News

Di Tengah Luka Konflik, Anggota DPRD Junaidi Alting Serukan Persaudaraan di Tanah Leluhur Halteng

113
×

Di Tengah Luka Konflik, Anggota DPRD Junaidi Alting Serukan Persaudaraan di Tanah Leluhur Halteng

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Halteng Junaidi Alting

kendali – Anggota DPRD Halmahera Tengah, Junaidi Alting, juga merespon terkait konflik yang terjadi antara dua desa di wilayah tersebut. Ia mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan perdamaian.

Junaidi menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang terjadi, mengingat kedua desa yang terlibat konflik memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang hidup berdampingan.

“Hari ini, hati kami bergetar menyaksikan apa yang terjadi di antara kita. Dua desa yang sejak dahulu kala berdampingan, berbagi mata air yang sama, dan bernapas di bawah langit Halmahera Tengah yang sama, kini terpecah oleh konflik,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa konflik yang terjadi dipicu oleh berbagai faktor, termasuk emosi dan kepentingan yang berbeda. Namun demikian, ia menekankan pentingnya menjaga persaudaraan yang telah terjalin sejak lama.

“Kami sadar, ada perasaan yang terluka, ada emosi yang memuncak, dan ada kepentingan yang ingin diperjuangkan. Namun, saudara-saudaraku sekalian, darah yang mengalir di tubuh kita sama merahnya, dan tanah yang kita pijak ini adalah tanah leluhur yang sama,” kata Junaidi yang juga merupakan anggota DPRD Halmahera Tengah.

Menurut Junaidi, konflik tidak akan memberikan solusi, melainkan hanya akan memperpanjang penderitaan dan merusak hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Konflik tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Konflik hanya melahirkan luka, duka, dan kehancuran. Api permusuhan hanya akan membakar rumah kita sendiri, merusak masa depan anak cucu kita, dan memisahkan tali persaudaraan yang sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu,” tegasnya.

Ia pun berharap seluruh pihak dapat menahan diri, membuka ruang dialog, dan bersama-sama mencari solusi damai demi menjaga keutuhan dan masa depan masyarakat Halmahera Tengah.

Catatan, konflik dua kampung yaitu Sibenpopo dan Banemo, Halmahera Tengah (Halteng) bermula dengan ditemukan seorang petani (50) tewas mengenaskan di kebunnya. Hal tersebut yang kemudian memicu terjadi terjadi konflik dua kampung tersebut.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *