Oleh : Teguh Barakati, Penulis Lepas
Kita semua memahami itu sebagai batasan literasi atau budaya literasi, dan paling memungkinkan adalah kemunduran bahasa pengucapan, lidah masyarakat Timur memang sudah terbiasa dengan ruang bertutur pesisir, kita dekat dengan laut, gunung, yang secara akar kebudayaan memiliki bentang suara yang lebih mengeras ( suara besar )
Ada cerita menarik ketika kami melakukan pertemuan dengan adik-adik Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) tematik di kelurahan Indonesiana tahun 2026. Para adik KKN ini mereka sedang menjelaskan tugas KKN dengan beberapa program turunan dari kampus.
Dalam agenda pertemuan itu, antara adik-adik KKN dengan Pemuda Indonesiana, kita bersama-sama menyusun format kegiatan yang menarik, bukan sekedar KKN lalu selesai begitu saja, tidak berdampak sama sekali pada kelurahan.
Berhubung mereka mengambil tema besarnya adalah Literasi. Dan poin-poinnya kami diskusikan, dalam sesi itu semua berjalan santai, enjoy, saling bertukar ide dan masukan-masukan.
Kita semua menarik satu ide besar yaitu mengangkat soal literasi digital format idenya akan rumuskan dalam catatan bahan besar untuk nanti dijadikan program bersama.
Menariknya dalam sesi diskusi itu, saya, pemuda, dan adik adik KKN tersendat bagaimana cara mengucapkan kata Perpusnas secara fasih dan benar, alih-alih kita mencoba memperbaiki, tapi justru tidak bisa dan tak selesai-selesai.
Perpusnas adalah kepanjangan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ( Perpusnas), program KKN tematik mahasiswa KKN Unkhair yang dikenal dengan Almamater Kuning ini yang punya kemiripan dengan Universitas Indonesia ( UI ) kalau di lihat dari jauh. Namun ada pesan yang bisa kita tarik kesimpulanya.
Kita kembali pada kata Perpusnas forum diskusi yang santai itu berubah menjadi tawa kecil yang kaku, lama-lama menjadi akrab, kemudian menjadi tukar ide, tapi tidak pernah tuntas kita menyebutkan kata “Perpusnas” singkatan itu, sangat sulit kita kalimatkan dengan benar.
Di tengah diskusi seorang pemuda menjelaskan bagaimana ide adik KKN ini bisa bisa memberikan yang terbaik buat kelurahan, tapi semua ide itu masih belum terpecahkan dengan penyebutan dengan benar kata perpusnas, hingga kami sedikit frustasi.
Hingga diskusi dan pertemuan itu selesai sekitar pukul 1 malam, dalam forum itu kita sepakati secara tidak formal bahwa untuk mempermudah menyebutkan kata Perpusnas di ingatan kepala, kita kemudian menggantikan dengan kata tidak jauh dari kata itu, meski perbedaannya adalah bumi dan langit yaitu “Puskesmas” jadi Puskesmas adalah Perpusnas yang belum terpecahkan oleh kami semua.
Kita semua memahami itu sebagai batasan literasi atau budaya literasi, dan paling memungkinkan adalah kemunduran bahasa pengucapan, lidah masyarakat Timur memang sudah terbiasa dengan ruang bertutur pesisir, kita dekat dengan laut, gunung, yang secara akar kebudayaan memiliki bentang suara yang lebih mengeras ( suara besar ), sehingga itu juga mempengaruhi dialek, ucapan, gestur, dan kebiasaan , meski ini juga masih perlu di riset, setidaknya hubungannya ada, ruang bertutur kita memang lebih cepat dengan budaya lisan bukan tulisan, maka wajar saja.
Maka untuk membuktikan itu semua bisa jadi riset kecil kita ini, antara Perpusnas dan Puskesmas adalah sebuah metodologi ruang bertutur pada masyarakat kita, itu tidak salah semua tergantung cara pandang kita masing-masing. Semoga.













