kendali – Sudah lama kita tidak menemukan ruang baru, bertemu percakapan sederhana dan juga hal-hal yang perlu di selesaikan, hari ini pagi terasa lebih lama, dan waktu sebentar lagi menuju siang. Desa Gurabunga, tepatnya kita akan berbagi ruang dan pengalaman.
Lokakarya komunitas dan cita rasa kampung – bersama Yayasan Lintas Batas kami melakukan tour di Gurabunga, berbagi pengalaman dengan melibatkan pemuda, ibu-ibu, dan komunitas di Tidore, untuk menakar, memahami, mencatat, mempelajari, setiap aroma tumbuhan, tanaman, sebelum dirasakan di atas meja makan.
Ketua Yayasan Lintas Batas Setyo Hari Wibowo, yang juga konsen pada gastronomi mengajak semua peserta untuk mempelajari ruang kampung masyarakat Gurabunga.
‘’kehadiran kami disini justru untuk belajar dari teman-teman, kita sama-sama merespon, bagaimana ruang atau keseharian masyarakat membangun ruang hidup mereka sendiri, dengan memperkenalkan tanaman atau tumbuhan yang ada di setiap lokasi kelurahan Gurabunga,’’katanya sebelum sesi jelajah rasa di mulai.
Mas Seto menjelaskan jelajah rasa merupakan sebuah program yang berfokus pada kedaulatan pangan, mempelajari setiap ruang masyarakat setempat ketika kami berkunjung ke suatu daerah.
Ia bilang Gurabunga punya potensi sebenarnya yang bisa ditangkap oleh teman-teman di Tidore, tanaman itu sebenarnya hanya pemantik, ada banyak budaya yang melekat mulai dari tanaman yang bisa dijadikan ritus, juga ancamannya.
‘’kita merespon misalnya dengan kehadiran ke Gurabunga, kita melihat kondisi masyarakat yang lagi krisis air, ini juga bagian ancamannya kedepan,’’lanjutnya.

Maka dengan begitu barangkali teman-teman bisa mengembangkan lebih jauh, terutama anak mudanya untuk bisa dilibatkan, dengan proses mengarsipkan makanan maupun tumbuhan yang mereka miliki.
Sesi Jelajah Rasa berjalan dengan penuh energi, peserta mendapatkan pengalaman baru dari tanaman-tanaman endemik yang kemudian dijadikan bahan diskusi.
Sekitar 1 jam lebih kita melakukan keliling kelurahan, dengan tanjakan bukit, rimbun pepohonan, dan trik panas yang sangat menyengat.
Salah satu pemuda Gurabunga Gogo menyampaikan, saat ini kami lagi mengalami krisis air yang sudah berjalan 4 bulan, krisis air membuat masyarakat harus hemat dengan air, kami punya salah satu sumber mata air nama Ake Goa yang setiap hari masyarakat turun untuk mengambil mata air tersebut.
‘’kami bertahan dengan mata air tersebut, dipakai mandi, mencuci pakaian, jadi untuk saat ini kami sangat berhemat dengan air,’’kata gogo ketika mengikuti Jelajah Rasa.

Jelajah Rasa, kemudian dilanjutkan dengan imajinasi desain visual setelah makan siang, peserta diberikan imajinasi memvisualkan setelah mengikuti Jelajah Rasa.
Kelas visual ini dipandu langsung oleh Didi Suryawan ( Painsugar ) seorang Seniman Desain Grafis asal Malang , dengan memberikan pengalaman desain visual teknik cukil pertama kali di Tidore, peserta semua dipandu melakukan karya dari hasil pengamatan selama mengikuti kelas Jelajah Rasa.
‘’saya berharap teman-teman terus berproses, apa yang kita lakukan hari ini, terpenting untuk menghubungkan setiap karya, dan bisa menjadi ruang-ruang dialog yang terus tumbuh, saya percaya teman-teman akan menemukan jalanya sendiri,’’tuturnya.
Potensi anak muda di Tidore dan kreatifitasnya sangat luar biasa, mereka sudah punya market, dari desainer, pengarsipan, event, jurnalis, jadi secara instrumen kreatif mereka sudah mempunyai itu semua.
“Ketika membuka kelas desain grafis di Gurabunga, mereka punya kebudayaan sangat kental, dari makanan, tumbuhan, yang sangat luar biasa. Tinggal kita merespon dari semua itu mau dibawa kemana arahnya,”katanya.

Selama Tidore, respon kami sebenarnya mengajak teman-teman komunitas bisa menangkap visi ke depan secara bersama, dari latar belakang kreatif yang berbeda-beda, semua punya arah dan visi yang sama untuk membangun Tidore.
‘’kalau kita sudah merespon dan melihat visi bersama, maka sudah tidak lagi ada yang namanya ego sektoral, gesekan-gesekan yang semestinya tidak perlu terjadi, kita perlu meluruskan visi secara bersama,’’kesanya.
Apalagi ketika berkunjung ke Gurabunga, anak muda dan orang tua sangat terbuka dan sangat komunikatif, jadi kalian punya potensi.
Hanya saja, secara general terutama untuk teman-teman komunitas kayaknya terkesan belum ada ruang yang netral, dan nyaman,untuk saling terhubung.
“Harapannya , selalu yang baik, dan terpenting adalah visi bersama, menyatu, mendukung komunitas untuk saling membesarkan,”ungkapnya.
Kelas lokakarya kemudian dilanjutkan di malam hari, teman-teman di ajak untuk berkelana melalui praktek komunitas dengan satu game yang dinamakan ruang gagal.
Pegiat Komunitas Zandry Aldrin menyampaikan ruang gagal adalah sebuah permainan dengan teknik bercerita di antara peserta, kita sama-sama menerima segala kekurangan dan kelebihan untuk saling terhubung.

‘’saya percaya paling dekat dari kita adalah mereka yang ada di samping, maka itulah yang perlu jaga dan rawat secara bersama-sama, kelas game ruang gagal ini, yang mempertemukan kita semua dalam satu cerita secara aktif untuk berbagi’’kata Zandry Aldrin.
Kegiatan ini ditutup dengan narasi story telling -bercerita program Laut Lout dari yayasan lintas batas Kapal Arka Kinari selama melakukan pelayaran berkeliling nusantara, namun sesi ini tidak bawakan di Tidore, tetapi di Benteng Oranje, Ternate pada 4/09/2026.
Di hadapan komunitas, Raka Ibrahim tampil dengan emosional teknik bercerita yang membuat semua hanyut, Arka Kinari memperkenalkan kebudayaan Nusantara lewat, musik, cerita, dan kita seperti terhubung antara satu dengan yang lain.
“Ini pertama kali saya bawakan cerita dengan konsep pertunjukan video perjalanan Arka Kinari di Ternate, dan ini pertama kali di Indonesia, sebelumnya saya bawakan di Nepal, Malaysia, Singapore,”pungkasnya.
Semua penonton diajak berkeliling nusantara lewat visual kapal Arka Kinari dan kami semua merayakan,”Laut punya cerita sendiri dengan yang ada di darat, dan saya merasakan nyaman disana,”tutupnya, sembari berkata syukur dofu-dofu.













