Oleh : Teguh Barakati – Pegiat Literasi
Saya masih ingat betul, sekitar tahun 2012, waktu masih kuliah di Yogyakarta. Di rak Toko Buku Togamas, saya menemukan sebuah buku kecil karya Karlina Supelli, berjudul Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme. Waktu itu saya belum tahu kalau buku itu akan terus menghantui cara saya membaca zaman.
Karlina bicara tentang banyak hal, tapi satu bab yang paling nempel di kepala saya adalah soal budaya komentar. Ia bilang, kecepatan dunia digital membuat manusia modern jadi makhluk yang gampang sekali marah, gampang benci, dan gampang merasa paling benar. Dulu, komentar mungkin cuma muncul di kolom diskusi atau surat pembaca. Sekarang, komentar sudah menjelma jadi panggung utama peradaban.
Kita hidup di era ketika jempol lebih cepat dari pikiran.
Karlina membedakan antara masyarakat tahayul dan masyarakat ilmiah. Masyarakat tahayul percaya pada sesuatu tanpa refleksi, sementara masyarakat ilmiah berani meragukan dan berdialog. Tapi kalau lihat keadaan sekarang, dua-duanya kayaknya kawin silang. Rasionalitas campur emosi, data bersanding dengan perasaan, dan komentar jadi cara baru untuk menunjukkan eksistensi diri—bukan untuk memahami apa pun.
Contohnya gampang. Belum lama ini, media sosial di Maluku Utara mendadak panas. Gara-gara perdebatan antara anggota DPRD Nazla Kasuba dan Gubernur Sherly Tjoanda. Awalnya soal kebijakan, tapi seperti biasa, berubah jadi adu gengsi di ruang publik. Kritik dibalas pidato, pidato dibalas komentar, komentar dibalas makian. Lalu datanglah pasukan buzzer—prajurit digital yang paling rajin berperang tanpa tahu sebenarnya mereka sedang berperang untuk apa.
Kalau dibaca dari luar, semuanya tampak serius dan berargumen. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, isinya cuma tudingan, sentilan, dan kebanggaan semu. Kita berdialog tanpa mendengar, berdebat tanpa mencari kebenaran. Budaya komentar di media sosial sudah berubah menjadi budaya permusuhan.
Mungkin benar, seperti kata Karlina, tradisi pengetahuan kita berhenti pada bertutur, belum sampai pada berdialog. Kita senang bicara, tapi malas mendengar. Kita cepat bereaksi, tapi lambat merenung.
Sekarang, setiap kali buka media sosial, yang kita temukan bukan lagi percakapan, tapi parade klaim kebenaran. Semua merasa paling paham, paling peduli, paling waras. Tapi anehnya, di tengah semua “kepedulian” itu, empati justru makin hilang. Kita sibuk mengoreksi orang lain, tapi jarang mengoreksi diri sendiri.
“Pidato netizen” hari ini adalah bentuk baru dari orasi tanpa mikrofon: ramai, berisik, dan sering kali tidak menuju ke mana-mana.
Kita seolah hidup di zaman ketika yang penting bukan isi kepala, tapi seberapa keras kita bicara.
Yang menarik, Karlina sebenarnya sudah lama memperingatkan soal ini. Ia bilang, ketika ulama kehilangan kendali, tokoh masyarakat kehilangan kesadaran kultural, dan pengetahuan kehilangan daya reflektifnya—maka masyarakat sedang menuju kemunduran. Kalimat itu, kalau dibaca sekarang, rasanya seperti nubuat kecil tentang era medsos.
Sebab di dunia digital, semua orang bisa jadi ulama, bisa jadi ahli, bisa jadi pemimpin opini. Tapi yang jarang muncul adalah kesadaran kultural itu sendiri. Kita begitu cepat mengomentari, tapi lambat sekali memahami konteks. Kita begitu rajin share, tapi enggan menelusuri sumber.
Dan ironisnya, semua ini dibungkus dengan klaim moral. Semua merasa berpihak pada “yang benar”, padahal sering kali yang dibela cuma rasa sakit hati sendiri.
Ruang diskursus publik yang dulu diharapkan jadi tempat saling belajar, kini berubah jadi gelanggang pertarungan ego. Kita kehilangan substansi, kehilangan suri teladan, kehilangan kendali. Sementara di sisi lain, ruang politik membentuk identitas semu—semacam topeng digital yang hanya ingin tampil keren, ingin diakui, ingin viral.
Martin Heidegger, dalam buku Mistik Keseharian, pernah menulis bahwa manusia modern cenderung larut dalam kerumunan. Ia hidup dalam rutinitas yang banal, dan makin jauh dari dirinya sendiri. Dalam konteks hari ini, itu terdengar seperti deskripsi paling akurat tentang manusia media sosial. Kita bukan lagi diri kita sendiri, tapi cerminan dari apa yang ingin kita tunjukkan ke orang lain.
Kita pakai topeng digital—kadang sopan, kadang sinis, kadang heroik—tapi selalu ingin dilihat. Kita ingin tampak cerdas, tampak berani, tampak peduli, padahal sering kali cuma ingin engagement.
Dan dari situ, lahirlah semacam chaos kecil yang pelan-pelan membelah kita.
Saya jadi teringat lagi pada kalimat Karlina di buku itu: “Mengetahui batas pengetahuan adalah cara pertama untuk menentang fanatisme.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sulit dijalankan di zaman ketika semua orang merasa tahu segalanya.
Mungkin, tugas kita hari ini bukan lagi memperbanyak pidato, tapi memperlambat diri. Belajar untuk menahan jempol sebelum mengetik, menahan amarah sebelum berkomentar, menahan ego sebelum merasa paling benar.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukan seberapa banyak bicara, tapi seberapa dalam kita mau mendengar.
Dan kalau netizen hari ini punya pidato, mungkin isinya cuma satu kalimat: kita butuh dialog—bukan sekadar kolom komentar













