Kendali — Di tengah situasi pascagempa yang masih membayangi, pelajar SMAN 11 Ternate yang berada di Kecamatan Pulau Batang Dua tetap menjalani ujian kelulusan dengan penuh semangat. Memasuki hari kedua, Rabu (15/4), ujian tidak dilaksanakan di ruang kelas, melainkan di tenda darurat posko pengungsian.
Dengan fasilitas seadanya—meja dan kursi sederhana di atas tanah—para siswa terlihat fokus mengerjakan soal. Kondisi ini menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan tidak memadamkan tekad mereka untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, menyampaikan bahwa keputusan melaksanakan ujian di luar ruang kelas dilakukan demi menjaga keselamatan dan keamanan siswa. Meski seluruh persiapan teknis ujian telah rampung sejak 13 April dan panitia telah siap, pelaksanaan di sekolah belum memungkinkan.
“Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Selain faktor keselamatan, kondisi psikologis siswa juga menjadi perhatian pemerintah. Dalam situasi yang belum sepenuhnya kondusif, siswa dikhawatirkan tidak dapat mengikuti ujian secara optimal jika dipaksakan di lingkungan yang tidak aman.
Sebagai bentuk respons cepat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyediakan tenda belajar sementara guna mendukung kelangsungan proses pendidikan, termasuk pelaksanaan ujian akhir.
Salah satu siswa mengaku telah dua hari mengikuti ujian di tenda pengungsian. Meski berada dalam keterbatasan, ia merasa tetap dapat mengikuti ujian dengan cukup nyaman.
“Puji Tuhan, walaupun di tenda, kami masih bisa ujian dengan baik,” ungkapnya.
Melalui koordinasi lintas sektor yang terus dilakukan, pemerintah berharap penanganan dampak gempa dapat berjalan terarah, berbasis data, serta mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat terdampak di Pulau Batang Dua.













