News

Seni dan Budaya Tidore: Warisan yang Harus Dijaga, Bukan Sekadar Ditonton

150
×

Seni dan Budaya Tidore: Warisan yang Harus Dijaga, Bukan Sekadar Ditonton

Sebarkan artikel ini
Walikota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, SE turut melakukan atraksi Ciru Igo (Cukur Kelapa) usai membuka Pentas Seni Budaya yang digelar oleh Sanggar Eli Marasai Seli.

Kendali- Seni dan budaya bukan sekadar tontonan seremonial, tapi warisan berharga yang harus dirawat dan diwariskan. Begitulah pesan kuat yang digaungkan Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, saat membuka secara resmi kegiatan pelestarian kearifan lokal di Kelurahan Seli.

Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penjaga tradisi. “Budaya adalah tameng menghadapi perubahan zaman. Mari jadikan momentum ini untuk membangkitkan kembali seni dan budaya Tidore sebagai jati diri yang membanggakan,” ujar Muhammad Sinen di hadapan warga dan para pelaku seni.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Tidore untuk bergandengan tangan menjaga warisan para leluhur. “Saya dan Pak Wakil Wali Kota Ahmad Laiman tetap optimis, meski Tidore tidak punya sumber daya alam yang melimpah. Tapi kekompakan masyarakat dan kekayaan budaya yang kita punya bisa jadi kekuatan bersaing, bahkan hingga ke tingkat nasional,” tegasnya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Provinsi Maluku Utara, Winarto. Ia menyebut dukungan Pemerintah Kota Tidore terhadap pelestarian kebudayaan sebagai hal luar biasa. “Kami dari Balai akan terus mendampingi, termasuk mendukung pengembangan cagar budaya dan sanggar seperti Eli Marasai di Kelurahan Seli ini,” ujarnya.

Winarto juga memuji antusiasme anak-anak muda yang tampil sebagai penerus tradisi. “Anak-anak di Kelurahan Seli adalah bukti bahwa budaya masih punya masa depan di tangan generasi muda,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Ratna Jamaludin, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembinaan dan ekspresi bagi generasi muda. “Kami ingin menanamkan rasa memiliki terhadap budaya lokal, sekaligus memberi ruang kepada anak-anak sanggar untuk berkreasi dan tampil percaya diri,” kata Ratna.

Pentas seni yang digelar di tepi Pantai Seli ini berlangsung selama dua malam, menampilkan ragam tarian khas Tidore dan pertunjukan budaya yang menghidupkan kembali kekayaan lokal. Sebuah upaya kecil tapi bermakna untuk mengukuhkan Tidore bukan hanya sebagai kota sejarah, tetapi juga sebagai rumah budaya yang terus menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *