Di Sudut satu kedai di kawasan Benteng Oranje, Ternate. Seorang pria berbaju polos dan bercelana pendek tampak memegang handy talky (HT). Sesekali ia mengucapkan kalimat singkat, “Kalau bisa buat satu atau dua kelas.”
Pria itu adalah Mohammad Taufik S.Kom.,MSc. Sekilas ia terlihat sedang menikmati malam, padahal pikirannya sedang tertuju pada kelas-kelas Bahasa Inggris yang ia bangun. Dari balik HT di tangannya, ia mengatur jalannya proses belajar yang kini telah berkembang menjadi salah satu lembaga bahasa terbesar di Maluku Utara.
Sulit membayangkan bahwa perjalanan itu bermula dari sebuah mimpi sederhana.
Lulusan Kampung Inggris Pare itu percaya bahwa bahasa mampu mengubah jalan hidup seseorang. Kepercayaan itu bukan sekadar teori. Bahasa Inggris telah membawanya melangkah jauh, mulai dari Malaysia, Singapura, Turki hingga Amerika Serikat.
“Kalau dulu saya tidak mendengarkan nasihat bapak bahwa bahasa itu sangat penting, mungkin saya hanya berada di sini-sini saja,” tutur Taufik kepada kendali.
Berawal dari Komunitas Kecil
Perjalanan Taufik tidak dibangun dalam semalam.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di STMIK Dipanegara Makassar, ia sempat aktif di dunia startup. Pengalaman itu bahkan mengantarkannya mewakili Makassar ke Turki pada 2016.
Namun, panggilan hatinya justru membawanya pulang
Pada 2017 ia mendirikan Desa Inggris Ternate di Kelurahan Kasturian. Saat itu jumlah siswanya hanya sekitar 30 orang. Kelas-kelas berlangsung sederhana dengan semangat yang jauh lebih besar dibanding fasilitas yang dimiliki.
Dua bulan setelah komunitas itu berdiri, Taufik sempat jatuh sakit cukup lama. Kondisi tersebut hampir menghentikan perjuangannya. Namun, ia memilih bangkit.
Aktivitas belajar kemudian berpindah ke Kelurahan Koloncucu. Bersama sejumlah relawan, ia kembali membangun komunitas bahasa yang diresmikan pada 2019. Mereka menggunakan rumah-rumah warga sebagai ruang belajar dengan sistem kelas yang berpindah-pindah.
Belajar ke Amerika, Pulang Membangun Daerah
Di tengah perjuangan itu, Taufik memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Auburn University, Alabama, Amerika Serikat.
Selama berada di Amerika, kegiatan belajar tetap berjalan secara daring. Setelah menyelesaikan studinya pada 2023, ia memutuskan kembali ke Ternate.
Keputusan itu mungkin terasa tidak lazim. Dengan gelar luar negeri, ia memiliki banyak peluang berkarier di kota besar atau bahkan menetap di luar negeri.
Namun Taufik memilih pulang
Berbekal sebuah papan tulis, ia membuka dua kelas di kawasan Benteng Oranje untuk mahasiswa. Tidak lama kemudian, mereka mendapat ruang belajar tetap di salah satu bangunan kawasan benteng.
Di tahun yang sama, Desa Inggris Ternate resmi berganti nama menjadi Kampung Inggris Maluku Utara.
Lembaga tersebut kemudian berada di bawah Yayasan Noble Future Education, yang juga mengembangkan program Mandarin Maluku Utara.
Pendidikan Alternatif
Bagi Taufik, bahasa bukan sekadar kemampuan berbicara.
Ia melihatnya sebagai pintu masuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Maluku Utara.
Menurutnya, berdasarkan data BPS, angka masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi di Maluku Utara masih relatif rendah jika dibandingkan jumlah penduduk.
“Kondisi itu membuat kami ingin menghadirkan pendidikan alternatif. Bahasa menjadi salah satu bekal penting untuk membuka akses ke dunia yang lebih luas,” ujarnya.
Saat ini, Kampung Inggris Maluku Utara membuka kelas mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga mahasiswa.
Impian mereka pun tidak berhenti pada Bahasa Inggris dan Mandarin.
Suatu hari nanti, Taufik ingin menghadirkan tujuh bahasa asing dalam satu lembaga yang ia cita-citakan sebagai kampus bahasa pertama di Maluku Utara.
Bahasa Adalah Jembatan Dunia
Menurut Taufik, sejarah Maluku Utara sudah membuktikan betapa pentingnya bahasa.
Wilayah yang dahulu menjadi pusat perdagangan rempah pernah didatangi Portugis, Spanyol, Belanda hingga Inggris. Semua datang membawa kepentingan yang sama: berkomunikasi.
“Bagi saya, bahasa adalah senjata utama dalam berkomunikasi secara global,” katanya.
Ia juga percaya kemampuan berbahasa bukan semata-mata soal bakat.
Seperti halnya dunia sepak bola, ada orang yang lahir dengan bakat, tetapi ada pula yang menjadi hebat karena terus berlatih.
Dari Murid Menjadi Guru
Kini perkembangan Kampung Inggris Maluku Utara semakin terasa.
Jika dahulu hanya memiliki tiga pengajar, kini terdapat 12 tutor Bahasa Inggris dan dua tutor Bahasa Mandarin.
Metode belajar yang diterapkan pun cukup unik.
Siswa yang menunjukkan kemampuan dan komitmen tinggi akan dipersiapkan menjadi tutor.
“Bagi kami, cara belajar terbaik adalah belajar sambil mengajar,” ujar Taufik.
Ia meyakini, dengan proses yang konsisten, seseorang dapat menguasai Bahasa Inggris dalam waktu sekitar enam bulan.
Jumlah peserta pun terus meningkat.
Pada periode 2024–2025 tercatat sekitar 400 siswa, sedangkan hingga 2026 jumlahnya telah mencapai sekitar 600 siswa.
Pulang untuk Berbagi
Di tengah berbagai pencapaian itu, Taufik sebenarnya telah diterima untuk melanjutkan studi magister di Finlandia.
Namun ke mana pun langkahnya nanti, satu impian tetap ia bawa pulang.
Ia ingin membangun ekosistem pendidikan bahasa yang kuat di Maluku Utara.
“Saya tidak mau hidup hanya untuk diri sendiri. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk berbagi kepada orang lain. Itu yang menjadi motivasi saya sampai hari ini,” katanya.
Malam semakin larut. Percakapan di Benteng Oranje belum juga usai.
Di balik suara HT yang sesekali berbunyi, tersimpan mimpi yang jauh lebih besar daripada sekadar membuka kelas Bahasa Inggris.
Mohammad Taufik sedang menyiapkan fondasi agar suatu hari nanti Maluku Utara memiliki sebuah kampus bahasa tempat lahir generasi yang mampu berbicara kepada dunia, tanpa pernah melupakan tanah kelahirannya.













