kendali — Di sebuah rumah tenun di Tidore, suara alat tenun bukan sekadar bunyi ritmis. Ia adalah cerita tentang ketekunan, harapan, dan perjalanan panjang seorang perempuan muda bernama Sri Wahdania Abukasim Sangadji, atau yang akrab disapa Wani.
Perjalanan Wani dimulai pada 2018. Bukan dari ambisi besar, melainkan dari ajakan sederhana. Saat itu, ia diajak oleh Kak Ayu-temannya untuk mengikuti pelatihan tenun.
Dari sana, pintu baru terbuka. Wani kembali diajak, kali ini oleh sang owner, Ibu nita, untuk bergabung dan ikut melestarikan tenun Tidore (Putadino kayangan).
Pendekatan Mama Ita, kata Wani, terasa hangat dan tulus. Bukan sekadar mengajak bekerja, tapi merangkul. Dari situlah Wani bertahan—dan tumbuh.
Hari-hari Wani kini bukan lagi sekadar menenun. Ia dipercaya menjadi penanggung jawab di rumah tenun. Tugasnya tak ringan: mengawasi produksi, membimbing anggota baru, hingga memastikan kualitas kain tetap terjaga.
Di sela itu, ia juga kerap menggantikan peran Mama Ita sebagai pemateri—mengajar tenun di rumah tahanan, hingga berbagi ilmu ke siswa SMP dan SMA.
“Kesempatan ini bisa Wani dapat karena tim dan owner yang hebat,” ujarnya.
Tenun membawa Wani melampaui batas pulau. Ia telah berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri. Dalam waktu dekat, tim tenun mereka bersiap menuju Jerman pada akhir April. Tak berhenti di situ, Wani bersama sang owner juga berpeluang terbang ke Italia, mengajar tenun di Milan pada Juni mendatang.
“Doakan semoga lancar,” katanya, dengan harap yang tak bisa disembunyikan.
Namun bagi Wani, tenun bukan hanya soal kain. Ia juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Dari sisa-sisa benang dan limbah plastik, ia menciptakan produk bernilai ekonomi.
Lahirlah brand miliknya, Tulurassi, yang kini telah memiliki legalitas usaha (NIB). Produk-produknya sederhana namun bermakna—aksesoris seperti anting, gelang, cincin, kalung, hingga dompet berbahan daur ulang.
Di balik semua itu, Wani adalah sosok yang tumbuh dari pendidikan sederhana: ia menempuh di SDN 2 Gamtufkange (2006), SMP Negeri 2 Tidore (2008), dan SMA Negeri 3 Tidore (2011), sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Veteran Republik Indonesia Makassar.
Kini, di usia 32 tahun, Wani tak hanya menenun kain. Ia menenun mimpi—dari Tidore untuk dunia.
“Aku bisa kek gini karena selain dukungan dari owner dan Tim puta dino. Saya juga di support full sama suami dan juga keluarga,”tutupnya.*













