Kisah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah, menyimpan makna mendalam tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menyambut Idul Fitri. Diceritakan bahwa menjelang hari raya, keduanya merasa sedih karena belum memiliki pakaian baru seperti anak-anak lain di Madinah. Mereka pun bertanya kepada ibunya, Fatimah, “Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran, kecuali kami. Mengapa Ibu tidak menghiasi kami?”
Dengan penuh kelembutan, Fatimah menjawab bahwa pakaian mereka masih berada di tukang jahit. Padahal, dalam kenyataannya, ia tidak memiliki kemampuan untuk membelikan pakaian baru bagi kedua putranya.
Malam takbiran pun tiba, hingga terdengar ketukan di pintu. Seorang yang mengaku sebagai tukang jahit datang membawa bingkisan berisi pakaian indah. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau menjelaskan bahwa sosok tersebut bukanlah tukang jahit biasa, melainkan Malaikat Ridwan, pembawa karunia dari Allah.
Kisah ini mengajarkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan lahiriah, tetapi perjalanan batin menuju keikhlasan dan kepercayaan kepada Tuhan. Dalam keterbatasan, Fatimah tidak kehilangan martabatnya, dan dalam kesedihan, Hasan dan Husein tidak kehilangan harapannya. Lebaran sejatinya adalah tentang kesucian hati—tentang menerima keadaan, bersabar, dan meyakini bahwa di balik kesulitan selalu ada kemungkinan hadirnya pertolongan. Apa yang tampak sebagai kekurangan justru menjadi ruang turunnya rahmat, sekaligus pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan materi.
Namun makna itu terasa getir ketika kita menatap kondisi masyarakat Desa Waisakai di Pulau Mangoli hari ini. Banjir yang terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga meninggalkan kerusakan yang serius. Sedikitnya 30 rumah terendam dan 11 rumah mengalami kerusakan berat, memaksa warga mengungsi di saat lebaran semakin dekat. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga ruang hidup dan rasa aman.
Lebaran yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan berubah menjadi ujian batin. Warga Waisakai, seperti Hasan dan Husein, berada dalam kesedihan yang menuntut kesabaran, namun dalam kondisi yang jauh lebih kompleks dan menyakitkan.
Banjir yang berulang tidak lagi bisa dibaca sebagai peristiwa alam semata, melainkan sebagai cerminan krisis ekologis yang diabaikan. Jejak pembukaan hutan, lemahnya tata kelola ruang, hingga ancaman ekspansi tambang di Pulau Mangoli memperlihatkan bagaimana alam terus didorong melampaui batas daya dukungnya. Ketika hutan sebagai penyangga air rusak, maka hujan tidak lagi diserap, melainkan berubah menjadi bencana. Dalam konteks ini, penderitaan warga bukan hanya soal takdir, tetapi juga akibat dari keputusan-keputusan pembangunan yang abai terhadap keberlanjutan.
Pada akhirnya, Idul Fitri menuntut refleksi yang lebih dalam: bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam dan sesama. Jika dalam kisah Hasan dan Husein hadir Malaikat Ridwan sebagai pembawa kebaikan, maka hari ini manusialah yang seharusnya mengambil peran itu—bukan hanya dengan bantuan sesaat, tetapi dengan keberanian mengoreksi arah pembangunan yang merusak. Sebab lebaran yang sejati bukan sekadar merayakan kemenangan spiritual, melainkan juga keberanian untuk memperbaiki ketidakadilan—termasuk ketidakadilan ekologis—agar tidak ada lagi Waisakai-Waisakai lain yang merayakan hari raya dalam pengungsian.













