Marlon Mochtar Basara – Penulis Lepas
Bagian I
Nama sastrawan Afrizal Malna cukup heboh dibicarakan di tahun 1990-an lantaran karya-karyanya dinilai nyeleneh, tak punya koherensi, diluar kaidah baku teori sastra yang lazim berpegang pada prinsip gramatika, sintaksis, gita puitik, rima.
Afrizal bahkan dijuluki secara peyoratif oleh sebagian pegiat sastra sebagai dedengkot ‘puisi-gelap’ Indonesia, yakni puisi yang tak bisa dibaca. Tak bisa dibaca di sini bukan lantaran fontnya teramat kecil atau tak berhuruf, melainkan Afrizal menghadirkan susunan kalimat yang chaos, fragmentaris, disintegral, tak memiliki disiplin naratif.
Konsekuensi yang muncul kemudian ialah semesta teks Afrizal (terutama cerpen dan puisi) berdiri di atas partikularitas-partikularitas tak bertaut, saling bertabrakan, tumpang tindih, sarat akan ambivalensi makna. Para sarjana yang terbiasa berpikir sistematis dan bergerak dari dan di dalam pakem akan menggerutu: mustahil mencari pusat makna atau kebenaran (logosentrisme) dan akan tampak sia-sia berupaya menemukan tujuan akhir (teleologis) dari bentangan literer Afrizal.
Impresi pertama mayoritas pembaca yang berkenalan dengan karya Afrizal umumnya selalu mengernyitkan dahi, lalu secara gradual menarik konklusi bahwa mereka tengah berhadapan dengan tumpukan keganjilan yang rumit. Dalam momen frustasi, keputusasaan itu, puisi Afrizal spontan dipredikati sebagai ‘the others’ yang terkutuk, vampire pembuat onar, pengarang majenun yang tak punya empati terhadap pembaca.
Keganjilan karya Afrizal yang rumit dibaca itulah yang membuat kritikus Ignas Kleden geram dan turun gunung berpolemik sengit dengannya di Harian Kompas di tahun 1997. Kleden, akademikus pintar lulusan Bielefeld University Jerman, mula-mula menulis interpretasi kritis atas cerpen Afrizal bertajuk “Usaha Membuat Telinga”. Kleden menilai cerpen Afrizal lemah dan medioker, gagal menghadirkan gradasi pemaknaan yang kuat. Kleden lantas menyebut Putu Wijaya sebagai pembanding yang memenuhi kriteria idealitas tinimbang Afrizal.
Tak lama berselang, Kleden menurunkan esai galak tapi dengan fondasi ilmiah yang mengesankan berjudul “Otonomi Semantik dan Intervensi Pengarang”. Teori hermeneutika Paul Ricoeur ditarik untuk terlibat. Dalam esai tersebut Kleden melontarkan argumen yang terdengar seperti tinju pamungkas.
Sebuah teks yang sudah diproduksi dan didistribusi ke arena konsumen-pembaca memiliki riwayat dan kemerdekaannya sendiri. Pembaca adalah hakim yang dikalungi hak prerogatif penilaian. Pengarang tak lagi punya privilege memonopoli apakah karya tersebut definitif disebut artistik atau tidak, dinilai masterpiece atau mediokeritas, baik atau buruk menurut standar estetika.
Argumen Kleden paralel dengan pandangan Roland Barthes yang cukup masyhur tentang the death of the author, dan pula mengingatkan pada statement kepangarangan Pramoedya Ananta Toer bahwa setiap karya merupakan anak rohani pengarang, punya cara bernapas sendiri, ada yang hidup, ada pula yang mati. Apa artinya? Tak ada tempat bagi alter-ego pasca aku-lirik, pasca teks berlayar jauh dari jemari sang pengarang. Sudah selalu ada ‘bohemian rhapsody’ menari liar di antara tiga piramida: pengarang, teks, pembaca.
Afrizal tak punya paradigma estetika yang jelas. Tak punya dasar epistemologis. Tak punya referensi mutu artistik kepengarangan. Afrizal terlalu gemar bermain-main dengan eklektikisme, pembauran serampangan, seperti gelandangan sinting yang kehilangan arah dan tak tahu harus kemana. Teks-teks Afrizal berbicara kepada kita serupa fantasi (atau depresi?) seorang pasien skizofrenik dan, karenanya, telah menurunkan marwah kesusatraan ke derajat yang dangkal.
Sebagai artikulasi pemikiran, setiap perspektif sah dan punya tempat. Akan tetapi terhadap semua itu, pandangan serta penilaian miring yang disematkan Ignas Kleden (dan tak hanya Ignas Kleden) terhadap cerpen dan pusi Afrizal, benarkah karya lelaki berkepala plontos diidentik gelap, dangkal, dan tak bisa dibaca? Bagaimana jika terbuka pintu alternatif untuk melihat dan mencoba memahami Afrizal secara lebih hati-hati, tanpa apriori sepihak? Tidakkah lebih tepat Afrizal diteropong lewat kacamata posmodernisme, postkolonial, cultural studies?













