Kendalikek

Cafe Kanan Space; Dari Lari, Sepeda, Hingga Bola, Menjadi Habit Sehat di Kota Rempah Ternate

8
×

Cafe Kanan Space; Dari Lari, Sepeda, Hingga Bola, Menjadi Habit Sehat di Kota Rempah Ternate

Sebarkan artikel ini
Owner Kanan Space Abdullah Sandi atau di sapa Beks, ketika sedang meracik Kopi.

Malam baru saja turun di sudut Kota Ternate. Suasana masih tenang, coffee shop yang tak sekadar menjadi tempat ngopi. Di Kanan Space, suasana terasa hidup—bukan hanya oleh obrolan, tetapi juga oleh cerita-cerita yang pelan-pelan menjelma menjadi gerakan.

Di salah satu sudutnya, Abdullah Sandi—atau akrab disapa Beks—duduk santai. Wajahnya ramah, sesekali tersenyum, seperti menikmati ritme malam yang akrab baginya. Percakapan dibuka sederhana, khas suasana pasca-Lebaran.

“Mohon maaf lahir batin,” ucapnya, ringan.

Namun dari sapaan itu, cerita mengalir  jauh—tentang bagaimana sebuah tongkrongan bisa berubah menjadi ruang tumbuh bagi kebiasaan sehat.

Awalnya sederhana. Kanan Space hanyalah tempat berkumpul. Tapi dari meja-meja kopi itu, lahir ide-ide yang bergerak. Dari hobi yang personal, perlahan menjadi aktivitas kolektif.

Dari lari, muncul komunitas xpunklarix. Dari sepeda, lahir Space Track Cycling. Dari kecintaan pada sepak bola, tumbuh kultur suporter Ultras Kie Raha.

Beks tak ingin mengklaim semuanya berasal dari kafenya. Namun satu hal yang ia yakini—banyak dari mereka yang memulai, adalah orang-orang yang dulu hanya datang sebagai pelanggan.

“Sebagian besar dari mereka ini memang awalnya dari Kanan,” katanya.

Jejak itu sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum Ternate. Tahun 2007, saat kuliah di Bandung, sepeda menjadi kendaraan pertama Beks. Ia mengayuh dari satu sudut kota ke sudut lain, menikmati ritme hidup yang sederhana.

Dua tahun kemudian, ia mulai mengenal sepeda fiksi—jenis yang kala itu belum populer. Bahkan, pengalaman jatuh dari sepeda sempat membuatnya berhenti. Namun seperti kebanyakan cerita hobi, ia kembali lagi.

Selain sepeda, ia juga sempat terlibat dalam komunitas lari bernama BR20, dan perlahan menyerap kultur kolektif—tentang relasi, kebersamaan, dan identitas.

“Dari situ semua terbentuk. Lingkaran pertemanan itu yang akhirnya jadi karakter,” ujarnya.

Ketika kembali ke Ternate pada 2018, Beks tidak sekadar pulang. Ia membawa pulang ide.

Dari lapangan futsal, kafe, hingga band, semuanya ia rancang sebagai ruang hidup. Namun momentum terbesar datang saat pandemi 2020. Saat banyak aktivitas berhenti, ia justru memulai lagi—dengan sepeda.

Satu per satu pelanggan Kanan ikut tertarik. Awalnya coba-coba, lalu jadi kebiasaan. Dari situlah komunitas mulai terbentuk, tanpa paksaan.

“Semua ini terjadi natural. Bukan karena tren, bukan juga karena ikut-ikutan,” katanya.

Hal yang sama terjadi pada lari. Di kota kecil seperti Ternate, berlari di jalan sempat terasa canggung. Tapi perlahan, rasa malu itu hilang. Orang mulai terbiasa, bahkan menjadikannya rutinitas.

“Daripada cuma nongkrong, lebih baik bikin kebiasaan yang positif,” tambahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sepeda menjadi wajah baru di jalanan Ternate. Bukan sekadar olahraga, tapi juga ruang ekspresi.

Beks dan kawan-kawannya mencoba membawa konsep critical mass—sebuah gerakan bersepeda yang di banyak negara menjadi simbol kampanye sosial. Di Ternate, konsep itu diadaptasi lebih ringan: ajakan hidup sehat.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam satu agenda, hampir seratus sepeda turun ke jalan. Komunitas bermunculan. Bahkan, bengkel sepeda khusus mulai hadir.

“Artinya, ekonomi juga ikut tumbuh,” ujarnya.

Namun baginya, yang terpenting bukan tren, melainkan kultur. Sepeda bukan hanya alat olahraga, tapi ruang sosial.

Ia pun tegas menolak jika aktivitas ini ditarik ke ranah politik.

“Kalau ada yang mau belokkan ke situ, kami tolak. Ini murni dari hobi,” tegasnya.

Aktivasi Olahraga Membawa Kultur Sehat Dan Promosi Wisata.

Dari aktivitas-aktivitas itu, lahirlah sesuatu yang lebih luas: promosi gaya hidup sekaligus pariwisata.

Rute-rute yang kita tempuh tak hanya tentang jarak, tapi juga pengalaman. Dari Ternate ke Tidore, hingga tanjakan Gurabunga yang melelahkan namun terbayar oleh pemandangan.

Disana, kita berhenti. Minum kopi dabe, menikmati kelapa muda, dan tertawa dalam suasana kekeluargaan.

Ia juga pernah bilang ada temannya juga naik sepeda, dari Sofifi ke Tobelo. Kemudian kita buat lari mengelilingi Ternate sejauh 42 kilometer dalam event Ring of Gamalama.

Semua itu bukan sekadar olahraga. Itu adalah cara baru melihat daerah sendiri.

Ke depan, langkah belum berhenti. Beberapa anggota komunitas bersiap mengikuti Makassar Half Marathon dan Jakarta Running Festival, dengan membawa satu nama yaitu xpunklarix.

Namun bagi Beks, pencapaian terbesar bukan pada event besar, melainkan pada kebiasaan kecil yang terus hidup.

Bahwa komunitas bukan untuk ditumpangi, tapi untuk dihidupi. Di akhir percakapan, ia tersenyum.

“Ternate itu rumah paling nyaman,” katanya singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *