News

Hikajat Tjengkeh dan Pala: Agensi MEUS Project Angkat Arsip dan Identitas Kota Maluku di Pameran Arsip Sejarah

253
×

Hikajat Tjengkeh dan Pala: Agensi MEUS Project Angkat Arsip dan Identitas Kota Maluku di Pameran Arsip Sejarah

Sebarkan artikel ini
Suasana Pameran Arsip Sejarah Maluku yang berlokasi di rumah Eks Kediaman Sultan Zainal Abidin Syah. Kombinasi interior ruang yang teduh, memberikan gerak literasi visual yang hidup membangun pemahaman kolektif soal sejarah masa lalu. Foto : MEUS.

kendali — Agensi kreatif MEUS Project Indonesia kembali menggelar pameran arsip bertema ruang kota, arsip, dan identitas, bertajuk “Hikajat Tjengkeh dan Pala”. Pameran ini berlangsung di gedung eks Kediaman Gubernur Irian Barat, menghadirkan pengalaman ruang yang memadukan desain interior artistik dengan tata cahaya yang memperkuat nuansa sejarah di tengah masyarakat.

Melalui pameran ini, MEUS Project mengajak publik menelusuri kembali jejak Maluku sebagai tanah para raja, wilayah yang pada masanya menjadi pusat perhatian dunia karena cengkeh dan pala.

Rempah-rempah tersebut menggerakkan jalur perdagangan global, dari Guangzhou, Gujarat, Melaka hingga Jawa, serta menjadikan kerajaan dan kesultanan Maluku sebagai simpul penting kekuasaan dan ekonomi dunia.

Agensi MEUS bersama Kurator pameran Arsip Sejarah Maluku, yang berlokasi Eks Kediaman Gubernur Irian Barat: Sultan Zainal Abidin Syah, kelurahan Tomagoba Kota Tidore Kepulauan. Foto : MEUS.

Namun, kejayaan itu juga menyimpan sisi gelap sejarah. Kedatangan bangsa Eropa—Portugis, Spanyol, Belanda hingga VOC—mengubah cengkeh dan pala dari berkah menjadi petaka.

Sejarah mencatat praktik hongi tochten, pajak paksa, perbudakan, genosida budaya, penebangan massal pohon rempah, pembakaran kampung, hingga ribuan korban jiwa di Maluku.

“Setiap butir cengkeh adalah darah, setiap biji pala adalah air mata,” menjadi narasi kuat yang dihadirkan dalam pameran ini, menggambarkan Maluku sebagai ruang cinta, pengkhianatan, dan ambisi kuasa yang terus bersilang dalam sejarah politik para raja dan sultan.

Pameran Hikajat Cengkeh dan Pala juga secara khusus membicarakan kembali lanskap sosial Tidore sebagai salah satu pusat dunia Maluku di masa lalu. Sebuah ruang sosial yang kompleks, terbentuk dari interaksi, sistem, praktik, dan hubungan antarmanusia selama ratusan tahun, yang secara kolektif membangun identitas kebudayaan masyarakat Maluku Tidore.

Lebih dari sekadar ruang pamer, kegiatan ini diharapkan menjadi medium refleksi sekaligus bara semangat bagi generasi muda Maluku untuk terus menjaga ingatan sejarah.

Arsip-arsip, kisah para tetua, hingga jejak sejarah yang tersimpan di berbagai penjuru dunia—dari Leiden, Madrid hingga Lisbon—dirangkum sebagai pengingat akan keberanian dan ketahanan orang Maluku.

Pameran ini diselenggarakan oleh MEUS Project Indonesia melalui program Fasilitasi Bantuan Kebudayaan (FBK) Kementerian Kebudayaan RI, bekerja sama dengan BPK Wilayah XXI Maluku Utara, serta didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

MEUS Project berharap pameran ini menjadi ruang temu, dialog, dan penguatan identitas budaya Maluku di masa kini dan masa depan. Pameran Arsip akan berlangsung 21-22 Desember 2025.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *