Pop Culture

Sanggar Folakatu Art Pentaskan “Kole Namo Baikole” Sayap Cahaya di Atas Negeri Rempah

14
×

Sanggar Folakatu Art Pentaskan “Kole Namo Baikole” Sayap Cahaya di Atas Negeri Rempah

Sebarkan artikel ini
Pementasan Sanggar Folakatu Art.

kendali— Ada cerita yang tidak cukup disampaikan dengan kata-kata. Ia membutuhkan tubuh yang bergerak, musik yang berdenyut, dan panggung yang menjadi ruang bagi ingatan untuk kembali hidup.

Cerita itu akan hadir melalui sendratari Kole Namo Baikole: Sayap Cahaya di Atas Negeri Rempah, garapan Sanggar Folakatu Art Tidore, di Open Space Pendopo Budaya Tidore, Sabtu, 5 September 2026, pukul 20.30 WIT.

Pertunjukan ini menjadi bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 yang diberikan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara kepada Sanggar Folakatu Art Tidore.

Di balik panggung, 50 penari dari jenjang SD, SMP hingga SMA sederajat di Kota Tidore Kepulauan telah menjalani proses latihan selama kurang lebih tiga bulan. Tiga kali dalam sepekan, tubuh-tubuh muda itu ditempa untuk mengenali irama, gerak, ruang, sekaligus cerita yang hendak mereka bawa ke hadapan penonton.

Baikole menjadi sumber inspirasi utama dalam karya yang disutradarai sekaligus dikoreografi Isa Al Awam atau yang dikenal sebagai Isa Tidore.

Ketua Sanggar Folakatu Art Isa Al Awam menyampaikan Burung Baikole tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari alam. Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, kemunculannya kerap dimaknai sebagai pertanda alam.

“Dari sana, saya mengembangkan burung tersebut menjadi simbol yang lebih luas: tentang kerinduan, kasih sayang, cinta, sekaligus kabar yang datang dari alam,”tutur Isa, yang juga sutradara pementasan Kole Namo Baikole.

Ia menuturkan Jejak itu yang kemudian kemudian bertemu dengan tradisi tari Lala yang telah lama hidup di pesisir Halmahera.

Gerakannya menyimpan bahasa yang tak selalu membutuhkan suara—sebuah cara untuk mengutarakan perasaan yang kemudian menyeberang dari ruang-ruang tradisi hingga panggung-panggung besar di Maluku Utara dan Nusantara.

Flayer Pentaskan “Kole Namo Baikole” Sayap Cahaya di Atas Negeri Rempah.

Namun Kole Namo Baikole tidak berhenti pada upaya menghidupkan kembali cerita lama. Ia mengajak penonton bercermin pada kehidupan hari ini.

Di hadapan manusia selalu tersedia pilihan. Menjadi angin yang datang membawa kematian bagi bunga, atau menjadi kabut yang membuat pelaut kehilangan arah. Tetapi ada pula pilihan untuk menjadi Baikole—terbang membawa kabar baik melalui setiap kepakan sayapnya.

Di mana ia hinggap, cengkeh berbunga. Di mana ia bernyanyi, ombak menjadi tenang.

Dalam bahasa pertunjukan lanjutnya, pesan itu diterjemahkan melalui tubuh para penari, musik, gerak, dan ruang panggung. Sebuah perjumpaan antara tradisi dan tafsir masa kini, antara ingatan tentang alam dan harapan tentang manusia.

Karena itu, Kole Namo Baikole bukan sekadar tontonan. Ia adalah pertanyaan yang dikirimkan dari panggung kepada siapa saja yang menyaksikannya: ketika dunia sedang membutuhkan kabar baik, kita ingin menjadi angin, kabut, atau Baikole.

“Pementasan ini akan dilaksanakan pada Sabtu malam nanti, 50 penari muda itu akan menjawabnya melalui gerak,”pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *