kendali — Dari Timur Indonesia ke jantung Eropa, Putadino Kayangan membawa lebih dari sekadar karya—mereka membawa cerita. Dalam dua agenda pada 30 April dan 2 Mei 2026 di Hamburg, Jerman, tenun Tidore dan kuliner khas Maluku Utara akan tampil sebagai wajah baru diplomasi budaya yang segar dan berkarakter.
Diundang oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg, Putadino Kayangan akan berpartisipasi dalam Lange Nacht der Konsulate, sebuah perhelatan tahunan yang mempertemukan berbagai negara dalam satu ruang terbuka untuk memperkenalkan identitas budaya mereka kepada publik internasional.
Mengusung tema “Vibrant Spirit of Indonesia’s Eastern Archipelago”, Indonesia tahun ini menampilkan kekayaan dari kawasan timur—dan Putadino hadir sebagai representasi yang menyatukan fashion dan rasa dalam satu pengalaman.

Bagi Putadino, tenun bukan hanya busana, tetapi narasi. Dalam kesempatan ini, mereka akan menghadirkan demo tenun langsung, memperlihatkan proses kreatif yang menjadikan setiap helai kain memiliki jiwa.
“Orang tidak hanya melihat hasilnya, tapi juga merasakan prosesnya. Di situlah nilai dari tenun Tidore,” ujar Owner Putadino Kayangan, Anita Gathmir, ketika dihubungi, Kamis (9/4/2026).
Namun, yang membuat kehadiran Putadino terasa berbeda adalah sentuhan kuliner yang ikut dibawa. Dalam satu ruang yang sama, pengunjung tidak hanya menikmati visual kain, tetapi juga aroma dan rasa khas Maluku Utara.
Beberapa sajian yang akan diperkenalkan antara lain papeda instan dengan kuah kuning, kopi dabe, ikan tore (ikan kering), hingga rempah-rempah seperti cengkeh dan pala—yang selama berabad-abad menjadi identitas kawasan ini di mata dunia.
Perpaduan ini menjadikan Putadino tidak sekadar tampil sebagai brand fashion, tetapi sebagai representasi gaya hidup Timur Indonesia—di mana kain, rasa, dan tradisi bertemu dalam satu cerita yang utuh.
Menariknya, Putadino juga membuka ruang bagi pelaku UMKM Maluku Utara untuk ikut “hadir” di Hamburg, melalui promosi produk berbasis brosur maupun platform digital.
“Kami ingin membawa lebih banyak cerita dari Maluku Utara, bukan hanya dari kami,” tambah Anita.
Di tengah tren global yang semakin menghargai keaslian dan keberlanjutan, langkah Putadino Kayangan menjadi penegas bahwa identitas lokal memiliki tempat di panggung dunia.
Di Hamburg nanti, tenun Tidore tidak hanya dikenakan—ia akan dirasakan, dicicipi, dan dikenang.**













