Opini

Lantang di Langit, Lumpuh di Bumi (Sebuah Refleksi atas Perayaan Maulid di Negeri Fagogoru)

1149
×

Lantang di Langit, Lumpuh di Bumi (Sebuah Refleksi atas Perayaan Maulid di Negeri Fagogoru)

Sebarkan artikel ini
M.Ruh ; Pegiat Filsafat

Oleh : M. Ruh – Pegiat Filsafat

Kelahiran Nabi itu membawa kebahagian bagi semesta

Example floating

sekaligus membawa kecemasan bagi seluruh penguasa yang lalim”

Maulid Nabi bukanlah sebuah perayaan yang selesai dengan pesta simbolik, bukan pula ritual tahunan yang cukup dirayakan dengan lantunan sholawat dan dzikir. Maulid adalah momentum profetik, sebuah peringatan yang memanggil manusia agar tak terjebak dalam nostalgia, melainkan berani melahirkan kembali spirit kelahiran Nabi dalam realitas sosial hari ini. Maulid adalah tanda keadilan telah datang untuk melawan ketidakadilan dan penindasan di bumi.

Perayaan di negeri Fagogoru dengan topeng Mef,Cokaiba,Cogo Ipa, dengan lidi yang menghantam tubuh, dengan rebana yang bertalu, dzikir yang menggema, dan sholawat yang membuncah, terlalu mudah jatuh menjadi sekadar tontonan folklorik. Padahal di baliknya tersembunyi pesan profetik yang jauh lebih mendalam. Lidih yang memukul tubuh bukan sekadar permainan tradisi. Ia adalah simbol keberanian menanggung sakit demi melawan penindasan. Tradisi ini bisa dibaca sebagai metafora perlawanan, bahwa suatu hari, rakyat Fagogoru harus berani memukul balik para penguasa yang bertindak sewenang-wenang terhadap kemanusiaan dan kelangsungan hidup dan kehidupan.

Rebana yang bertalu bukan sekadar bunyi ritmis, tetapi panggilan untuk teguh berdiri menghadapi kebenaran. Lantunan dzikir bukan sekadar repetisi lisan, melainkan kekuatan spiritual yang melatih keteguhan hati melawan kuasa tiran. Sholawat yang terucap bukan sekadar nyanyian kolektif, melainkan tekad untuk menegakkan keadilan. Semua itu hanya akan bernilai jika menjelma dalam laku sosial. Jika tidak, ia hanyalah estetika tanpa etika, sebuah perayaan yang kehilangan arah profetiknya.

Lebih jauh, tradisi “Fanten” dengan seluruh kekuatan simboliknya seharusnya dibaca ulang sebagai bagian penting dari Maulid. Fanten bukan sekadar akhir pertunjukan bersama di tenda jamuan dan saling berhadapan menabuh rebana dan sholawat, tetapi fanten adalah ritus sosial yang menyatukan jiwa, kesadaran, dan ingatan kolektif. Dalam Fanten terkandung pesan kebersamaan dan keberanian, keteguhan, dan solidaritas. Jika ia ditempatkan dalam kerangka Maulid yang lebih mendalam dan filosofis, Fanten bisa menjadi pengingat bahwa setiap tradisi, setiap gerakan, dan setiap ritme bukan hanya estetika, tetapi juga mengandung etika perjuangan. Ia adalah panggilan Nurani paling purba, agar masyarakat Fagogoru tidak berhenti pada keindahan bunyi dan gerak, melainkan melanjutkannya ke arah sikap hidup yang tegas, yaitu melawan penindasan, menjaga ruang hidup, dan membela martabat kemanusiaan untuk keadilan bagi seluruh.

Kondisi nyata hari ini membuat refleksi ini semakin mendesak. 11 orang Fagogoru ditahan, ruang hidup dihancurkan, tanah dan laut dirampas. Semua atas nama pembangunan. Tidakkah itu mengulang wajah-wajah zalim yang dahulu Nabi hadapi ketika Quraisy menindas kaum lemah. Sebagaimana sikap Nabi melawan struktur dominasi Quraisy, sedangkan kita merayakannya dengan pasrah pada struktur dominasi negara, yang berpihak pada kapital, penguasa yang menindas rakyat, dan agama yang sering dijadikan instrumen legitimasi. Maulid, yang seharusnya menjadi medan kesadaran dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, justru berubah menjadi panggung pertunjukan yang lumpuh dan bisu.

Kelahiran Nabi adalah kehadiran yang mengguncang tatanan tirani. Maka Maulid hari ini, jika benar dirayakan sebagai penghidupan kembali pesan Nabi, seharusnya menjadi perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, bukan sekadar pesta budaya yang selesai dipanggung pertunjukan.

Saya membayangkan sehelai lidih yang menghantam tubuh di keramaian seharusnya membuka kesadaran sejarah. Bahwa yang tampak sebagai permainan tradisi dapat menjadi refleksi simbolik untuk hari ini untuk memukul mundur penindas, kesanggupan menanggung sakit demi kemerdekaan, dan komitmen untuk tidak tunduk kepada kuasa zalim. Inilah pesan profetik yang telah diabaikan.

Perlu juga untuk diingat bahwa setiap hari sejatinya adalah Maulid. Setiap waktu adalah kelahiran baru bagi kesadaran profetik dalam diri kita. Selama masih ada manusia yang ditindas, selama masih ada ruang hidup yang dirampas, selama penguasa masih berkhianat kepada sejarah, Maulid belum pernah selesai. Ia bukan sekadar perayaan masa lalu, melainkan tugas yang terus diperbarui untuk menyalakan api keadilan, menghapuskan penindasan dan menjaga martabat kemanusiaan.

Jika Maulid di negeri Fagogoru hanya menjadi pesta simbolik tanpa kesadaran sejarah, maka kita sedang mereduksi kelahiran Nabi menjadi sekadar seremonial. Tetapi jika Maulid dipahami sebagai panggilan profetik, ia akan menjelma sebagai keberanian kolektif untuk berdiri tegak menegakkan kebenaran, menolak ketidakadilan, dan menjaga martabat manusia di negeri ini. Inilah tugas abadi umat manusia yang mengaku mencintai Nabi dan bukan hanya dzikir dan sholawat kita yang lantang dilangit, tapi sikap kita terhadap kebenaran, keadilan dan kemanusian lumpuh di bumi.

Selamat memperingati Maulid Nabi SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example floating