kendali – Dalam dinginnya malam di Bukit Taman Grand Fatma, Kota Ternate, Treeshome merayakan sembilan tahun perjalanan bermusik mereka dengan cara yang tak sekadar pertunjukan—tetapi sebuah perayaan emosional tentang rumah, perjalanan, dan persaudaraan.
Dengan kostum serba putih, sentuhan tari, puisi, hingga instrumental etnik, Treeshome menjahit atmosfer pertunjukan yang terasa seperti ritual: intim, magis, dan penuh kedekatan. Panggung sederhana itu berubah menjadi ruang kolektif tempat musik, alam, dan penonton saling menyapa.
Sebagai salah satu band lokal Maluku Utara yang paling konsisten berkarya, Treeshome kembali membuktikan kesiapan mereka dalam membangun ekosistem kreatif. Mereka tidak hanya memainkan musik, tetapi menciptakan ruang komunikasi—mengikat penonton, identitas Moloku Kie Raha, dan rasa kekeluargaan menjadi satu pengalaman.
Malam itu, 10 lagu dibawakan. Setiap track seakan mengirim gelombang rasa ke seluruh pengunjung, menggugah memori dan harapan. Namun momen paling mengharukan terjadi ketika memasuki lagu Bicara. Eros, sang vokalis, terhenti. Suaranya pecah bersamaan dengan air mata.
“Lagu ini membawa kami kembali ke perjalanan dari 2016 sampai hari ini. Maaf kalau saya tidak bisa menyanyikan dengan maksimal,” tutur Eros, sembari menghentikan nyanyian. Penonton larut bersama emosinya; suasana panggung berubah menjadi ruang perenungan kolektif.
Di sela pertunjukan, Eros juga mengajak penonton mensyukuri dingin dan keheningan alam Ternate. “Tuhan sudah memberikan kita alam secantik ini. Mari jaga rumah kita,” ucapnya.
Treeshome juga membawakan Bumi Bersuara, sebuah persembahan khusus bagi korban banjir bandang di Sumatera Utara. “Kita melihat saudara-saudara di Sumut sedang mengalami musibah besar. Mari kita terus menjaga alam,” tambahnya.
Di saat yang sama, Dhana drummer juga menyampaikan apresiasinya berkarya selama menjadi Drummer.
“Saya sudah bermain drummer hampir 20 tahun, dan malam ini menjadi bagian terbesar dari perjalanan berkarya saya selama menjadi musisi, malam ini saya sangat merasa bangga dan terharu, karena keluarga besar semua hadir untuk menyaksikan, pertunjukan yang kami bawakan,”ungkap Dhana.
Lirik-lirik Treeshome selama ini memang menyinggung banyak isu: cinta, persahabatan, keluarga, budaya, hingga sosial. Musik bagi mereka adalah rumah—rumah yang mereka bangun bersama, mereka rawat, dan tak ingin retak. Rumah itu mereka namai Music Corner.
Deretan lagu seperti Mantra Kabata, Ruang Sesaat, Senja Tak Bernyawa, Jejak Tapak, Riang Kita, Rindu Beradu, Bumi Bersuara, hingga Suara Tanah Rempah menjadi bukti kekayaan identitas musik yang mereka bawa.
“Senja Tak Bernyawa adalah lagu tentang keluarga. Keluarga selalu menjadi alasan kami untuk terus bangkit dan berkarya,” kata Aldi, gitaris Treeshome.
Konser ditutup dengan hangat: keluarga para personel naik ke panggung, merayakan perjalanan sembilan tahun Treeshome dalam satu bingkai foto bersama—sebuah penanda bahwa musik mereka memang lahir dari keluarga, dan untuk keluarga yang lebih besar bernama pendengar.













