kendali — Perkumpulan Keluarga Pelajar Mahasiswa Nuku Yogyakarta menegaskan pentingnya penguatan nilai, sistem organisasi, dan keberlanjutan kaderisasi dalam momentum refleksi 30 tahun organisasi yang digelar secara daring.
Kegiatan yang mengangkat tema “Menjaga Akar, Menata Masa Depan: Refleksi 30 Tahun PKPM Nuku Yogyakarta Menuju Organisasi yang Berkelanjutan” ini diikuti oleh lebih dari 40 peserta yang terdiri dari alumni lintas angkatan, mulai dari generasi awal berdirinya PKPM Nuku hingga pengurus aktif saat ini.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Zulkifli Ohorella – Angkatan 1994. Ade Suryani – 2004 dan Rheza Pratama – 2007 yang berbagi pandangan mengenai arah dan masa depan organisasi.
Dalam diskusi, para pembicara menekankan bahwa usia 30 tahun perjalanan organisasi harus menjadi cerminan konsistensi dalam menjaga identitas dan kontribusi, khususnya dalam konteks kebudayaan dan peran mahasiswa Tidore di Yogyakarta.
Zulkifli Ohorella menyoroti pentingnya kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan.
Sementara Ade Suryani menekankan nilai kekeluargaan sebagai fondasi utama dalam proses berorganisasi, serta pentingnya menjadikan organisasi sebagai ruang bertumbuh yang inklusif.
Adapun Rheza Pratama menilai momentum 30 tahun sebagai titik refleksi untuk membaca arah organisasi ke depan, termasuk dalam penguatan literasi, konsolidasi, serta pembangunan sistem tata kelola yang efektif.
“Transfer kepemimpinan tidak bisa hanya bergantung pada figur, tetapi harus dibangun melalui sistem yang kuat, yang terpenting harus menciptakan dan memproduksi kader Intelektual baru”ujarnya.
Dalam forum tersebut, peserta juga menegaskan pentingnya menggeser orientasi kegiatan organisasi dari sekadar seremonial menuju capaian yang lebih substantif, seperti prestasi nyata, pengembangan kapasitas anggota, dan kontribusi berkelanjutan.

Di tengah arus perubahan yang cepat, nilai budaya dan identitas daerah tetap menjadi perhatian utama. Kader PKPM Nuku diingatkan untuk menjaga akar budaya dan nilai perjuangan sebagai bagian dari jati diri.
Refleksi ini juga menguatkan pentingnya solidaritas lintas generasi sebagai fondasi organisasi. Semangat menjaga kebersamaan dinilai menjadi kunci dalam merawat keberlanjutan organisasi.
Dalam konteks yang lebih luas, kader PKPM Nuku diharapkan tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu kembali ke daerah dengan membawa gagasan, solusi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan, khususnya di Maluku Utara.
“Tidore mungkin melahirkan kita, tetapi Yogyakarta yang membesarkan kita,”tutur Rheza yang juga sebagai dosen Unkhair Ternate.
Di akhir kegiatan, alumni menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi lintas generasi agar nilai-nilai organisasi tetap hidup dan berkembang.
Refleksi 30 tahun ini pada akhirnya menegaskan arah organisasi ke depan: membangun PKPM Nuku sebagai organisasi yang berkelanjutan, adaptif, dan berbasis sistem, serta melahirkan kader yang tidak hanya sadar identitas, tetapi juga siap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.**













