kendali – Sorot lampu yang menembus langit malam dan suara khas “Presiden Tidore” membuka gelaran hari pertama “Legendiary” di Cafe Legend House, Kota Tidore Kepulauan, Minggu (22/3/2026).
Nuansa Lebaran masih terasa kental. Sejumlah pegiat komunitas hadir dengan balutan suasana hari raya, duduk santai sambil menikmati pertemuan yang telah menjadi agenda tahunan komunitas di wilayah Tidore–Ternate.
Kegiatan ini menghadirkan sesi diskusi bertema “Dari Tongkrongan Jadi Gerakan Kolektif” yang dipandu oleh Herman Mahifa. Diskusi menghadirkan sejumlah pelaku usaha kreatif dan komunitas.
Owner Cafe Legend House, Siti Faya Ila Togubu, menjelaskan bahwa berdirinya kafe Legend House tersebut berangkat dari pencarian identitas. Ia menyebut, konsep “bangunan tua” menjadi jati diri yang ingin dihadirkan dari Cafe ini.
“Kami percaya setiap coffee shop di Tidore memiliki pelanggan masing-masing. Kuncinya ada pada kolaborasi,” ujarnya.
Sementara itu, Owner Nitiprayan Studio, Sudarmono Tan, mengungkapkan bahwa cafe Nitiprayan yang ia kelola lahir dari kegelisahan sekaligus nostalgia masa kuliah di Yogyakarta. Nama “Nitiprayan” diambil dari salah satu kawasan di Yogyakarta yang dikenal sebagai kampung seniman.
“Di sana banyak kafe dengan konsep terbuka. Itu yang kami coba adopsi, sehingga nuansa Jogja juga terasa di Nitiprayan,” tuturnya.
Diskusi semakin menarik dengan kehadiran “Presiden Tidore” yang turut memaparkan gagasannya tentang “Juanga Culture”, sebuah konsep cafe yang ia kembangkan namun sayang tidak bertahan lama, serta perjalanan berkarya di bidang musik.
Perkembangan coffee Shop di Tidore sendiri terus menunjukkan tren positif. Saat ini tercatat sekitar 14 coffee shop telah beroperasi, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.
Kegiatan talk session ditutup dengan penampilan musisi dan komika asal Tidore yang sukses menghidupkan suasana hingga larut malam.*















