Opini

Afrizal Malna Dalam Dua Perspektif : Bagian II

4
×

Afrizal Malna Dalam Dua Perspektif : Bagian II

Sebarkan artikel ini
Marlon Mochtar Basara - Penulis Lepas

Marlon Mochtar Basara – Penulis Lepas

Alasan apa puisi Afrizal tidak bisa dibaca? Afrizal bukan mitos yang tak tersentuh dialektika sejarah. Selalu ada garis resiprokal antara interpretator dan objek material, penyair dan konteks zaman yang melatarinya. Afrizal hanya bisa didekati jika kita mengerti– meminjam Francois Lyotard– sejarah ‘grand narrative‘ dari tiga pilar utama rezim diskursif: teosentrisme, antroposentrisme, ekosentrisme.

Karya-karya Afrizal dengan sadar menjalankan strategi deontologi terutama terhadap wacana antroposen yang mengukuhkan superioritas manusia sejak kredo ‘cogito ergo sum’ mendaulat diri sebagai imam besar. Subjek manusia, aku-lirik fasistik itu, tampil hegemonik sepanjang gelanggang peradaban disertai derivasi struktur-material yang ditelurkannya.

Rimba tekstual Afrizal tak pelak adalah kudeta estetika atas otoritas modernisme berikut ekses yang dibawanya, antitesis terhadap paradigma tua bangka yang diam-diam dicurigai menyelundupkan agenda eksploitasi.

Dengan kata lain, suara interupsi dari tepian. Suara interupsi itu berbunyi tak nyaring-lantang seperti sajak penyair kiri, tak revolusioner, ia bergerak dengan nada rendah namun menggemparkan. Afrizal adalah reinkarnasi Andre Breton yang mencoba memerdekakan ekosentrisme (benda, alam, peristiwa) dari kuku tajam kediktatoran antroposen.

Garis start Afrizal adalah seniman, tepatnya perupa yang menggandrungi teater. Ia lebih karib dengan dunia seni rupa dan pertunjukkan: gambar, sketsa, bidang, tekstur, ornamen, aktor, lakon, properti. Sastrawan adalah kelahiran kedua. Afrizal mengevakuasi bahasa seni rupa ke bahasa literer, melakukan mutasi objek konkret-material ke ranah imajinatif-kepenulisan. Maka, tertulislah puisi-instalasi; atau instalasi yang di-puisi-kan.

Puisi dan cerpen Afrizal adalah tuturan benda-benda yang dipentaskan ke dalam kepustakaan, mencoba membangkitkan supremasi objek yang selama ini dimarginalkan, dikerangkeng, dirampas otonomi dan dipaku sebatas figuran atau sekunder belaka. Afrizal benderang membalikkan objek menjadi subjek, memberi nyawa pada benda sembari meniupkan taufan agar berkibar. Dalam konteks dan proses itu, ia mengusung subversivitas lain, dekonstruksi tekstual, pemberontakan makna dan tata bahasa.

Kata ‘aku’ dalam puisi atau cerpen Afrizal tidak selalu merujuk pada ordo biologis primata bernama manusia, the human, melainkan bisa pula dialamatkan pada eksistensi benda-benda, nature, fragmen sejarah, apapun yang eksternal dari manusia. Setiap klasifikasi objek yang non-manusia memiliki otonomi dan independensi, riwayat sejarah, modus eksistensi– diluar persepsi manusia terhadapnya. Mereka ada dan berproses dalam keberadaannya, keunikannya, kemenjadian terus-menerus, tanpa membutuhkan penamaan dan pemaknaan sang human. Apa artinya? Boleh jadi mawar bukanlah mawar, gunung bukanlah gunung, korek api bukanlah korek api dalam pengertian dan konsensus tata bahasa manusia.

Mawar, gunung, korek api– adalah ia pada dirinya sendiri yang memiliki sejarah dan bahasa di luar definisi manusia yang berpretensi merengkuh. Di sini, berlaku semacam hukum ‘das ding an sich’ versi Immanuel Kant. Tak heran, ada larik puisi Afrizal yang berbunyi bicaralah ayamku, sendokku, pisau-pisauku!

Manakala puisi Afrizal bicara tentang pembebasan perempuan, ia tak bicara dalam kosakata wacana feminisme yang impulsif mengusung revolusi sekarang juga. Puisi Afrizal seperti membungkuk sambil tadahkan permohonan lirih, seperti puisi “Gadis Kita” yang ditulis tahun 1985:

“O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku” 

Puisi di atas memotret kedaulatan tubuh perempuan yang dirampas rezim tanda industri kecantikan. Hasrat estetika terhisap dan dibentuk oleh diskursus kecantikan yang diproduksi kanal-kanal simulakra lewat iklan, produk, event.

Naturalitas tubuh-personal telah berganti jadi etalase komoditas yang menghamba pada konstruksi ideologis popular, dan menjadikan tubuh perempuan sebagai sasaran empuk eksploitasi di satu sisi, dan akumulasi profit kapitalisme di sisi lain. Metafora ‘pantai’ mewakili citra otentisitas yang dikontraskan dengan imitasi.

Jika ingin lebih analitis, terbanglah ke postmodernisme Prancis dan buka gembok puisi dan cerpen Afrizal lewat kunci Francois Lyotard dan Jean Baudrillard. Konsep ‘petit recits‘ ala Lyotard menggarap narasi kecil yang bersifat plural dan mikro, artikulator yang mengangkat martabat–dalam istilah Michel Foucault– pengetahuan-pengetahuan tertindas.

Konsep masyarakat konsumerisme di era kapitalisme lanjut serta teori simulakra di era industri budaya ala Baudrillard juga korelatif menjelaskan operasi tekstual penyair Afrizal. Lebih lagi, masuklah lewat lensa Julia Kristeva dan Gayatri Spivak untuk memahami keterbelahan subjektivitas subaltern masyarakat pascakolonial yang relatif termanifestasi dalam karya Afrizal.

Aktivisme sosial kelas menengah Afrizal inheren dari kehidupan Jakarta yang memperlakukan hidup serupa AKABRI: disiplin, keras, dicambuk waktu, diperas tenaga dan pikiran. Dimensi sosiologis dan kultural masyarakat urban Jakarta (dan tak hanya Jakarta) berserakan serupa serpihan-serpihan kaca, belum ditambah kekerasan politik (kebijakan) dan militer (persekusi, pemenjaraan, penculikan) skala lokal-nasional serta limbah post-truth yang diedarkan media kontemporer.

Negativitas tersebut mendestruksi kondusifitas lingkungan semantik dimana ruang publik terdistorsi oleh hipokrisi rezim kuasa: militer, kapital, ortodoksi. Bukankah Hindia, seperti diungkapnya, adalah luka menganga sejak halaman pertama kebangsaan? Di tengah chaos fenomenologis Afrizal kehilangan preferensi, dan mungkin kehilangan tubuhnya sendiri, tubuh personal-eksistensial, tubuh sosial, sejak keretakan menjalari tiga mata rantai tanda-penanda-petanda. Afrizal adalah Frankenstein!**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *