Rampa-rampa

Di Negara Ini, Setiap Orang Hidup Sendirian dan Kesepian

170
×

Di Negara Ini, Setiap Orang Hidup Sendirian dan Kesepian

Sebarkan artikel ini
"Kehidupan di Indonesia di mana setiap orang merasa hidup dalam kesendirian dan kesepian, yang bukan merupakan takdir Tuhan melainkan tercipta dari konstruksi sosial dan kebijakan penguasa yang tidak adil." (Ilustrasi/Junwo)

Oleh: Em Haikal-Kolumnis

Pada suatu hari, di kota Ternate, aku melihat seorang pemulung menangis sendiri di tepi jalan. Air mata dan isak tangisnya ia sembunyikan di balik bunga-bunga di tepi jalan itu. Aku tak tahu mengapa ia menyembunyikan tangisannya. Mungkin ia merasa malu. Atau mungkin juga, ia sadar, tak akan ada seorang pun yang mengerti dan peduli dengan tangisan seorang pemulung.

Aku ingat temanku pernah berkata, “Jika engkau tertawa, dunia ikut tertawa bersamamu. Namun jika engkau menangis, engkau menangis sendiri”. Ada ironi dalam kata-kata itu. Namun juga, ada semacam ketidakadilan yang tak terucapkan.

Air mata memang membawa arus jiwa manusia yang otentik. Kecuali “air mata buaya”, seperti yang dikatakan pepatah. Sebab, tangisan buaya adalah intrik untuk memangsa dan menerkam.

Ada banyak pejabat dan para politisi juga menangis. Bahkan, ada seorang gubernur yang masih menangis sampai sekarang di media sosial. Namun, jenis tangisan itu berbeda. Tangisan mereka tak termasuk jenis tangisan yang “jika engkau menangis, engkau menangis sendiri”. Sebab, tangisan mereka diproduksi, dipamerkan, bahkan ditonjolkan. Seakan-akan hanya dia sendiri yang bisa menangis di atas bumi miliaran manusia ini.

Namun, tangisan yang ditampakkan dengan tampang politis tidak menarik simpatiku. Sebab, pemulung yang memilih menyembunyikan tangisannya, lebih menggugah kesadaran. Dan air mata yang disembunyikannya adalah banjir bandang yang mendobrak pertanyaan tentang keadilan. Apakah sebenarnya arti keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Aku juga pernah menonton sebuah berita, ada seorang ibu membunuh bayinya dengan kedua tangannya sendiri. Sewaktu ditanya mengapa ia tega melakukan perbuatan itu, ia menjawab dengan wajah yang memendam kepedihan: “Aku tak mau anak ini nanti hidup dan merasakan penderitaan seperti yang kurasakan”.

Banyak orang mencela dan mencaci dirinya. Sebagian bahkan menuduhnya gila. Namun, mereka tak melihat ada luka yang tersembunyi di baliknya. Ada hati yang telah rapuh dan patah. Ada air mata yang tersembunyi dan terpendam. Wajahnya menampakkan semua beban yang sangat berat. Kesunyiannya adalah letusan gunung api yang menghantam pertanyaan tentang keadilan. Adakah keadilan di negeri ini?

Ini hanyalah beberapa kisah dari ribuan kisah serupa yang terjadi di negeri ini. Anda pun dapat segera melihatnya di sekitar Anda, atau mungkin di dalam diri Anda sendiri.

Apa yang kutangkap sebagai benang merah dari semua kisah-kisah ini ialah: ada semacam perasaan ketidakadilan yang tak terucapkan. Bahwa di dalam negeri ini, banyak orang merasa hidup seorang diri. Menjalani hidup sendiri. Berjuang sendiri. Menanggung beban ekonomi sendiri. Kesendirian itu begitu sepi hingga tak ada tempat bagi mereka untuk bercerita. Tak ada tempat bagi mereka untuk sekadar mengadu jika beban hidup terasa begitu memberatkan hati. Tak ada tempat bagi mereka untuk mendapatkan keadilan. Tak ada orang yang menghukum para penjahat. Tak ada orang yang berlaku adil untuk membela mereka yang lemah dan miskin. Sementara para pejabat yang seharusnya mengayomi dan melayani mereka, hanya mementingkan diri sendiri dan memperkaya diri sendiri.

Apa yang membuatku merasa sangat sedih dan sekaligus marah, adalah karena kesendirian dan kesepian (yang telah menjadi semacam penyakit ini) bukanlah takdir Tuhan. Namun, tercipta dari konstruksi sosial dan kebijakan penguasa yang tak adil.

Semua kesendirian dan kesunyian yang terjadi ini, pertama-tama, bukan karena kita lemah. Namun, karena sejak awal tak ada tatanan sosial yang menjadi pijakan hidup bersama yang adil. Tanpa pijakan hidup bersama yang adil, maka kehidupan sosial hanyalah rantai makanan antara para individualisme. Kita semua berubah menjadi binatang buas yang saling memangsa satu sama lain. Dan binatang terbesar adalah elite pemerintah itu sendiri.

Bukankah negara ini terbentuk agar supaya terselenggara suatu kehidupan bersama? Agar supaya tak ada seorang pun lagi yang merasa hidup dalam kesendirian?

Bukankah persatuan kebangsaan adalah ikatan persaudaraan antara sesama manusia yang hidup di dalamnya? Agar supaya setiap orang menjadi anggota keluarga bagi yang lain, dalam satu rumah bersama, yaitu: Indonesia?

Kehidupan sosial menjadi renggang dan rapuh, bukan karena kita tak berdaya. Namun, karena negara tak mampu menjamin hidup bersama dalam suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Saya selalu bertanya-tanya, jika hidup hanyalah rantai kesendirian dan kesunyian yang mencekam, lantas apa guna adanya negara?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rampa-rampa

Kendali — Saya percaya Tidore itu banyak tempat…