Opini

Interupsi untuk Ferry Irwandi dan Malaka Project

21
×

Interupsi untuk Ferry Irwandi dan Malaka Project

Sebarkan artikel ini
Marlon Mochtar Basara (Personel Avsec Bandar Udara Sultan Baabullah).

Marlon Mochtar Basara – (Personel Avsec Bandar Udara Sultan Baabullah)

Ferry Irwandi dan Malaka Project perlu hati-hati bicara manakala terburu-buru menyamakan logika mistika dengan dunia klenik yang mereka klaim ditimba dari magnum opus “Madilog” karya Tan Malaka.

Lebih jauh lagi–dan ini tak kalah penting–Malaka Project sangat tidak Tan Malaka, anti-Tan Malaka. Mereka melepaskan citra-diri Tan Malaka dari tubuhnya yang komunis, subversif, gerilyawan kiri yang mendedikasikan hidup sepenuhnya pada perjuangan proletariat untuk revolusi.

Ensiklopedia Tan Malaka menjejak peluh keringat di tengah massa aksi, organisator lintas benua yang menghendaki emansipasi rakyat Dunia Ketiga, martir militan yang bergerak di altar grassroot, dan terbuang dari penjara ke penjara. Malaka Project telah mereduksi Tan Malaka pada taraf paling brutal, suatu penggusuran genealogis subjek Tan Malaka yang historis dan politis.

Di tangan Malaka Project, Tan Malaka dibaptis jadi student borjuis, pedagog murahan untuk tujuan komersial. Tan Malaka yang anti-penghisapan— di tangan Malaka Project, dieksploitasi jadi mesin pendulang benefit. Malaka Project telah membangkitkan Tan Malaka dari liang kubur untuk direkonstruksi ulang menjadi liberal kanan perkotaan.

Tan Malaka menulis traktat Madilog 500an halaman untuk mempersenjatai epistemologi rakyat Indonesia akan corak berpikir historical-materialisme dan dialektika-materialism yang terinspirasi dari tesis filosofis Karl Marx dan Friedrich Engels di Eropa sekaligus perangkat ilmiah memukul diskursus mitologi yang terejawantah dalam kebudayaan feodal yang tumbuh subur di Hindia abad 18.

Bagi Tan Malaka, kebudayaan feodal kontradiktif dengan kesadaran kritis dan niscaya menghambat proses revolusi sosial. Ia ingin mengubah paradigma konservatif menjadi paradigma transformatif yang bermuara pada prakis revolusioner rancang-bangun tatanan suprastruktur dan basic struktur masyarakat. Hipotesis Tan Malaka sebetulnya tak jauh dari konsep yang dikembangkan Ibnu Khaldun dan Auguste Comte di bidang sosiologi perihal tiga evolusi kesadaran masyarakat.

Yang perlu dicatat adalah istilah logika mistika dipakai Tan Malaka dalam pengertian populer, mainstream, bukan dalam tradisi filsafat yang rigorous, sehingga salah kaprah menggeneralisir atau mengidentikkan logika mistika dengan klenik, mistifikasi irasional, khurafat dan takhayul.

Dalam arena filsafat, diskursus logika mistika punya tempat tersendiri, punya jejak historis yang memikat sehingga menarik perhatian para filosof Islam, Dunia Barat, hingga Kebudayaan Asia– tidak seperti Ferry dan Malaka Project persepsikan disertai labeling negatif.

Teks-teks Fritjof Capra, misalnya, membentangkan sofistifikasi intelektual yang cemerlang; mengintegrasikan observasi alam, pengalaman spiritual, dan refleksi filosofis yang bernas. Dalam literatur klasik Nusantara terdapat konsep kunci yang berisi doktrin filosofis akan relasi harmoni antara mikrokosmos, makrokosmos, dan mahakosmos.

Logika mistika tidak menihilkan empirisme dan rasionalisme serta tidak berposisi vis a vis dengan artikulasi ilmiah. Logika mistika justru menukik lebih jauh meradikalkan dimensi esoteris dan enigmatis dari struktur realitas yang tak bisa disingkap oleh mazhab lain seperti yang dicetuskan David Hume dan Rene Descartes. Dengan kata lain, logika mistika mendaki puncak mukasyafah atau persaksian hakikat di atas anasir materialitas serta pelampauan paripurna terhadap piranti bayani (tekstual) dan burhani (rasionalitas). Ia adalah wajah terdalam penyusunan realitas.

Apakah Ferry dan Malaka Project akan mengatakan teori filosofis yang dikembangkan Plato, Ibn Arabi, Aquinas, Mulla Sadra, Shurawardi, Ibnu Sina— untuk menyebut beberapa nama—sebagai non-ilmiah dan berposisi diametral dengan rasionalitas?

Tidakkah teori gerak substansial (al hikmah al-muta’aliyah) Mulla Sadra mensintesakan hukum dialektika, irfani, dan wahyu jauh lebih mendalam dari yang dibicarakan Karl Marx atau Tan Malaka? Tidakkah teori wahdat al-wujud yang dikembangkan Ibn Arabi dari rumpun tasawuf falsafi dengan penekanan pada pengalaman spiritual dan penalaran filosofis telah menyumbang perspektif revolusioner cara memahami kehakikian eksistensi? Jangan tergesa menyimpulkan sebelum tabayyun, observasi mendalam, pemahaman utuh akan sesuatu. Sebab, penyimpulan tanpa pendalaman merupakan bentuk lain kekerasan pemikiran.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *