Kendali — Suasana Halaman Benteng Oranje, Ternate, malam itu berubah.
Ketika nama Sultan Mahmud Badaruddin II disebut dari atas panggung, halaman benteng Oranje seolah menjadi ruang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini. Kisah dari tanah Palembang tentang seorang sultan yang melawan kekuasaan kolonial Belanda kembali hidup melalui pertunjukan teater.
Para seniman dari Palembang membawa penonton menyusuri perjalanan panjang sang sultan. Tentang perlawanan, tipu muslihat, peperangan hingga pengasingan yang membawanya jauh dari tanah kelahiran, ke Ternate.
Adegan demi adegan mengalir. Visual peperangan, dialog para pemain, gerak teatrikal, dan suasana panggung membangun kembali fragmen sejarah yang pernah terjadi lebih dari dua abad lalu.
Sejumlah penonton larut dalam cerita. Beberapa di antaranya bahkan terlihat meneteskan air mata ketika kisah perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II mencapai titik ketika sang sultan harus meninggalkan Palembang dan menjalani pengasingan di Ternate.
Malam itu, sejarah tidak hadir melalui lembaran buku. Ia hadir melalui tubuh para pemain, suara, gerak, dan emosi.
Membawa Palembang ke Ternate
Pertunjukan tersebut merupakan karya sutradara sekaligus penulis naskah, Budayawan Palembang Vebri Al Lintani. Gagasan membawa kisah Sultan Mahmud Badaruddin II ke Ternate telah dipersiapkan sejak jauh hari, setelah ia mengetahui Ternate ditetapkan sebagai tuan rumah Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Bagi Vebri, pementasan di Ternate merupakan kesempatan untuk mempertemukan kembali dua kota yang memiliki hubungan sejarah melalui sosok Sultan Mahmud Badaruddin II.
Naskah yang dipentaskan merupakan potongan dari karya utuh berjudul Sultan Mahmud Badaruddin II: Harimau yang Tak Dapat Dijinakkan.
Naskah lengkap itu sebelumnya dipentaskan di Palembang dengan durasi sekitar 2 jam 15 menit. Selama lima hari pementasan, pertunjukan tersebut disaksikan sekitar 4.000 penonton.
“Teater ini kami buat jauh-jauh hari ketika mengetahui Ternate akan menjadi tuan rumah JKPI,” kata Vebri yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Palembang, ketika di wawancarai Kendali.id
Setahun sebelumnya, Vebri bersama sejumlah seniman dan aktivis kebudayaan juga telah datang ke Ternate. Mereka menelusuri sejumlah lokasi yang berkaitan dengan sejarah pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Namun, kondisi dan keterbatasan waktu membuat pementasan di Ternate harus disesuaikan.
“Setelah kami berdiskusi dengan Dinas Kebudayaan di Ternate, dengan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya semalam kami pentaskan dengan naskah yang dibuat lebih pendek,” ujarnya.
Formatnya memang lebih singkat. Tetapi inti ceritanya tetap dipertahankan: perjalanan seorang sultan yang memilih melawan kolonialisme hingga akhirnya harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Menghidupkan Kembali Perang Palembang
Vebri memilih sejumlah bagian penting dari perjalanan Sultan Mahmud Badaruddin II untuk dibawa ke atas panggung.
Salah satunya adalah kisah Perang Palembang, yang juga dikenal sebagai Perang Menteng.
Cerita tersebut mengambil inspirasi dari Syair Perang Menteng, yang diduga ditulis Sultan Mahmud Badaruddin II pada 1819.
Dalam kisah itu, Palembang sempat berhasil menghadapi serangan Belanda. Namun, dua tahun kemudian, pada 1821, Belanda kembali datang dengan kekuatan yang lebih besar.
Kekuatan militer bukan satu-satunya cara yang digunakan Belanda. Politik adu domba juga dimainkan untuk melemahkan hubungan antara Sultan Mahmud Badaruddin II dan saudaranya.
Dari sana, informasi mengenai kekuatan dan pertahanan Palembang semakin mudah diketahui pihak Belanda. Tipu muslihat kemudian melengkapi strategi tersebut.
Kala itu, terdapat kesepakatan agar kedua pihak tidak melakukan serangan pada hari-hari ibadah. Namun, ketika memasuki bulan Ramadhan, kesepakatan itu dilanggar.
Pada Minggu dini hari, ketika sebagian masyarakat Palembang bersiap menyantap sahur, pasukan Belanda melancarkan serangan. Palembang akhirnya jatuh.
Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian diasingkan ke Batavia sebelum dibawa lebih jauh ke Ternate.
Jarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya tidak lantas menghapus jejak sang sultan.
Di Ternate, jejak itu justru masih dapat ditemukan hingga hari ini. Salah satunya berada di Benteng Oranje.
“Jadi, dengan kemampuan yang terbatas, yang ikut terlibat dalam teater ini sekitar lima orang yang kami bawa dari Palembang, termasuk saya,” tutur Vebri.
Pementasan kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan Perkumpulan Keluarga Sumatera Selatan di Kota Ternate dan siswa SMA Negeri 2 Kota Ternate.
Selama tiga hari, para pemain berlatih di Benteng Oranje sebelum pertunjukan digelar.
Vebri bertindak sebagai sutradara, didampingi Isnayati sebagai asisten sutradara dan Iman yang menangani penataan gerak serta tata rias.
Bagi Vebri, keterlibatan masyarakat Sumatera Selatan di Ternate menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali cerita yang menghubungkan Palembang dengan Ternate.
Menyusuri Jejak Sang Sultan
Ada alasan lain mengapa Ternate memiliki tempat khusus dalam pementasan tersebut.
Bagi Vebri, membawa kisah Sultan Mahmud Badaruddin II ke Ternate bukan sekadar menghadirkan sebuah pertunjukan seni. Ada pengalaman emosional yang ia rasakan ketika secara langsung menyusuri tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sang sultan di pengasingan.
Dua tahun lalu, ia pernah datang ke Ternate dan membaca Syair Burung Nuri di Benteng Oranje.
Syair itu diyakini berkaitan dengan masa pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Di matanya, sang sultan bukan hanya seorang raja dan pejuang. Ia juga dikenal sebagai pujangga, penyair, ahli agama, sekaligus ahli strategi perang.
Sosok tersebut memiliki tempat yang kuat dalam ingatan masyarakat Palembang.
“Jadi sosok Sultan Badaruddin II di mata orang Palembang punya legitimasi kuat sebagai sosok sultan di Palembang, dan tidak ada yang lain,” tegas Vebri.
Namun, ada ironi besar dalam perjalanan hidupnya.
Seorang raja dengan kekuasaan besar di Palembang, memiliki banyak pengikut dan pengaruh, pada akhirnya harus menjalani kehidupan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.
Ternate menjadi ruang pengasingan sekaligus tempat terakhir dalam perjalanan hidupnya.
Bagi Vebri, menyaksikan langsung ruang-ruang yang berkaitan dengan pengasingan itu membuat kisah Sultan Mahmud Badaruddin II terasa lebih dekat.
Sejarah yang sebelumnya ia temui melalui buku dan puisi tiba-tiba memiliki ruang, jarak, dan suasana.
Dari sanalah sisi emosional pementasan itu semakin kuat. Naskah teater tersebut pun tidak lahir dalam waktu singkat.
Vebri membutuhkan sekitar lima tahun untuk melakukan riset dari berbagai sumber ilmiah. Naskah itu kemudian diselesaikan dalam kurun sekitar dua tahun terakhir.
Dari Ziarah hingga Panggung
Ada pula bagian lain dari perjalanan Vebri yang membuat kisah Sultan Mahmud Badaruddin II terasa semakin personal.
Ia mengaku percaya pada karomah dan merasa telah cukup lama mengenal pemikiran serta karya-karya sang sultan melalui berbagai literatur dan puisi yang ditulis maupun diwariskan keluarganya.
Suatu ketika, saat bertemu Gubernur Sumatera Selatan untuk meminta rekomendasi terkait pementasan teater tersebut, Vebri justru mendapat pertanyaan yang tidak disangka.
“Sudah kamu ziarah ke makam beliau di Ternate?” cerita Vebri menirukan pertanyaan Gubernur.
Jawabannya ketika itu: belum.
Ia kemudian diminta berangkat ke Ternate.
Dorongan serupa, kata Vebri, juga datang dari Wali Kota Palembang yang mendorong para seniman dan pelaku budaya untuk datang langsung ke Ternate.
Akhirnya, sekitar 10 orang berangkat ke Ternate untuk melakukan ziarah.
Bagi Vebri, perjalanan itu menjadi bagian penting dari proses menghadirkan kembali kisah Sultan Mahmud Badaruddin II. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai karomah.
Setelah ziarah dilakukan, berbagai pementasan yang mereka gelar di Palembang berjalan lancar.
Kini, kisah tersebut kembali dibawa ke tempat di mana perjalanan hidup sang sultan berakhir.
Ketika Sejarah Menemukan Panggung
Malam itu, Benteng Oranje bukan sekadar menjadi lokasi pertunjukan.
Benteng tua itu seolah berubah menjadi jembatan yang mempertemukan dua kota dengan sejarah yang saling terhubung: Palembang dan Ternate.
Dari Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II berangkat sebagai seorang penguasa yang memilih melawan kolonialisme.
Namun, sejarah membawanya jauh dari tanah kelahiran hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Ternate, tepatnya di kawasan Kampung Makassar.
Bagi penonton, pertunjukan tersebut menjadi cara yang berbeda untuk mengenal kembali sejarah.
Salah seorang pengunjung, Soekarno, menilai pertunjukan itu berhasil membangun kembali ingatan historis tentang perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II.
“Saya melihat opera yang ditampilkan sangat luar biasa. Teater ini memberikan informasi kepada kami tentang perjuangan Sultan Badaruddin II,” katanya.
Menurut Soekarno yang juga merupakan peneliti, salah satu kekuatan pertunjukan terletak pada keterlibatan pemain dari berbagai generasi.
Anak muda dan orang dewasa mengambil peran dalam satu panggung. Perpaduan itu membuat karakter yang dimainkan terasa lebih kuat dan khusyuk.
Yang tak kalah penting, kata Sukarno, pertunjukan tersebut tidak hanya mengandalkan dramatik panggung, tetapi juga ditopang data dan riset sejarah.
Cerita yang disampaikan membuat penonton tidak sekadar mengikuti alur, tetapi juga memperoleh gambaran tentang perjalanan Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang hingga Ternate.
Pada akhirnya, pertunjukan itu meninggalkan satu pesan sederhana: sejarah tidak selalu harus tinggal di dalam buku.
Ia bisa hidup kembali melalui panggung, suara, gerak, dan ingatan orang-orang yang terus menceritakannya.
Malam itu, di halaman Benteng Oranje, kisah Sultan Mahmud Badaruddin II kembali menemukan panggungnya.
Seorang sultan yang meninggalkan tanah kelahirannya karena perlawanan, lalu menghabiskan sisa hidupnya jauh dari Palembang.
Ternate menjadi tempat pengasingan sekaligus tempat peristirahatan terakhirnya.
Dan dari panggung itu, sejarah Palembang dan Ternate kembali bertemu—bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai ingatan yang terus hidup di tengah generasi hari ini.













