Opini

Mutual Visi Sepak Bola Tidore

176
×

Mutual Visi Sepak Bola Tidore

Sebarkan artikel ini
Irsanuddin Idrus (Pecinta Sepak Bola Lokal). Foto/Istimewah

Penulis: Irsanuddin Idrus

Berbicara tentang sepak bola tidak akan pernah ada habisnya, sama halnya dengan upaya mengembangkan sepak bola itu sendiri. Berkaca dari negara-negara dengan sepak bola yang maju, kita dapat melihat bahwa sepak bola tidak hanya sekadar 11 lawan 11, tetapi telah menjadi hiburan, gaya hidup (lifestyle), bahkan cita-cita yang menjanjikan.

Barangkali terdengar terlalu jauh jika kita ingin sampai ke tahap tersebut, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil untuk mengadopsi konsep-konsep yang relevan dengan sumber daya (resources) yang kita miliki.

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah mengidentifikasi sumber daya yang ada, guna menilai sejauh mana visi tersebut dapat diwujudkan. Dari posisi saat ini, kita memiliki sejumlah sumber daya yang menjadi modal besar untuk mengembangkan sepak bola, di antaranya:

Pertama, ketersediaan lapangan pertandingan yang representatif, seperti Stadion Gurabati, Stadion Tomagoba, Stadion Sangaji Jiko Malofo Mareku, serta sejumlah lapangan lain di daratan Oba.
Kedua, keberadaan klub sepak bola yang eksis dan konsisten, seperti Poram Mareku, Garuda Tomagoba, Persiga Gam 8, Porto Toloa, Pusam Tomalou, dan lainnya.
Ketiga, fanbase yang terorganisir dengan cukup baik, seperti Super Poram, Singa Kota Tomagoba, Pusamania Tomalou, dan Iron Man Toloa.
Keempat, adanya dukungan lembaga eksekutif serta masyarakat yang “gila bola”, sehingga api semangat sepak bola tetap menyala dan bergairah.

Sumber daya yang telah disebutkan tersebut merupakan modal yang sangat baik untuk dikelola guna mewujudkan kompetisi yang berkelanjutan. Tanpa bermaksud mendiskreditkan kompetisi yang telah berlangsung—seperti penyelenggaraan event oleh GOT-Gurabati, Topmen-Tomagoba, Tufen-Tugwaji, Guraping Cup, dan lainnya—yang secara konsisten digelar setiap tahun, kompetisi-kompetisi tersebut sejatinya telah menjadi wadah penyaluran bakat pesepak bola. Namun demikian, kompetisi yang ada belum sepenuhnya menjadi kompetisi yang berkelanjutan.

Kompetisi berkelanjutan yang dimaksud adalah kompetisi yang bergulir layaknya liga profesional, meskipun dengan penyesuaian lingkup dan skala yang disesuaikan dengan kondisi lokal.

Praktik terbaik (best practice) yang dapat dijadikan rujukan adalah Bandung Premier League (BPL) yang diselenggarakan secara konsisten. BPL merupakan kompetisi sepak bola lokal di Bandung yang digagas oleh komunitas dan klub amatir, kemudian dijalankan dengan struktur liga meskipun berskala amatir. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin dari kompetisi yang dikelola dengan baik akan lahir iklim sepak bola yang sehat, dengan pemain dan tim yang berkualitas.

Dari iklim tersebut, kita dapat mengembangkan banyak hal, sebagaimana yang dilakukan oleh BPL, bahkan memungkinkan terciptanya ekosistem industri sepak bola seperti di negara-negara dengan sepak bola yang telah maju. BPL membuktikan hal tersebut melalui dua contoh penting, yakni penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dan keberadaan klub Riverside Forest.

Sebelum Liga Profesional Indonesia (BRI Liga 1) menggunakan teknologi VAR pada tahun 2023, BPL telah menggunakannya sejak tahun 2019. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan kompetisi sepak bola tidak bergantung pada wilayah maupun skala pelaksanaan, melainkan pada atensi dan manajemen penyelenggara. VAR pertama kali diperkenalkan pada tahun 2016 di Belanda, kemudian diadopsi secara internasional pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Bandung Premier League menggunakannya pada tahun 2019, yang berarti hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk diadopsi dalam kompetisi regional.

Riverside Forest, tim asal Bandung dengan ideologi punk, baru saja menjuarai Liga 4 pada Oktober lalu. Klub ini lahir dari komunitas pecinta sepak bola di Bandung, dan bukan tidak mungkin suatu saat akan tampil di Liga 1 jika melihat konsistensi manajemen yang dijalankan. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada mimpi yang mustahil, terlebih dengan eksistensi dan konsistensi klub lokal serta fanatisme dan fanbase yang telah terorganisir dengan cukup baik seperti yang kita miliki saat ini.

Klub yang eksis dan fanbase yang terorganisir merupakan goodwill terbaik bagi industri sepak bola. Dari hubungan keduanya dapat dihasilkan manfaat ekonomi dan sosial, sebagaimana terbukti bahwa liga profesional maupun turnamen amatir sangat bergantung pada tim dan penonton, baik secara ekonomi maupun budaya.

Sayangnya, yang selama ini lebih banyak dieksploitasi masih sebatas sisi budaya, sementara sisi ekonomi belum digarap secara maksimal. Hal ini terlihat dari semakin bergengsinya klub dan turnamen amatir yang kita miliki, namun dengan biaya yang besar serta ketergantungan pada momentum, sementara secara ekonomi belum terdistribusi secara proporsional ke seluruh unsur dalam satu pertandingan sepak bola.

Eksploitasi budaya yang dimaksud telah penulis uraikan sebagai sumber daya. Adapun eksploitasi ekonomi yang dimaksud akan penulis bahas pada kesempatan lain.

ASKOT sebagai lembaga eksekutif sepak bola diharapkan mampu menjembatani persoalan ini agar dapat diwujudkan bersama. Kapan? Sekarang. Tidak bisa ditunda-tunda lagi, karena kita berharap Tidore suatu saat dapat kembali mentas dalam sepak bola nasional.

Kita patut optimistis bahwa hal tersebut sangat mungkin diwujudkan dengan dukungan perkembangan teknologi informasi saat ini, yang memungkinkan kita mengakses informasi global untuk kemudian diadopsi dan disesuaikan dengan sumber daya yang kita miliki. Selain itu, antropologi sepak bola yang kita miliki juga sangat memungkinkan kita untuk mencapai apa yang telah diraih Bandung melalui penyelenggaraan BPL, bahkan melampauinya.

Dari buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas karya Luciano Wernicke, kita belajar bahwa sepak bola menjadi olahraga dunia bukan karena sejak awal dirancang sempurna, melainkan karena kemampuannya beradaptasi dengan zaman dan diterima secara luas oleh masyarakat.

Tantangan saat ini adalah menyatukan sinergi seluruh unsur kompetisi sepak bola agar memiliki satu konsepsi bersama, bahwa unsur-unsur dalam pertandingan sepak bola—seperti pemain, klub, kompetisi, dan wasit—merupakan hubungan simbiosis mutualisme yang tidak dapat dipisahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *