News

Enam Kekalahan Beruntun, Suporter Murka: Desakan Ganti Pelatih Menggema di Kandang Malut United

24
×

Enam Kekalahan Beruntun, Suporter Murka: Desakan Ganti Pelatih Menggema di Kandang Malut United

Sebarkan artikel ini
Sejumlah suporter Malut United yang tergabung dalam Nort Moluccans Boys (NMB) membentangkan spanduk protes di tribun usai laga kontra Persebaya Surabaya. Dalam aksinya, suporter menyuarakan kekecewaan mendalam atas enam kekalahan beruntun yang dialami tim.

Kendali — Tekanan terhadap Malut United kian memuncak setelah tim kembali menelan kekalahan, kali ini 0-2 dari Persebaya Surabaya di kandang sendiri. Hasil ini memperpanjang catatan buruk menjadi enam kekalahan beruntun—situasi yang memicu kemarahan terbuka dari para suporter.

Di tribun stadion, kelompok suporter Nort Moluccans Boys (NMB) meluapkan kekecewaan mereka melalui spanduk protes dan seruan lantang yang menuntut perubahan besar dalam tubuh tim. Aksi ini menjadi gambaran nyata bahwa kesabaran publik telah mencapai batasnya.

Salah satu suporter NMB menyampaikan bahwa kekalahan beruntun ini bukan lagi sekadar hasil pertandingan, melainkan akumulasi kekecewaan yang mendalam.
“Intinya NMB kecewa dengan 6 kali kekalahan beruntun Malut United. Kekalahan yang ke-6 kali adalah bentuk kekecewaan kami sebagai suporter, kami kehabisan kata-kata,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti performa tim saat menghadapi Persebaya yang dinilai jauh dari harapan. Menurutnya, para pemain terlihat tidak bermain dengan totalitas, sementara tren kekalahan yang terus terjadi menimbulkan tanda tanya besar.
“Mereka juga menambahkan match lawan Persebaya, agak bingung karena hampir semua pemain mainnya tidak totalitas. Yang kedua, kenapa akhir-akhir ini selalu kalah? Apa karena stamina, atau pelatih dan manajemen yang mohon maaf ‘bobrok’?” katanya.

Kritik tersebut secara tidak langsung mengarah pada lemahnya strategi dan kepemimpinan tim. Dalam enam laga terakhir, Malut United terlihat kehilangan identitas permainan—minim kreativitas di lini tengah, rapuh dalam bertahan, dan tumpul saat menyerang. Kondisi ini memperlihatkan tidak adanya respons taktis yang signifikan dari pelatih untuk keluar dari tren negatif.

Tak hanya pelatih, manajemen juga menjadi sasaran kritik. Suporter menilai tidak ada langkah konkret untuk memperbaiki performa tim, baik dari sisi komposisi pemain maupun evaluasi internal.

“Ini Liga 1, bukan liga tarkam. Sampai kapan ngabisin uang ongkos dan tiket cuma untuk bayar kekalahan?! Ayo berbenah, ganti pelatih, susun pemain dengan baik, dan jangan lupa rapikan manajemen,” tutupnya.

Desakan “ganti pelatih” yang menggema di stadion bukan sekadar luapan emosi, melainkan bentuk ultimatum. Jika tidak ada perubahan nyata dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin krisis ini akan semakin dalam dan menggerus kepercayaan publik terhadap klub kebanggaan Maluku Utara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *