbeda dengan jenis burung di Kalimantan, padahal di Selat Makassar tidak ada tembok raksasa yang menghalangi burung terbang antara dua wilayah.

Jadi, mana saja yang masuk Indonesia Timur dan Indonesia Barat? Berdasarkan Garis Wallace tadi, maka Bali, Madura, Jawa, Kalimantan, Sumatra, Bangka, Kepulauan Riau merupakan Indonesia Barat, sementara Sulawesi, Nusa Tenggara (Barat dan Timur), Kepulauan Maluku, dan Papua adalah Indonesia Timur.

Kita kembali ke pembahasan bahasa. Saya tinggal di sebuah gang di Jakarta Timur. Suara anak-anak kecil yang bermain di gang sangat terdengar dengan jelas. Di saat bermain, mereka kadang kala menyanyikan lagu-lagu yang sedang viral di media sosial.

Untuk “lagu Timur”, mereka hafal lagu “Stecu-Stecu” dari Faris Adam, “Ubur-Ubur Ikan Lele” dari Juan Reza feat. Jacson Zeran & Chesylino, “Ngapain Repot” dari Toton Caribo feat. Wizz Baker & Fresly Nikijuluw, “Pica-Pica” dari Juan Reza, “Orang Baru Lebe Gacor” dari Ecko Show feat. Juan Reza & Chesylino, dan terakhir dari Toton Caribo feat. Novia Bachmid & Jacson Zeran dengan lagu “Ambon Manise”. Dan, masih banyak lagi lagu yang sempat viral di awal Covid-19, seperti grup musik dari Jayapura, Shine of Black. Sebenarnya, sudah ada lagu yang populer di semua kalangan sejak awal 2000-an yang berasal dari Maluku, yakni “Poco-Poco”.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, saya merasa ini “aneh” karena biasanya hanya saya sendiri yang mendengar dan mengonsumsi “lagu-lagu Timur” tersebut—walau bukan daftar lagu di atas yang saya dengar. Saya kerap memutar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Loela Drakel, Mitha Talahatu, dan Yopie Latul. Dan, kami menyebut lagu mereka adalah lagu Manado dan lagu Ambon, alih-alih menyebut “lagu Timur”. Sekarang, musik dari Indonesia Timur didengar dan dinyanyikan oleh orang-orang di Indonesia Barat.

Tentu saya senang, bubble musik dari wilayah Indonesia Timur bisa pecah didengar oleh banyak orang yang tidak saja dari Indonesia Timur, tetapi juga di Indonesia Barat. Namun, keviralan lagu-lagu dari Indonesia Timur memunculkan kekeliruan baru bahwa lirik “lagu Timur” yang mereka dengar adalah “bahasa Timur”, dan “lagu Timur” yang mereka maksud hanya berasal dari Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.

Saya kasih contoh. Ketika lagu Ecko Show yang berjudul “Orang Baru Lebe Gacor” direspons dengan buruk oleh Agogo Violin dengan lagu “Tor Monitor 2”, Agogo diserang habis-habisan oleh warganet. Ejekan mereka—kalau tidak mau disebut sebagai kritik—bahwa nada, gaya, hingga bahasa Agogo berusaha seperti “lagu Timur”, sehingga “Tor Monitor 2” dianggap tidak valid sebagai “lagu Timur”.

Jika Agogo meniru lagu Ecko Show, itu benar. Namun, apabila disebut meniru “musisi Timur”, ini agak janggal karena Agogo juga kan dari Indonesia Timur. Agogo dan Ecko sama-sama berasal dari Sulawesi. Agogo dari Pulau Muna, tetapi berkarier di Makassar, dan Ecko Show dari Gorontalo. Kenapa ini menjadi pertengkaran?

Karena “lagu Timur” yang mereka konsumsi menggunakan kosakata seperti “su”, “sa”, “beta”, “ko”, “katong”, “kamong”, “ngana”, dan seterusnya yang mereka asumsikan bahwa itu berasal dari Papua, Kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Padahal, di Sulawesi bagian utara (Sulawesi Utara, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah) pun memakai langgam demikian, meski ada perbedaan sedikit. Di Manado dan Gorontalo, misalnya, ada kata “torang”, “kamorang”, “ngana”, dan seterusnya. Dan, kata-kata ini tidak ada di Sulawesi bagian selatan (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara).

Lirik lagu “Orang Baru Lebe Gacor”, seperti “waktu tong sama-sama”, “adoh e cinta lama so ba abu”, dan “Sa mau panggil tapi sa lupa ko pu nama” pencampuran Melayu Gorontalo dan Melayu Papua. “So” dipakai di Gorontalo, sementara di Papua memakai “su” yang dua-duanya memiliki arti ‘sudah. “Ko pu nama” digunakan oleh teman-teman Papua, sementara Sulawesi bagian utara memakai “Ngana pe nama” yang memiliki makna ‘namamu’. Jadi, lirik “Sa mau panggil tapi sa lupa ko pu nama” apabila dibahasaindonesiakan menjadi ‘Saya mau panggil, tetapi saya lupa namamu’.

Bagaimana lirik lagu “Tor Monitor 2” karya Agogo Violin? Jelek. Banyak kata dan imbuhan yang tidak sesuai pada tempatnya. Padahal, ia bisa membuat lagu dengan langgam Melayu Muna atau Melayu Makassar—jika memang ia mengidentifikasi diri sebagai orang Makassar. Sebab, bahasa Melayu Makassar pun ada, misalnya, partikel “mi”, “pi”, “ji”, dan seterusnya.

Jadi, adakah bahasa Indonesia Timur? Jawabannya tidak ada. Di Indonesia Timur hanya ada tiga bahasa: bahasa lokal, bahasa Melayu (sesuai langgam masing-masing daerah), dan bahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *